Dalam rangka kontribusi komunitas terhadap pertanian organik yang selaras dengan alam, Sigma Farming Academy melalui bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Pusaka Indonesia menggagas program ‘Sentra Polybag Sigma: Pulihkan Ibu Bumi, Sehatkan Dapur Keluarga dengan 15 Sentra Berdaya. Program ini bertujuan untuk membentuk 15 titik Sentra Polybag Sigma (SPS) di berbagai kota dan desa sebagai pusat belajar, pusat produksi pangan, serta penggerak praktik Sigma Farming pada skala pekarangan hingga desa.

Sigma Farming menekankan pemulihan tanah melalui penggunaan sarana produksi (saprodi) organik, mikroba bermanfaat, serta pengendalian hama berbasis nabati. Pendekatan ini aman bagi keluarga sekaligus ramah bagi Ibu Bumi.

Niniek Febriany, Ketua Bidang Pendidikan & Pemberdayaan Pusaka Indonesia, menyampaikan bahwa gagasan SPS berangkat dari persoalan yang masih dihadapi banyak keluarga, baik di desa maupun di kota. Akses terhadap pangan segar dan sehat belum merata, pekarangan sempit belum dimanfaatkan secara optimal, harga sayur yang fluktuatif, serta keterbatasan pengetahuan budidaya organik dan pengelolaan sampah rumah tangga menjadi tantangan bersama. Di sisi lain, masyarakat sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat melalui tingkat RT/RW, PKK, Karang Taruna, dan BUMDes yang jika disatukan dalam kerja kolaboratif mampu mendorong perubahan nyata.

Baca juga: Mengompos di Rumah

Program SPS memberdayakan 15 Sentra Berdaya di 15 titik melalui kolaborasi kader Pusaka Indonesia, RT/RW, dan BUMDes. Dalam pelaksanaannya, SPS mengembangkan tiga skema produksi :

  • Skema 1 – Sentra Produksi Rumahan, yang telah berjalan di 9 titik: Cirebon, Kuningan, Jakarta Selatan, Tangerang, Sleman, Bantul, Semarang, Magelang, dan Madiun, dengan jumlah polybag yang diberdayakan berkisar antara 100-600 polybag.
  • Skema 2 – Sentra Produksi Tetangga, yang berjalan di 5 titik: Wonogiri, dua titik di Kulon Progo, Banyumas, serta Tabanan, Bali.
  • Skema 3 – Sentra Produksi Desa, yang saat ini berlokasi di Cirebon, Jawa Barat.
Sentra Polybag Sigma Jakarta - Polibag siap dibagikan ke warga

Sentra Polybag Sigma Jakarta – Polibag siap dibagikan ke warga

Pada tahap pertama, seluruh 15 titik SPS sudah terpenuhi dan dijadikan sebagai proyek percontohan (pilot project) pertama yang akan dievaluasi secara berkala. Tahap kedua direncanakan akan dibuka kembali sekitar enam bulan mendatang.

Program ini dijalankan dengan mengintegrasikan edukasi, pendampingan, mekanisme ekonomi lokal, serta insentif kerja. SPS menawarkan model pemberdayaan yang praktis, berbiaya rendah, dan berkelanjutan – menjadikan pekarangan sebagai sentra yang menguatkan dapur keluarga, menghidupkan semangat gotong-royong, dan memuliakan Ibu Bumi.

Saat ini, para kader di 15 titik SPS tengah melakukan penyemaian benih dan pembuatan media tanam. Media tanam tersebut terdiri atas media tanam Sigma, sekam, tanah, serta bahan-bahan organik, seperti daun hijau, daun kering, dan sampah rumah tangga.

Pendanaan program dilakukan secara gotong royong oleh kader internal Pusaka Indonesia, serta dibuka donasi bagi para kader untuk pengadaan bahan baku media tanam, seperti polybag dan komponen media tanam, serta pemberian insentif bagi warga yang terlibat langsung dalam penanaman.

Niniek Febriany mengajak seluruh kader untuk bersama-sama mewujudkan pekarangan yang subur, dapur yang sehat, dan komunitas yang saling menguatkan. “Melalui program 15 Sentra Berdaya,” kita mendukung keluarga di desa dan kota untuk belajar budidaya organik, menanam sayur dari tangan sendiri, sekaligus memperkuat gotong royong antara RT, PKK, dan BUMDes. Setiap dukungan membuka peluang kerja mikro, menekan biaya konsumsi harian keluarga, serta memulihkan tanah dengan cara yang rendah biaya dan berkelanjutan. Kontribusi kecil kita adalah bagian dari perubahan yang nyata dan terus bertumbuh dari rumah ke rumah, tetangga ke tetangga, dan desa ke desa,” tuturnya.

 

Ni Kadek Ayu Rinawati
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali dan Sekitarnya

Reaksi Anda:

Loading spinner