Skip to main content

Retno Sulistyowati tak pernah mengira dirinya akan menjadi seorang peramu jamu. Mantan pekerja kantoran yang kemudian menggeluti bisnis kuliner bersama suaminya di Kota Tangerang, Provinsi Banten ini, tak punya pengalaman apa-apa terkait dunia perjamuan dengan berbagai jenisnya itu.

Namun pada bulan April 2021, perempuan asli Solo ini kemudian mendapatkan petunjuk Semesta dalam meditasi, untuk membuat minuman kesehatan otentik berbahan dasar herbal. Resep perdana ini adalah Wedang Rempah yang kemudian disebarkan penggunaannya ke rekan-rekan Retno di  Pusaka Indonesia dan juga Persaudaraan Matahari.

Saat itu, menurut Retno, resep-resep jamu bermunculan begitu saja, baik ketika sedang meditasi formal maupun sedang beraktivitas. “Semua resep yang muncul saya catat dan saya validasi terlebih dahulu ke Guru Setyo Hajar Dewantoro, kemudian resep ramuan yang sudah tervalidasi saya arsip, karena saya masih benar-benar baru mengenal tentang jamu, jadi saat itu hampir semua resep yang muncul saya praktikkan dan coba rasanya, sambil saya belajar tentang bahan-bahan herbal. Sebelumnya saya tidak tahu mengenai bahan herbal sama sekali,” kisah Retno.

 

Menjadi Acaraki

Dalam perjalanannya, Retno ternyata tidak hanya menjadi peramu biasa. Perannya yang unik ini ada sebutan khusus yang mungkin jarang kita dengar, yakni ‘acaraki’ (bahasa Sanskerta).  Retno berkisah bahwa pada  27 Maret 2022 saat dirinya meditasi, ia mendapat petunjuk tentang acaraki. “Di situ saya baru tahu bahwa acaraki merupakan sebutan bagi seorang peramu jamu, sebuah panggilan untuk memuliakan Ibu Bumi dengan menggunakan bahan-bahan herbal yang berasal dari tanaman yang tumbuh di tempat sekitar wilayah tinggal acaraki,” kata Retno.

“Seorang acaraki sejati hanya bekerja mengikuti tuntunan Diri Sejati,” tegas Retno. Lebih lanjut Retno menjelaskan bahwa kemampuan meramu berbagai jenis tanaman herbal itu menyesuaikan kondisi tubuh pasien. Melalui keheningan, Retno akan mendapatkan tuntunan bagian-bagian tubuh yang membutuhkan pengobatan baik secara energi maupun dengan berbagai tanaman herbal. Semua akan diberikan menyesuaikan kebutuhan bagian tubuh yang membutuhkan pengobatan tanpa membahayakan bagian/organ dalam tubuh lainnya. 

Seorang acaraki sejati, kata Retno, bertindak dengan penuh ketulusan menjalankan tugas yang diterima melalui keheningan, ia juga sangat menghargai tubuh manusia sebagai mahakarya agung dari Sang Maha Pencipta. Maka dari itu, ramuan herbal yang muncul melalui keheningan akan bekerja sebagaimana mestinya mengikuti kesiapan tubuh yang berjatah mendapat ramuan herbal tersebut, dan ada energi murni yang bekerja melaluinya.

Namun, dengan kemampuan luar biasa dan cara kerja yang unik ini, Retno tidak bisa membantu semua pasien yang datang membutuhkannya. “Hasrat keinginan egoistik untuk dapat membantu siapapun yang datang meminta bantuan dilebur melalui keheningan. Tidak semua yang datang ataupun meminta bantuan dapat terpenuhi keinginannya,” kata Retno.

 

Metode Warisan 

Semua bahan jamu Warisan ini berasal dari dalam negeri. Bahan-bahan didapat dari Kebun Ayurveda Bumi Nusantara Gemah Ripah (BNGR), Kebun Surgawi (KS) milik kader Pusaka Indonesia dan beberapa penyuplai yang selaras. Bahan-bahan tersebut akan tetap dicek dulu apakah sudah sesuai dengan kriteria yang ditentukan Warisan atau belum. Sebelum membeli, Retno menginformasikan terlebih dahulu spesifikasi barang yang diperlukan Warisan. Kemudian untuk pembelian awal, Retno membeli dalam jumlah kecil dahulu sambil mengecek kualitas barang, jika ada yang belum sesuai, ia akan menginfokan perbaikan yang diperlukan ke depannya.

