RRI.CO.ID, Jakarta – Ada satu kekuatan yang sejak dulu membuat bangsa ini tetap berdiri, bahkan ketika badai datang silih berganti; gotong royong. Napas hidup yang pernah begitu nyata di tengah masyarakat kita.

“Disitulah bangsa ini menemukan wajah aslinya, wajah yang ringan membantu, yang diam-diam bekerja bersama,” ucap Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro, dalam acara dialog “Beranda Astacita Kita Indonesia” yang mengangkat tema “Gotong Royong untuk Negeri”, di Pro1 RRI Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026. Acara dipandu host, Selyana Jamil.

Kesejahteraan sebuah negeri menurut Setyo, bukan hanya urusan pemerintah, bukan juga beban rakyat semata. Tapi, lahir dari kolaborasi keduanya, yang saling menguatkan. Dari kesediaan masing-masing untuk menjalankan peran, sekecil apa pun, sereceh apapun dengan kesungguhan hati. Tanpa itu, semua rencana besar hanyalah akan jadi tulisan indah di atas kertas.

Baca juga: Laksda TNI (Purn) Untung Suropati: Bangsa Indonesia Pewaris Agung Nusantara

“Akhirnya, semuanya kembali ke diri sendiri. Apa yang bisa saya lakukan hari ini, sesuai kapasitas saya? Bukan menunggu orang lain bergerak, bukan menunggu keadaan ideal. Melainkan melakukan saja yang terbaik yang saya bisa, dengan tulus, dengan niat yang jernih. Karena sekecil apa pun tindakan yang dilakukan dengan kesadaran, selalu punya dampak yang tak terlihat langsung, tapi terasa dalam jangka Panjang,” katanya.

Setyo mengungkapkan, gotong royong itu sesederhana, seperti contoh masak bareng di lingkungan sendiri. Kemudian, mengiris bawang bersama di dapur umum saat ada hajatan, ikut kerja bakti membersihkan selokan kampung dan membuang sampah pada tempatnya tanpa harus diingatkan.

“Ikut pilah sampah bersama. Membantu program seperti SPS (Sentra Polibag Sigma). Hal-hal kecil yang mungkin terlihat remeh, tapi di situlah kebersamaan tumbuh, di situlah rasa memiliki terhadap lingkungan dan negeri ini dipupuk perlahan,” ucap Setyo.

Gotong royong tidak butuh kompetisi dan tidak perlu saling membandingkan siapa yang paling berjasa. Tidak perlu mengeluh siapa yang bekerja lebih banyak. Karena saat dilakukan dengan hati yang lapang, semuanya terasa ringan.

Baca juga: Ketum Pusaka Indonesia: Krisis Nilai Pancasila Merambah Desa

“Yang muncul bukan lelah, tapi rasa hangat sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar; Ibu Pertiwi Tercinta. Makna hidup sebagai warga negara bukan hanya tentang hak, tapi tentang nilai-nilai luhur yang harus saya perjuangkan dalam keseharian. Tentang bagaimana saya berbakti pada negeri ini bukan lewat kata-kata indah, tapi lewat tindakan sederhana yang konsisten,” katanya.

“Tentang bagaimana visi Indonesia yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Kerta Raharja bukan sekadar semboyan, tapi arah yang kita tuju bersama, langkah demi Langkah,” ucapnya menambahkan.

Tentu perjalanan bangsa ini belum sempurna. Masih banyak kekurangan. Masih banyak yang perlu dibenahi. Namun harapan tidak pernah hilang selama kita mau terus memperbaiki diri.

“Selama kita tidak menyerah. Selama kita tetap merawat dan menjaga negeri ini dengan kontribusi terbaik yang kita miliki, sekecil apa pun itu. Karena pada akhirnya, Indonesia yang kuat bukan dibangun oleh orang-orang hebat yang bekerja sendirian, melainkan oleh orang-orang biasa yang mau bergerak bersama. Dan gotong royong itulah yang akan selalu menjadi jiwa dari bangsa ini,” ujar Setyo.

 

Sumber: https://rri.co.id/jakarta/asta-cita/2162352/kita-indonesia-gotong-royong-untuk-negeri

Keterangan foto: Kader Pusaka Indonesia bergotong royong membuat kompos di Kebun Surgawi (KS) 67 Jombang Jawa Timur

Reaksi Anda:

Loading spinner