Ketika kesadaran kebangsaan tumbuh perlahan. Batavia, awal abad ke-20. Pagi turun pelan di kota pusat pemerintahan Hindia Belanda. Debu jalan masih tipis diterpa cahaya matahari. Kereta kuda lalu lalang membawa barang dagangan. Bangunan-bangunan besar bergaya Eropa berdiri angkuh, seolah ingin berkata bahwa tanah ini bukan milik mereka yang lahir di atasnya.
Di kawasan Weltevreden, sebuah distrik penting di kota kolonial Batavia, berdiri sebuah bangunan dengan dinding tebal dan halaman luas. Arsitekturnya megah tapi terkesan dingin. Dari luar, tak ada yang tampak istimewa. Tapi di dalamnya, sejarah sedang diam-diam bergerak pelan.
Bangunan itu bernama STOVIA — School tot Opleiding van Inlandsche Artsen — sekolah kedokteran untuk pribumi yang dibuka pemerintah kolonial pada 1 Maret 1902. Tempat di mana anak-anak muda dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan koper sederhana, rindu kampung halaman, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Baca juga: Optimisme Pusaka Indonesia Sebagai Pemberi Solusi Lewat Aksi Nyata
Gedung tersebut, masih berdiri sampai hari ini di Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh No. 26, Senen, Jakarta Pusat.
Di sekolah itu, dulu mereka belajar tentang tubuh manusia. Tentang tulang, darah, penyakit, dan cara menyembuhkan luka. Mereka ditempa menjadi dokter-dokter terampil yang kelak akan sangat dibutuhkan.
Tapi tanpa disadari, ada pelajaran lain yang jauh lebih besar dari anatomi. Pelajaran yang tidak pernah tertulis di silabus mana pun.
Di luar tembok STOVIA, kehidupan Batavia berjalan biasa saja. Pedagang teh berseru pelan. Kereta uap berdentang di rel. Orang-orang berjalan tanpa tergesa. Tidak ada teriakan revolusi. Tidak ada asap dari api perjuangan yang terlihat di udara.
Semuanya tampak normal. Tapi justru karena itulah, kegelisahannya terasa semakin jelas.
Baca juga: DAPAT APA DI PERKUMPULAN PUSAKA INDONESIA?
Di malam hari, setelah lampu kelas diredupkan dan halaman sekolah lengang, para mahasiswa sering berkumpul. Duduk bersama dalam obrolan pelan yang makin lama makin serius. Mereka mulai bertanya. Pertanyaan yang awalnya kecil, lalu perlahan membesar:
“Kenapa kita belajar menyembuhkan tubuh manusia, tapi tidak bisa menyembuhkan keadaan bangsa kita sendiri?”
“Kenapa kita dididik menjadi dokter terampil, tapi tetap dipandang rendah di tanah kelahiran kita?”
“Kenapa kita pintar, tapi tidak merdeka sebagai manusia?”
Pertanyaan-pertanyaan itu diucapkan dalam nada lirih yang dalam. Nada yang pelan, tapi mengubah cara mereka melihat diri sendiri.
Di sanalah, di lorong-lorong STOVIA, di ruang anatomi, di asrama yang sunyi, tumbuh sesuatu yang tidak terlihat mata, tapi terasa jelas di hati para pemuda itu. Kesadaran bahwa mereka punya martabat sebagai bangsa, bukan sekadar murid di sekolah kolonial.
Mereka mulai menyadari bahwa pendidikan seharusnya punya tanggung jawab moral. Bukan hanya untuk karier pribadi, tapi untuk tanah air yang mereka tinggalkan jauh di kampung halaman.
Mereka datang ke STOVIA sebagai murid. Perlahan, mereka mulai berpikir sebagai anak bangsa.
Dari percakapan-percakapan sunyi, lahir keinginan yang lebih besar dari sekadar cita-cita pribadi. Keinginan untuk melakukan sesuatu. Keinginan yang membuat pertanyaan-pertanyaan itu tidak lagi menggantung di udara, tapi mulai mencari bentuknya. Dan dari kegelisahan itulah, kelak akan lahir sebuah organisasi.
Organisasi yang kemudian dikenang sebagai tonggak awal Kebangkitan Nasional: Budi Utomo.
Semua itu dimulai dari bisikan hati anak-anak muda… di balik dinding STOVIA.
Thomas Theo Roberto
Kader Pusaka Indonesia wilayah DI Yogyakarta
Daftar referensi:
- STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) — sejarah sekolah kedokteran pribumi di Batavia
- Museum Kebangkitan Nasional — sejarah gedung bekas STOVIA dan perannya dalam lahirnya Budi Utomo
- STOVIA, sekolah kedokteran zaman Hindia Belanda — artikel naratif Kompas tentang STOVIA dan konteks Batavia saat itu
Sumber foto: universiteitleiden.nl
Reaksi Anda:



