RRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Umum Pusaka Indonesia Setyo Hajar Dewantoro mengatakan nilai-nilai Pancasila tetap relevan bagi generasi muda saat ini. Menurutnya, Pancasila dapat menjadi sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ia menjelaskan Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara bagi para penyelenggara pemerintahan. Pancasila juga diharapkan dapat dihayati oleh seluruh masyarakat, termasuk generasi muda.
“Pancasila ini selain sebagai dasar negara yang menjadi panduan bagi para pejabat pemerintah untuk mengambil kebijakan. Jadi semua orang memang diharapkan bisa menghayati Pancasila, nah tentu saja anak-anak muda relevan kalau menjadikan Pancasila sebagai sumber nilainya,” ujar Setyo saat dihubungi RRI, Senin, 1 Juni 2026.
Setyo mengatakan Pancasila memuat nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Ia menyatakan nilai-nilai tersebut tetap dibutuhkan pada setiap zaman.
Menurutnya, lima sila dalam Pancasila menjadi pedoman untuk membangun kehidupan yang harmonis. Harmoni tersebut mencakup hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
“Karena kan di dalam Pancasila itu ada nilai ketuhanan, ada nilai kemanusiaan, ada nilai kesatuan, ada nilai kerakyatan, ada nilai keadilan. Lima sila kita itu adalah sebuah pedoman untuk bisa hidup dengan harmoni,” kata Setyo.
Setyo mengajak generasi muda memegang teguh nilai-nilai yang diwariskan para pendiri bangsa. Ia menilai penghayatan terhadap Pancasila penting bagi generasi penerus.
Baca juga: Pusaka Indonesia: Saatnya Kembali pada UUD 1945 Asli
Menurutnya, generasi muda perlu memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Hal itu penting agar mereka tetap memegang prinsip ketika kelak berada pada posisi strategis.
“Nah ini yang perlu dipegang teguh oleh siapapun, termasuk anak-anak muda. Memang anak-anak muda harus menghayati Pancasila itu, menghayati nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan seterusnya,” ucap Setyo.
Setyo juga menilai generasi muda memiliki idealisme dan kepedulian terhadap bangsa. Karena itu, aspirasi dan sikap kritis mereka perlu dihargai.
Namun, ia mengingatkan agar kritik disampaikan secara bertanggung jawab. Generasi muda juga diharapkan tidak terjebak pada kepentingan yang dapat merugikan bangsa.
“Kita jelas menghargai segala aspirasi dari anak muda yang punya kritisisme, yang masih punya kepedulian. Yang masih punya hasrat memperbaiki negara dan memperbaiki bangsa kita,” ujar Setyo.
Menurut Setyo, generasi yang lebih tua harus memberikan teladan melalui tindakan nyata. Ia menilai tindakan akan lebih berpengaruh dibandingkan sekadar kata-kata.
Sementara itu, perwakilan generasi muda, Zana, mengatakan bentuk gotong royong anak muda kini berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Menurutnya, media sosial dan donasi daring menjadi sarana baru untuk membantu masyarakat.
Baca juga: Pusaka Indonesia Sosialisasi Filosofi Batik di Auditorium RRI
Ia menilai keterlibatan generasi muda dalam berbagai aksi sosial mencerminkan nilai Pancasila. Gotong royong digital dinilai mampu menjangkau lebih banyak orang tanpa batas wilayah.
“Menurut saya, ini adalah wujud nyata Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, dan Sila Kelima, Keadilan Sosial, versi Gen Z. Gotong royong kami sudah bertransformasi ke ranah digital,” ujar Zana.
Sumber artikel dan foto: https://rri.co.id/
Reaksi Anda:




