Sigma Farming Academy (SFA), Sub Bidang di bawah naungan Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Pusaka Indonesia, mengembangkan riset sorgum organik di lahan kritis. Metode tanam yang digunakan adalah Sigma Farming, sebuah sistem pertanian organik selaras alam yang dikembangkan oleh Pusaka Indonesia. Sigma Farming mengintegrasikan berbagai metode pertanian organik seperti permakultur, biodinamik, agroekologi, dan metode pertanian organik lainnya. Selain untuk menghasilkan tanaman sehat, Sigma Farming juga bertujuan untuk memulihkan tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetik.

Gerakan ini dimulai dengan menggarap lahan rusak bekas galian tambang di Cibulan, Jawa Barat. Penanaman benih awal dimulai 2 Agustus 2025. Jenis sorgum yang ditanam adalah sorgum merah (Sorghum bicolor) dengan masa tanam sekitar 7 bulan. Pada 6 Desember, saat tanaman sorgum memasuki usia 4 bulan, sebagian tanaman dipanen sebagai bagian dari uji coba pertumbuhan di lahan riset tersebut.

Dengan metode Sigma Farming ini, ada beberapa tahapan proses yang dilakukan. Langkah pertama diawali dengan perendaman biji sorgum dalam larutan vortex. Perendaman ini dilakukan agar biji sorgum lebih cepat berkecambah. Namun jika belum memiliki larutan vortex, biji sorgum bisa direndam dengan air biasa selama kurang lebih 15 – 30 menit.

Larutan vortex dibuat dengan komposisi  berupa:  Bakteri Pemulih Tanah (BPT) Sigma 1 dan 2 sebanyak masing-masing 7 gram, yang dimasukkan ke dalam 12 liter air. Campuran ini kemudian diaduk satu arah hingga membentuk pusaran kemudian setelah terbentuk pusaran. Cara ini akhirnya membangunkan bakteri yang ada di dalam BPT Sigma 1 dan 2. 

Kader Pusaka Indonesia sedang melakukan riset menanam sorgum

Kader Pusaka Indonesia sedang melakukan riset menanam sorgum

Baca juga: Inovasi Baru dalam Pembuatan Bakteri Pemulih Tanah (BPT) Sigma Farming

Langkah berikutnya adalah memastikan tanah yang akan ditanami telah bersih dari gulma. Setelah digemburkan dan diberi kompos, lubang tanam bisa dibuat dengan jarak 40 cm atau 2 jengkal tangan. Setiap lubang bisa diisi dengan 3 biji sorgum. Setelah itu lubang tanam ditutup kembali dengan tanah atau kompos dan disiram dengan air.

Pada dasarnya sorgum memiliki daya adaptasi tinggi dan mampu bertahan di tengah gempuran cuaca panas dan kekeringan. Tanaman ini bisa tumbuh di belahan bumi mana pun dan tidak membutuhkan perawatan yang rumit seperti halnya gandum dan padi. Namun, karena riset ini dilakukan pada tanah yang rusak, maka diperlukan perawatan khusus terhadap lahan tanam agar layak untuk digunakan. Amunisi maupun pupuk ala Sigma Farming yang digunakan dalam penelitian ini dibuat sendiri oleh para kader Pusaka Indonesia, dengan memanfaatkan bahan-bahan alami. Misalnya asam amino yang terbuat dari limbah hewani, liquid manure yang terbuat dari isi rumen sapi, kotoran sapi, dan bahan-bahan lainnya. 

Baca juga: Kukis Sorgum, Camilan Sehat untuk Ketahanan Pangan

Tertarik untuk ikut berkontribusi dan berdonasi dalam usaha untuk menciptakan keberdikarian pangan dan memulihkan tanah Indonesia? Hubungi Pusaka Indonesia melalui Facebook, Instagram, dan Website Pusaka Indonesia.

 

Ni Wayan Agustini
Kader Pusaka Indonesia wilayah Bali

Reaksi Anda:

Loading spinner