Kenapa ketika saya berlibur, saya memilih untuk mendatangi situs-situs bersejarah seperti bangunan candi di Jawa Tengah? Jawabannya sederhana: Sejak lama, saya memang suka sejarah. Bukan cuma dari buku pelajaran, tapi dari cerita-cerita yang saya dengar, tempat yang saya lihat, dan rasa penasaran yang tidak pernah hilang setiap kali membayangkan bagaimana kehidupan manusia di masa lampau.

Setiap saya berdiri di depan sebuah candi, ada perasaan kagum yang susah dijelaskan. Seperti sedang berada di ruang yang tidak hanya penuh batu dan ukiran, tapi juga penuh jejak langkah orang-orang yang hidup ratusan tahun sebelum kita. Mereka kerja keras, punya keyakinan dan harapan, dan meninggalkan sesuatu yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.

Dari berbagai perjalanan saya sejauh ini, dari candi ke candi, dari satu situs ke situs lain, saya mulai menyadari sesuatu. Bahwasanya ini bukan sekadar tentang bangunannya, tapi tentang apa yang mereka wakili. Saya jadi ingat sebuah kutipan yang pernah disampaikan oleh Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro berikut ini:

“Bangsa yang warisan agungnya masih bisa ditemukan setelah kurun waktu yang panjang, jelas bukan bangsa bodoh. Wastra dalam segala ragam rupa dan warna, seni tari dengan segala corak geraknya, candi dengan segala keagungannya, juga patung-patung nan indah beserta segala kenangan akan kejayaan Majapahit, Sriwijaya, Singasari, Kediri, Kahuripan, Mataram dan seterusnya, menunjukkan bahwa Bangsa Nusantara kuna itu adalah bangsa yang meninggalkan LEGACY. Bangsa kuna adalah bangsa berperadaban tinggi yang bisa mencipta kemajuan dalam berbagai ranah: spiritual, estetika, teknologi, politik, dan ekonomi.”

Baca juga: Esensi Sejarah Kejayaan Majapahit untuk Membangun Indonesia

Nah, dengan mengamati bangunan candi-candi, saya jadi merenung. Bahwa peradaban agung seperti itu tentu tidak mungkin lahir tanpa kemajuan. Berbagai penelitian arkeologi modern mengungkapkan bahwa para leluhur kita membangun arsitektur dengan tingkat presisi yang luar biasa. Candi Borobudur misalnya, terbukti disusun dengan perhitungan matematis yang sangat teliti, menggunakan batu andesit yang saling mengunci tanpa semen. Hal ini sudah dikonfirmasi lewat kajian arkeolog seperti R. Soekmono dan J.G. de Casparis.

Lalu di Candi Prambanan, ekskavasi Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan bahwa fondasinya memakai batu putih berlapis untuk mencegah amblas, sebuah teknik rekayasa tanah yang sangat maju pada abad ke-9. Ini menunjukkan bahwa leluhur kita di masa lampau sangatlah mengagumkan. Leluhur kita mampu membaca pergerakan bintang dan memahami astronomi, mengatur perhitungan waktu, membangun sistem irigasi yang cerdas seperti yang ditemukan di situs-situs Mataram kuna, serta mengembangkan berbagai aksara daerah sebagai media intelektual. Semua itu terekam dalam prasasti-prasasti seperti Kalasan (778 M), Kelurak (782 M), dan Mantyasih (907 M), yang menunjukkan tingkat literasi dan administrasi yang tinggi.

Dalam berbudaya, mereka teguh pada jati diri. Ini bisa kita lihat pada lontar-lontar kuno, kakawin seperti Nagarakretagama dan Sutasoma, gamelan dengan resonansi spiritualnya, wayang yang mengajarkan nilai budi pekerti, hingga upacara adat yang mengharmonikan manusia, alam, dan semesta. Semua itu bukan sekadar seni, melainkan sistem nilai, pengetahuan, dan peradaban.

Baca juga: Sendratari Bende Mataram: Meluruskan Sejarah Masa Lampau dan Berjuang untuk Masa Depan

Dengan semua karya agung tersebut, tentunya secara ekonomi, dapat dipastikan mereka mandiri dan strategis. Catatan Tiongkok dalam Chu-fan-chi menggambarkan Jawa dan Sumatra sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Kerajaan-kerajaan kita menguasai jalur pelayaran internasional dan membangun pelabuhan besar seperti Sriwijaya di Palembang serta Tuban dan Gresik di masa Majapahit. Relief kapal di Borobudur menggambarkan teknologi maritim yang maju, dengan kapal bercadik dan layar tanja yang bahkan diakui peneliti seperti Pierre-Yves Manguin sebagai salah satu pencapaian maritim terbaik Asia Tenggara. 

Ketika memasuki masa Majapahit, teknologi itu berkembang menjadi kapal Jung (Jong) yaitu kapal raksasa yang dicatat oleh Tome Pires dan Afonso d’Albuquerque sebagai kapal paling besar di Asia. Penelitian Pierre-Yves Manguin, Horst Liebner, dan Himanshu Prabha Ray menunjukkan bahwa jung Nusantara memiliki panjang 50-70 meter, 2-4 dek, kapasitas 500-1000 ton, dan dibangun di galangan besar di Tuban, Lasem, dan Gresik. Teknologi lambung ganda (double planked hull), lashed-lug, dan layar tanja membuatnya lebih fleksibel dan kuat terhadap gelombang Samudra Hindia.

Dari kapal bercadik Borobudur hingga jung Majapahit, terlihat jelas bahwa leluhur kita bukan hanya pelaut ulung, tetapi juga pemain utama dalam ekonomi maritim internasional. Jalur perdagangan rempah, beras, garam, sutra, hingga tekstil dikuasai melalui pelayaran jarak jauh yang menghubungkan Palembang, Tuban, dan Gresik dengan India, Tiongkok, Siam, Champa, Arab, hingga Afrika Timur.

Secara politik pun mereka berdaulat. Naskah Nagarakretagama yang diakui UNESCO menggambarkan bagaimana Majapahit mengatur wilayah yang luas dengan sistem pemerintahan yang rapi dan tertata. Catatan Tiongkok dan Arab pun menggambarkan Nusantara sebagai negeri yang makmur, teratur, dan beradab dan hal tersebut jauh dari gambaran bangsa terbelakang.

Maka, saya pun menyadari bahwa jejak leluhur kita bukan sekedar peninggalan reruntuhan bangunan saja. Ia adalah bukti nyata bahwa Nusantara pernah berdiri sebagai peradaban yang maju dalam teknologi, kaya dalam pengetahuan, teguh dalam budaya, mandiri dalam ekonomi, dan berdaulat dalam politik. Sebuah peradaban yang tidak pernah padam karena ia hidup dalam karya, dalam ingatan, dan dalam jati diri bangsa hari ini. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali oleh generasi yang sadar jati dirinya.

 

Wisnu Ajinegara
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten

Reaksi Anda:

Loading spinner