Skip to main content

Ki Hajar Dewantara mempunyai visi Pendidikan dan Pengajaran yang memerdekakan dengan mendirikan Taman Siswa, tidak bergantung pada penjajah  Belanda. Banyak perjuangan beliau dalam melawan penjajah Belanda, tidak dengan perang angkat senjata, tetapi dengan goresan pena dan tindakan nyata memajukan bangsa dengan mendidik. Melawan dengan pemikiran jenius.

Semula tiga pokok pemikiran Ki Hajar Dewantara yang selalu saya hafalkan hanya untuk ulangan dan ujian sekolah. Kini saya terhenyak untuk memahami, ingin mengerti lebih mendalam setelah dimulainya kursus online Pemikiran Jenius Para Pendiri Bangsa Bagian 2.

Saya mengambil 3 pokok pemikiran beliau yang menginspirasi, yakni :

  1. Ing Ngarsa Sung Tulada : menjadi pemimpin/guru  harus mampu memberikan  keteladanan
  2. Ing Madya Bangun Karsa : ditengah atau di antara murid, pemimpin/guru harus mampu menciptakan prakarsa atau ide
  3. Tut Wuri Handayani : dari belakang, pemimpin/guru harus memberi dorongan atau arahan/semangat kerja.

Idealitas dan Krisis Kepemimpinan dalam Dunia Pendidikan

Jika ajaran Ki Hajar Dewantara diterapkan dalam keheningan, idealnya seorang pendidik memiliki peran dan tanggung jawab dalam memberi teladan yang baik terhadap anak didik. Sangat lumrah arti peribahasa jawa ‘guru digugu lan ditiru’.  Kini di Indonesia perilaku ini sangat langka. Akibat materialisme, telah mengalami depresiasi keteladanan pemimpin/Guru. Akibat hasrat egoistik, terjadilah inkonsisten dalam kepemimpinan. Solusi tetap dengan hening, kemudian dapat mengambil tindakan yang lebih selaras.

Pemimpin/pendidik mesti mampu menciptakan prakarsa atau ide, agar dapat dilaksanakan oleh anak didik secara nyata, realis tanpa ambisi dan keserakahan. Tetap dalam praktik dimulai dengan hening, menjaga harmoni dan kesetaraan dalam segala aspek. Ini juga menjadi PR besar di negeri ini, di mana seringkali guru hanya memberikan materi, teori, dan kurang bisa berinovasi dalam mengajar, apalagi membuat anak didiknya inovatif.

Pemimpin/pendidik mesti mampu memberi dorongan moral, penuh keikhlasan ketulusan kepada anak didik agar masing-masing menemukan bakat talenta sesuai Rancangan Agung Semesta. Namun mirisnya, seringkali terjadi banyak siswa yang mengalami disorientasi meskipun sudah bersekolah hingga SMA, mereka tidak tahu talentanya, mereka belum punya gambaran akan menempuh jalan apa selanjutnya. Sekolah hanya menjadi tempat mencari ijazah dan nilai akademik.

Penerapan Ajaran Ki Hajar Dewantara

Saya mencoba menerapkan apa yang menjadi esensi ajaran Ki Hajar Dewantara dari skala kecil yaitu keluarga, misalnya dengan memberi ruang kebebasan dalam memilih bidang pendidikan dan profesi pada anak-anak sesuai pilihan dan talenta masing-masing anak,  memberi ruang bermain seluas-luasnya. Sebagaimana naluri seorang anak, yaitu Bermain tetapi tidak main main. Mereka serius mengembangkan talentanya. Hingga saat ini yang  berkecimpung di dunia pendidikan adalah anak kedua kami. Dia menjadi dosen di salah satu universitas swasta di kota Bandung, selain menekuni profesinya sebagai seniman cahaya (Light Art).

Cucu saya juga demikian, mulai sekolah PAUD di Bright School yang berbasis sistem pendidikan Montessori, ternyata mengidolakan Ki Hajar Dewantara. Yang mana memasang Quote KHD di Sekolahnya,  yaitu : Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidikan hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

Sedangkan penerapan yang lebih luas, saya alami sendiri di Komunitas Persaudaraan Matahari di bawah asuhan Mas Guru Setyo Hajar Dewantoro. Nama yang mirip, dengan tujuan yang mirip, yaitu memerdekakan jiwa dan mencapai versi terbaik diri. Di Persaudaraan Matahari terdapat program Kepamomongan. Ada dua  prinsip utama (idealisme Ki Hajar Dewantara yang dipakai), yaitu among dan pamong’.  Prinsip among menempatkan siswa sebagai target serta prioritas utama yang harus dilayani. Prinsip pamong menitikberatkan tugas utama sebagai pendidik  untuk memberi fasilitas, motivasi, inspirasi, dan kondisi bagi siswa untuk belajar sesuai keinginan dan kemampuan belajar secara individu.

Inilah cikal bakal bangkitnya kembali pendidikan sumber daya manusia dengan model yang dirintis Ki Hajar Dewantara. Semua berlandaskan hening cipta. 

Kini telah banyak kegiatan pembelajaran maupun praktik nyata berkarya dengan landasan hening cipta yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pusaka Indonesia, seperti Ngaji Pancasila, Kegiatan Hening Cipta di Sekolah, kursus seni tari, Social Entrepreneur Academy, Sigma Farming Academy,  dan kegiatan sos-bud-pol-ek lainnya. Semua berbasis HENING dan BERKARYA NYATA.

Kelak senyatanya tentu Mas Guru SHD akan  mewujudkan semacam Taman Siswa, menegakkan prinsip Pamong dan Among dalam pendidikan dan pengajaran. Suatu oase Bumi Surgawi yang nyata. Terjadilah, Terberkatilah.

 

Pande Made Oka Iriana

Peserta Kursus Online Pikiran Jenius Para Pendiri Bangsa #2

Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali

Keterangan Foto: Taman Siswa Yogyakarta, Sumber: Kemendikbud