Bahan-bahan Warisan Otentik

Namun ada satu bahan unik, yang hanya ada di kaki Gunung Ciremai, Kuningan Jawa Barat. Waktu itu seorang kader Pusaka Indonesia bernama Habib Qohar, menemukan tumbuhan yang dia rasa bagus buat jamu, dia memotret dan mengirim foto itu ke Retno. Beberapa bulan kemudian barulah Retno mendapat momentum untuk memeriksa dalam keheningan tumbuhan tersebut. Ternyata memang tumbuhan tersebut bagus sebagai bahan tambahan jamu untuk penyakit tertentu, terutama membantu pengobatan luka bagian dalam. Tumbuhan itu bernama lumut rambut.

Untuk menjaga kualitas bahan, Retno memiliki prosedur tertentu yang disebutnya metode Warisan, yakni:

Untuk bahan umbi:

Iris tipis/tumbuk – proses penjemuran menggunakan solar dome dryer (tetap menggunakan sinar matahari), kemas vakum sehingga kualitas herbalnya tetap utuh terjaga serta dapat tahan hingga 2 tahun.

Untuk bahan daun:

Keringkan sendiri – hanya daun per lembar, pengeringan menggunakan solar dome dryer sehingga kualitas herbal terjaga, tidak mudah kutuan dan tahan hingga 2 tahun.

Retno menambahkan, cara kerja Semesta begitu lentur dan selaras terhadap manusia. Meskipun sudah ada resep yang baku, tetapi ada variasi bahan untuk pasien-pasien tertentu. Misalnya, ada 3 orang hendak membeli jamu batuk, sudah ada resep standar jamu pereda batuk tapi saat meramu tiba-tiba Retno menambahkan serai bagi pasien A, sedangkan kencur ditambahkan bagi pasien B, untuk pasien C menggunakan resep standar. Jadi bagi yang berjatah, jamu dibuat dengan resep personal mengikuti tuntunan Semesta.

 

Berbisnis dengan Landasan Hening

Karena Retno berbisnis jamu dengan tuntunan Gusti, maka harga jual Jamu Warisan Otentik pun ditentukan oleh kehendak Gusti. Muncul angka-angkanya dan spesifikasinya (termasuk spesifikasi seperti 1 dus isi berapa paket, kemasannya apa) lalu Retno meminta validasi pada Keisari Pieta atau biasa disapa Mbak Ay, yang telah berpengalaman dan memiliki kompetensi tinggi dalam menyelami Rasa Sejati. Untuk tim pemasaran Jamu Warisan Otentik dikelola oleh Pasar Gemah Ripah.

Rempah-rempah Warisan Otentik

Dalam mengelola usaha Jamu Warisan Otentik ini, Retno banyak belajar baik mengenai pemerataan ekonomi dengan memuliakan para petani (memberikan harga bahan baku sesuai dengan tuntunan Semesta), belajar bisnis yang tidak egoistis hanya mencari keuntungan perusahaan sebanyak-banyaknya tetapi sungguh-sungguh belajar mengenai pemerataan ekonomi sesuai dengan kapasitas masing-masing bagian, dan belajar berkolaborasi. Sedangkan dalam proses peracikan jamu, saat ini Retno dibantu oleh dua  staf, bagian inventory yang mengurusi bahan baku jamu Warisan, mulai dari bahan segar diproses hingga menjadi bahan baku siap pakai; dan satu orang lagi membantu di bagian produksi jamu Warisan. Staf di Warisan dikirim oleh Semesta, entah itu melalui mbak Ay atau ada yang melamar kerja di Warisan dan diizinkan oleh Semesta. Biasanya ketika sudah tidak selaras bekerja di Warisan, maka akan lepas dengan sendirinya atau ada sinyal dari Semesta. 

Ke depannya, Retno berkeinginan membuat buku tentang herbal Nusantara agar dapat mengembalikan tradisi minum jamu yang merupakan bagian dari kebudayaan luhur bangsa kita. Negara kita kaya akan bahan-bahan herbal dan beraneka rempah tetapi mulai dilupakan tergerus dengan obat kimia sintetis. Seperti halnya di Cina ada Traditional Chinese Medicine (TCM), mereka sangat bangga akan itu, Retno ingin menaikkan kembali rasa memiliki dan kebanggaan kita akan jamu Nusantara terutama kepada anak-anak muda. Seperti halnya dengan anak-anak Retno yang saat ini usia 10 tahun dan 22 tahun, sudah mulai terbiasa minum jamu, misalnya ketika batuk atau demam, mereka akan minta dibuatkan jamu, dan tidak lagi minum obat farmasi. Ia ingin masyarakat juga mulai kembali mentradisikan minum jamu, termasuk kepada anak-anak sejak usia dini.