Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pusaka Indonesia, Dr Nyoman Suwarta mengajak masyarakat untuk kembali menggali makna dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam dialog interaktif yang disiarkan RRI bertema “Kita Indonesia: Menjaga Bhinneka Tunggal Ika untuk Indonesia Hari Ini”, Nyoman mengajak kita merefleksikan sejarah masa lampau, tentang bagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut dilahirkan.
Secara historis, ia menuturkan, Bhinneka Tunggal Ika ini berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit. Awalnya, semboyan ini mengakomodir ajaran Budha dan Siwa. Esensinya menegaskan bahwa kebenaran sejatinya satu. Nilai inilah yang kemudian diadopsi para pendiri bangsa sebagai semboyan negara, berdampingan dengan Pancasila untuk menjaga persatuan dan kesatuan. “Perbedaan bukanlah alasan perpecahan, melainkan kekayaan yang menyatukan,” jelas Nyoman.
Menurut Nyoman, semangat kebhinnekaan sudah berjalan dalam banyak aspek kehidupan sosial kita sehari-hari, terutama dalam hal keberagaman budaya, seni, bahasa, dan tradisi. Namun, secara faktual, masih terdapat tantangan nyata dalam implementasinya. Konflik antar kelompok akibat perbedaan kepentingan masih bisa terjadi. Ketimpangan sosial dan ekonomi masih tampak di keseharian. Tawuran pelajar dan konflik sosial juga masih sering terjadi. “Hal ini menunjukkan bahwa kita belum seluruhnya bisa menjaga nilai kebhinnekaan ini,” paparnya.
Baca juga: Pancasila dan Generasi Muda di Era Digital
Di sisi lain, era digital, membuat arus informasi bergerak dengan sangat cepat. Media sosial menjadi seperti pisau bermata dua: dapat menjadi alat pemersatu, namun juga berpotensi memecah belah. Isu radikalisme, hoaks, serta provokasi berbasis identitas dapat dengan mudah tersebar tanpa verifikasi. “Karena itu, masyarakat dituntut untuk lebih bijak dengan menggunakan media sosial, tidak mudah terprovokasi, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten positif,” tambah Nyoman.
Membumikan Nasionalisme, Menuju Indonesia Emas 2045
Saat keberagaman dan perbedaan seringkali dianggap sebagai potensi konflik, di Indonesia, keberagaman justru merupakan modal dasar dalam memperkuat nasionalisme dan kebangsaan. Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme ibarat dua sisi mata uang. Bhinneka Tunggal Ika tanpa Nasionalisme akan menjadikan kita sebagai bangsa yang rawan terpecah. Sebaliknya, Nasionalisme tanpa Bhinneka Tunggal Ika–di negeri dengan beragam suku dan budaya ini–akan memaksa kita membuat penyeragaman identitas.
Pusaka Indonesia melalui bidang Riset dan Kajian, kembali menggali makna nasionalisme, patriotisme, dan elan berbangsa dalam rangka memperkuat riset untuk mendukung program-program yang membangun kecintaan terhadap Indonesia. Lewat kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema Membumikan Nasionalisme Menuju Indonesia Emas 2045, Pusaka Indonesia mengundang berbagai kalangan dan profesional untuk menyampaikan ide dan masukan tentang bagaimana menumbuhkembangkan nasionalisme, agar cita-cita Indonesia Emas tidak menjadi sekadar jargon semata. Beberapa narasumber utama yang diundang dalam FGD ini, di antaranya adalah Duta Besar RI untuk Kanada, aktivis sosial, aktivis media, ekonom, dan peneliti.
Baca juga: Pusaka Indonesia dan Implementasi Ekonomi Pancasila
Kegiatan FGD yang diselenggarakan pada 11 April di Menara Imperium, Jakarta Selatan ini, terbuka untuk peserta umum secara daring, dengan kuota terbatas. Harapannya, membuka wawasan masyarakat tentang makna nasionalisme dan elan berbangsa yang sesungguhnya, yang merupakan modal dasar untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Ketua Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia, Natalia Puri Handayani menuturkan, nasionalisme menjadi pengingat akan jati diri suatu bangsa. “Menumbuhkan nasionalisme, berarti menekankan identitas kita sebagai bangsa Indonesia yang bersatu dan berdaulat, untuk membangun negeri dan mewujudkan tanah air Indonesia yang jaya,”pungkasnya.
Masyarakat umum yang tertarik menyimak proses FGD secara online yang akan disiarkan melalui platform Zoom, bisa menghubungi admin kegiatan melalui WhatsApp di: 0853-6259-9465.
Widya Rahmadani & Aniswati Syahrir
Kader Pusaka DKI Banten
Reaksi Anda:




