Bisa dilihat dengan jujur bahwa saat ini masalah kebangsaan sangat kompleks, baik itu ideologi, budaya, ekonomi, maupun lingkungan. Lewat berbagai obrolan keseharian maupun lewat media sosial, tentu banyak orang yang terlihat marah, merasa kecewa, bahkan putus asa pada berbagai masalah yang dihadapi di negeri ini. Menunggu ujung pangkal penyelesaiannya bagai pungguk merindukan bulan.

Komunitas Pusaka Indonesia Gemah Ripah berdiri di tahun 2020, dengan tujuan sebagai wadah  untuk bersumbangsih, serta berbakti kepada negara dan bangsa. Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro menyampaikan bahwa lewat komunitasnya ia menghidupkan kembali semangat Trisakti yang dulu pernah digagas Bung Karno; berbudaya sesuai jati diri, berdaulat secara politik, dan berdikari secara ekonomi.

Baca juga: DAPAT APA DI PERKUMPULAN PUSAKA INDONESIA?

Namun, komunitas Pusaka Indonesia memilih untuk tidak ikut larut menyalahkan atau mengutuk siapa pun. “Di tengah semua itu, kita ini punya pilihan: ikut marah, frustasi, kecewa, atau kita tetap menyalakan api optimisme lalu berbuat sesuatu. Bagaimanapun juga kalau kita bicara tentang waktu, masa depan, semua itu adalah samudra kemungkinan. Apa yang akan terjadi tergantung dari pilihan kita bersama. Kalau kita hanyut dengan segala negativitas, apa yang ditakutkan akan terjadi. Tetapi kalau kita mau menyalakan terang dengan membangun optimisme bersama pasti ada keajaiban untuk membuat hidup tidak sepahit yang kita pernah bayangkan atau kita takutkan”, jelas Setyo.

Dalam kontribusi perbaikan pada cakupan terkecil, Pusaka Indonesia bergerak pada bidang yang sanggup dilakukan. Menjadi kontributor solusi terbaik sesuai dengan kapasitas saat ini. Kegiatan yang dilakukan sejalan dengan rumus Tri Sakti Bung Karno di berbagai lini pergerakan komunitas. Seperti mengembangkan kembali seni budaya daerah, kewirausahaan, pengembangan pertanian ramah lingkungan dan gerakan-gerakan perbaikan lingkungan. 

“Kegiatan yang dilakukan intinya membuat kita tidak hanya mengeluh, tidak hanya mengutuk, tapi berbuat sesuatu untuk memperbaiki apa yang memang kita bisa perbaiki”, ungkapnya.

Baca juga: Renaissance

Salah satu prioritas komunitas adalah menghidupkan kembali kesadaran Pancasila sebagai dasar negara. Filosofi yang luhur dari bangsa, landasan kehidupan pribadi maupun berbangsa bernegara. Di bidang seni budaya, ada pagelaran seni yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun untuk mengingatkan kembali keindahan dan keluhuran budaya Indonesia kepada bangsa sendiri. Serta sebagai bentuk diplomasi budaya di mata dunia. 

Dalam keberdikarian ekonomi, Pusaka Indonesia memiliki sekolah kewirausahaan. Terdapat berbagai divisi yang mengasah keterampilan vokasional, menyelami budaya lokal, seperti belajar tentang batik, mengenal herbal, dan kegiatan bertani yang ramah lingkungan. Saat ini Pusaka Indonesia sedang mengembangkan gerakan menanam di polybag, dalam Program Sentra Polybag Sigma (SPS), di banyak tempat supaya halaman-halaman yang kecil bisa bermanfaat. 

“Jadi kita masuk ke hal-hal seperti itu karena isu sebesar apa pun yang bisa kita tangkap kalau kapasitas tidak memadai, kita cuma bisa jadi komentator enggak bisa ngapa-ngapain,” tegasnya.

Tahun 2026 ini tentu masih ada banyak tantangan. Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro, kembali mengingatkan tentang pilihan ada di tangan kita masing-masing. Apakah akan menjadi penonton, pengutuk keadaan, atau menjadi bagian dari pemberi solusi? 

“Kalau kita menjadi pemberi solusi maka kita adalah patriot, kita adalah pahlawan yang nyata di masa kini. Kami di Pusaka Indonesia memilih menjadi pahlawan itu, meskipun tidak harus disebut pahlawan, tapi kami ingin menjadi orang yang dicatat di dalam sejarah sebagai orang yang memberikan manfaat buat kehidupan. Memberikan sesuatu yang berguna buat negara dan bangsa. Tidak merusak, tapi memperbaiki. Tidak sekadar mengutuk, tapi kita membangkitkan harapan dan menunjukkan solusi nyata untuk masa depan yang lebih baik. Saya mengajak siapa pun juga yang terketuk hatinya, mari lakukan kebaikan buat bangsa ini. Nyalakan api harapan, tunjukkan bahwa masih banyak orang baik di republik ini. Kita pasti akan selamat bersama-sama di tahun 2026 maupun di tahun-tahun selanjutnya,” pungkasnya.

Disarikan dari siaran Ketua Umum Pusaka Indonesia pada siaran RRI tanggal 2 Januari 2026

 

Kadek Rinawati
Kader Pusaka Indonesia wilayah Bali dan sekitarnya

Reaksi Anda:

Loading spinner