Urban farming tidak hanya menghadirkan sayuran segar di halaman rumah, tetapi juga menjadi aktivitas yang membantu pikiran beristirahat dari kepadatan hidup perkotaan. Trend urban farming sebenarnya sudah muncul sejak belasan tahun silam. Tujuannya pun mengalami pergeseran. Pada tahun 1998 urban farming menjadi sebuah mekanisme bertahan hidup di tengah krisis moneter, kini urban farming hampir menjadi sebuah gaya hidup atau metode untuk mengatasi stress dan menjaga kesehatan mental.
Di Jakarta, urban farming menjadi salah satu program pemerintah provinsi. Sayangnya, masih sebagian kecil warga kota yang menerapkannya. Berdasarkan data yang diperoleh dari sensus pertanian BPS pada 2023, jumlah pelaku urban farming di Jakarta mencapai 13.416 orang, dengan jumlah hasil panen tanaman hortikultura sebesar 133.586 ton. Lahan yang dimanfaatkan terdiri dari lahan tidur, gang, hingga atap gedung (rooftop) dengan total luasan kurang lebih 106 hektare. Mereka tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu.
Angka 13.416 tersebut, menunjukkan bahwa urban farming sudah semakin populer. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta secara keseluruhan, persentasenya masih sangat kecil. Dengan total jumlah penduduk DKI Jakarta sebanyak 11,2 juta jiwa, maka pelaku urban farming hanya sebanyak 0,43% saja dari total jumlah penduduk. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan kota-kota besar di negara lain, seperti Singapura yang konon mencapai 15% dan Tokyo sebesar 30%.
Mengapa urban farming penting? Saat ini, nilai urban farming sudah lebih dari sekadar gaya hidup. Urban farming adalah sebuah aktivitas yang membutuhkan kesadaran, bahwa segala perubahan, harus dimulai dari hal-hal kecil, dari diri kita masing-masing. Urban Farming kini menjadi sebuah jalan keluar.
Baca juga: Sentra Polybag Sigma: dari Pekarangan untuk Dapur Keluarga
Ruang Grounding untuk Menjaga Kesehatan Mental
Menanam tanaman pangan menghadirkan sebuah nilai yang berbeda. Sebab kita harus memulainya dari sebuah biji. Menyaksikannya merekah dan bertunas jadi kecambah, sebelum membesar dan batangnya cukup kuat menopang buah. Buah yang masak pohon kemudian siap dikonsumsi.
Dari proses menyiapkan media tanam, menyemai benih hingga memanen tentu membutuhkan kesabaran. Ada sebuah proses di sana, yang kita saksikan perlahan dan penuh penghayatan. Yang mungkin saja akan membangkitkan sebuah rasa syukur atas keajaiban terciptanya sebuah makanan, hingga tersaji di meja makan. Dengan cara ini, kita akan bisa lebih bersyukur atas makanan yang tersedia untuk kita makan.
Teori Biophilia yang dipopulerkan pada 1984 oleh Edward O Wilson, seorang ahli biologi dari Harvard mengungkapkan, manusia memiliki kecenderungan secara natural terkoneksi dengan alam. Konon, manusia memiliki ketertarikan alami pada sesuatu yang tumbuh. Maka, berada di sebuah lingkungan hijau bukan untuk estetika semata, melainkan kebutuhan biologis dan psikologis yang mendukung kesehatan mental.
Mendukung Ekonomi Sirkular
Ekonomi Sirkular sedang menjadi isu hangat dan banyak dikampanyekan. Ini adalah sebuah konsep ekonomi berkelanjutan, di mana kita meminimalkan produksi limbah dan mempertahankan nilai sebuah produk selama mungkin. Konsep ini mendorong sistem daur ulang dan menggunakan kembali produk dengan menerapkan metode 5R (Rethink, Reduce, Reuse, Recycle, Recovery).
Pernahkah kita benar-benar merenungkan ada berapa banyak sampah yang kita hasilkan setiap hari? Dengan melakukan urban farming, limbah rumah tangga yang kita hasilkan dari dapur tidak harus berakhir di TPA. Limbah-limbah itu, dapat kita olah menjadi kompos, dan berakhir dalam pot tanaman. Lebih hemat, sekaligus sehat. Bayangkan jika semua rumah tangga melakukan hal tersebut. Kita tidak perlu pusing dengan tumpukan sampah yang volumenya sudah semakin meningkat.
Baca juga: 3 Ilmu Kunci Bertani Organik di Rumah
Pusaka Indonesia dan Urban Sigma Farming
Pusaka Indonesia selaku sebuah perkumpulan kebangsaan yang salah satu fokusnya adalah pemulihan lingkungan, turut mendorong praktik urban farming. Pusaka Indonesia menerapkan metode pertanian organik selaras alam yang diberi nama Sigma Farming. Metode ini telah diterapkan di sejumlah wilayah dalam membentuk kebun-kebun organik yang diberi nama kebun surgawi. Di perkotaan, Pusaka Indonesia bekerjasama dengan berbagai komunitas dalam menyelenggarakan pelatihan urban farming. Termasuk di antaranya kolaborasi dengan Bright Squad, sebuah komunitas asuhan Professor Sastia Putri, seorang ahli mikrobiologi dari Universitas Osaka, Jepang, lewat pelatihan bertajuk Grow and Glow yang diselenggarakan di Jakarta pada 29 Maret 2026.
Kepala Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Pusaka Indonesia, Niniek Febriany mengungkapkan, Urban Farming, tidak hanya membekali keterampilan menanam, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesehatan, keberlanjutan, dan hubungan manusia dengan alam dalam kehidupan sehari-hari. “Praktek menanam yang sederhana, reflektif, dan menenangkan, adalah bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup di tengah hiruk-pikuk kota,” ucap Niniek.
Pusaka Indonesia berharap, kolaborasi dengan sejumlah pihak dan komunitas dapat memperluas kesadaran masyarakat perkotaan untuk menerapkan urban farming. Bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga untuk mendukung perbaikan lingkungan, ekonomi sirkular, sekaligus sebagai salah satu upaya grounding: menciptakan ruang hijau di tengah hutan beton. Sebab, urban farming lebih dari sekedar bercocok tanam sayuran di dalam pot. Urban farming adalah sebuah upaya sadar kita sebagai manusia untuk terkoneksi dengan alam, di tengah lingkungan dan kehidupan yang serba cepat tanpa jeda.
Aniswati Syahrir
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten
Daftar Referensi:
- https://sipsn.kemenlh.go.id/sipsn/public/data/komposisi
- https://jakarta.bps.go.id/id/pressrelease/2023/12/04/1090/hasil-pencacahan-lengkap-sensus-pertanian-2023—tahap-i-provinsi-dki-jakarta.html
- https://silika.jakarta.go.id/
- https://www.tempo.co/info-tempo/hasil-urban-farming-pada-era-pj-gubernur-heru-meningkat-drastis-24560
Reaksi Anda:




