Skip to main content

Tikus adalah salah satu momok bagi para petani yang mengancam keberlangsungan panen. Karenanya, sudah menjadi praktik umum petani menggunakan rodentisida atau racun tikus di lahan pertanian. Padahal, rodentisida adalah pestisida paling berbahaya, bukan hanya tikus yang terbunuh, tapi juga ada banyak predator lain ikut terbunuh. Lim Wen Sim, pria lulusan Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menawarkan gagasan menggunakan metode alami, yakni memanfaatkan burung hantu sebagai pemangsa tikus.

Berawal dari tahun 2009, Lim bekerjasama dengan Raptor Club Indonesia (RCI), Yayasan Hijau Gerakan Peduli Lingkungan, dan Yayasan Kutilang Indonesia mencoba riset tentang keefektifan Tyto alba sebagai pengontrol hama tikus. Awal terbentuk program burung hantu sahabat petani karena kegelisahan mereka sebagai pengamat burung (birdwatcher). Petani mengalami kesulitan karena hama tikus belum teratasi sejak 1962.

Merekayasa Ekosistem dengan Tyto Alba

Petani memasang rumah burung hantu

Merekayasa ekosistem adalah mengubah pola pertanian yang tadinya menggunakan pestisida menjadi kembali ke rantai makanan secara alami sehingga tidak perlu menggunakan racun tikus. Burung hantu Tyto alba javanica, atau yang juga dikenal sebagai Serak Jawa memang sebarannya sangat luas sehingga tidak perlu mendatangkan dari luar kawasan, cukup memanfaatkan yang sudah ada di sekitar kawasan pertanian. Spesies burung hantu lain yang digunakan di Cangkringan, yaitu Celepuk (Otus lempijii) dan Beluk Jampuk (Bubo sumatranus). Namun dari ketiganya, jenis Serak Jawalah yang paling banyak dimanfaatkan. Pilihan ini memiliki dasar yang kuat, karena berdasarkan hasil riset mereka memang terbukti bahwa makanan utama dari Tyto alba adalah tikus.

Variasi jenis mangsanya sangat sedikit, sedangkan spesies lainnya memiliki makanan dominan bukan tikus, meski secara ekologis tetap bagian mata rantai makanan. Jadi, pemburu yang konsisten sebagai predator tikus adalah Tyto alba.

Sepanjang 2012 hasil riset tersebut coba diaplikasikan dengan mencari lokasi yang membutuhkan. Namun baru 3 bulan, Lim dan tim mundur karena respons petani yang pasif. Tahun 2013 mereka pindah ke Dusun Cancangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Lokasi ini dipilih karena petani di sana sudah putus asa dengan tikus.

Penelitian juga dilakukan di beberapa titik lain, yang pernah dijalani komunitas ini adalah di Karang Agung Ilir, Banyuasin, Sumatera Selatan. Juga yang terkini mendampingi petani muda Taruna Tani Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. “Program ‘burung hantu sahabat petani’ menekankan partisipasi petani karena bukan proyek sinterklas, tetapi merekayasa ekosistem,” kata Lim.

Keberlangsungan Hidup Tyto Alba

Lim menekankan, tantangannya adalah mengubah pola pikir petani agar memiliki kesadaran bahwa hama tikus tidak bisa diatasi secara instan. Masih banyak yang menganggap program mengatasi tikus bukan sebagai program berseri dengan langkah yang runut. “Perlu proses bahwa ini bukan projek semusim.”

Penggunaan burung hantu sebagai predator tikus sawah tidak bisa menjadi projek semusim karena perkembangbiakan tikus yang lebih cepat dibanding burung hantu. Langkah yang dilakukan harus berkelanjutan karena tikus hidup berdampingan dengan manusia.

Angka keberhasilan hidup burung hantu sejak menetas hingga terbang, yaitu di usia 0-2 bulan sangat tinggi. Yang rentan adalah setelah masa belajar terbang dan masa sapih. Seekor burung hantu dapat memakan 2 – 3 ekor tikus dalam 24 jam. Lim bersama Komunitas Burung Hantu Sahabat Petani ini juga merawat burung hantu yang terluka. Mereka yang merawat bukan yang memiliki keahlian, tetapi rata-rata mau belajar dasar perawatan burung pemangsa. Seiring berjalannya waktu, warga Cangkringan mau berkomitmen melindungi burung hantu dan dusunnya ditetapkan sebagai “Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Serak Jawa” dan melarang segala perburuan.

 

Stella Manoppo

Kader Pusaka Indonesia Wilayah DIY