Acara Women Forest Defender yang diselenggarakan oleh Seniman Pangan pada Sabtu, 10 Januari lalu memberikan beberapa catatan pembelajaran. Bukan hanya tentang bagaimana lingkungan harus dijaga untuk keberlanjutan sumber pangan, tetapi juga tentang bagaimana peran besar perempuan adat di balik itu. 

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah perwakilan komunitas perempuan adat dari Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, dan Sumatra Selatan. Di samping itu, juga hadir beberapa chef nasional maupun internasional yang memiliki komitmen untuk membumikan pangan lokal. Beberapa catatan yang menjadi pembelajaran adalah sebagai berikut: 

  1. Ternyata, perempuan lebih kuat ketimbang laki-laki dalam menjaga sumber daya alam 

Budaya patrilineal yang sudah sangat mengakar di masyarakat kita, telah melahirkan stigma tentang perempuan yang lemah. Laki-laki dianggap lebih kuat dan lebih berdaya. Namun pada kenyataannya, ketika kita berbicara tentang bagaimana menjaga hutan yang menjadi sumber pangan, ini bukan tentang otot. Ini tentang semangat dan keyakinan. Perempuan menjaga hutan tidak hanya dengan tenaganya, melainkan juga dengan kasih. Lembut, namun tidak bisa ditawar. 

Hal ini tentunya berkaitan dengan bagaimana peran perempuan di sektor domestik. Perempuan lebih banyak berperan dalam hal mengolah makanan untuk keluarga di dapur. Maka, perempuan tahu bagaimana menjaga sumber daya alamnya. Karena menjaga sumber daya alam berarti menjaga sumber makanan untuk keluarga.

  1. Penjaga hutan terbaik adalah masyarakat adat setempat 

Kondisi sebuah kawasan, hanya bisa dikenali dengan baik oleh masyarakat setempat yang tinggal dan mengelola kawasan tersebut. Mereka tahu dan paham setiap lekuk kawasan hutan. Mereka tahu bagian mana yang harus dikelola untuk kehidupan, dan bagian mana yang harus dijaga dan dipertahankan. Maka, sudah sewajarnya jika pengelolaan dan pelestarian suatu kawasan hutan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat adat setempat tanpa adanya intervensi dari pihak luar, demi kelestarian dan keberlanjutannya.

  1. Tak hanya sumber pangan, hutan juga menyediakan bahan baku kerajinan tangan yang menunjang ekonomi 

Selain pangan, hutan juga menghasilkan berbagai bahan baku non-kayu bagi masyarakat adat dalam membuat produk yang bernilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan. Di tengah maraknya produk kerajinan maupun perabot rumah tangga berbahan dasar sintetis, produk yang dihasilkan masyarakat dengan bahan baku asli dari hutan, tentu menjadi pilihan bijak. Apalagi, bahan baku yang diperoleh dari hutan yang masih terjaga, tanpa menebang pohon yang berpotensi mengubah biodiversitas, tentu memiliki jaminan kualitas yang lebih bagus dan tidak merugikan kesehatan. 

Di samping itu, produk-produk yang ramah lingkungan, tidak menghasilkan sampah yang berpindah ke daerah lain. Misalnya, ketika kita menggunakan produk berbahan sintetik, maka begitu produk tersebut berpindah, hal tersebut berarti kita membawa sampah ke daerah lain. Hal ini berbeda dengan produk-produk ramah lingkungan. 

  1. Pangan lokal yang kita abaikan, seringkali dipuja di negeri lain

Kalimantan memiliki tempoyak, makanan tradisional dari fermentasi buah durian. Nusa Tenggara memiliki kelor (Moringa oleifera) dan kemiri (Aleurites moluccanus). Papua memiliki kulit kayu masoi (Cryptocarya massoia). Maluku Utara memiliki lemon cui (Citrus microcarpa). Semuanya adalah kekayaan pangan yang kita miliki, namun seringkali kita abaikan. Saat kita lebih memuja makanan modern yang diproduksi dengan cara khas ala Barat atau Korea, justru pangan lokal kita diminati oleh bangsa lain. 

Salah satu contohnya adalah lemon cui yang banyak tumbuh di Halmahera, Maluku Utara. Masyarakat kita lebih akrab dengan lemon california, tapi lemon cui justru banyak dicari oleh masyarakat Jepang. Kita juga tentu masih ingat bagaimana tanaman kelor tiba-tiba menjadi viral karena ternyata memiliki kandungan ajaib untuk kesehatan, sehingga permintaan ekspor meningkat. 

Hal terpenting adalah, seluruh bahan pangan tersebut, hanya bisa lestari ketika hutan-hutan kita masih terjaga. Hilangnya hutan, selain berdampak pada hilangnya sumber pangan sehat, juga menghilangkan berbagai jenis flora fauna endemik yang juga berdampak pada hilangnya bahan baku obat-obatan dan kosmetik.

  1. Pangan lokal dan ekologi adalah satu kesatuan

Banyak tanaman lokal yang tumbuh di hutan-hutan, yang justru menjadi sumber makanan utama bagi hewan-hewan endemik di negara kita. Misalnya, burung jenis paruh bengkok yang hidup di Nusa Tenggara, memperoleh makanan dari pohon kenari dan kemiri yang tumbuh di hutan. Penguatan tata kelola hutan akan menguatkan biodiversitas, mempertahankan fungsinya, dan memastikan hewan-hewan endemik yang eksotik itu tetap lestari.

  1. Pentingnya kolaborasi dan komitmen pemerintah

Ketika perempuan dan masyarakat adat telah berkomitmen dalam pengelolaan sumber daya alamnya secara berkelanjutan, maka hal penting lainnya yang tidak bisa dikesampingkan adalah kolaborasi dengan pemerintah setempat. Masyarakat mengelola di tingkat tapak, pemerintah berperan dalam hal kebijakan yang mendukung. Pemerintah juga semestinya mendukung dalam hal perluasan akses jejaring pemasaran produk-produk yang dihasilkan masyarakat adat. 

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan rumah kita masih banyak. Tidak hanya tentang bagaimana mengembalikan kecintaan masyarakat kita terhadap pangan lokal di tengah gencarnya gempuran makanan modern. Melainkan juga bagaimana kita bersama-sama berupaya memperbaiki lingkungan dan hutan, agar tetap dapat menjadi sumber penghidupan bagi komunitas masyarakat adat dan lokal di negeri ini.

 

Denny Riswana
PIC Riset Akademi Bumi Lestari – Pusaka Indonesia

Reaksi Anda:

Loading spinner