Perjuangan kemerdekaan Indonesia dimulai pada periode kebangkitan nasional, yang ditandai dengan berdirinya Organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Budi Utomo merupakan awal dari gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Suatu perkumpulan yang didirikan dengan berdasarkan keluhuran budi, untuk mencapai kemajuan bangsa. Saat itu kegiatan-kegiatan Budi Utomo ditujukan untuk kegiatan di bidang sosial, budaya, dan pendidikan. Tahun 1935, Budi Utomo berkembang menjadi organisasi yang memiliki tujuan dan cita-cita nasional, yaitu Indonesia Merdeka. 

Dalam kurun waktu 1908-1928 bermunculan perkumpulan lainnya yang turut memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Misalnya Indische Partij, sebuah perkumpulan bersifat politik yang didirikan oleh Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang pro terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Lewat perkumpulan ini, ia menanamkan pengertian mengenai tanah air Indonesia.  

Terbukanya akses terhadap pendidikan juga membawa kesadaran baru bagi kaum bumiputera. Kelompok terpelajar, mulai menyadari bahwa pers/koran bukan hanya sarana informasi, tetapi juga alat pembentuk kesadaran kolektif. Muncul gerakan media pribumi yang menyuarakan isu lokal dan melibatkan rakyat dalam wacana nasional. Para generasi terpelajar yang mampu membaca dan menulis, menuangkan pemikiran kritisnya terhadap perlakuan tidak adil terhadap rakyat di masa kolonial. Ki Hajar Dewantara, adalah seorang jurnalis di masa mudanya. Ia menggeluti bidang jurnalistik sejak bersekolah di STOVIA. Surat kabar menjadi tempat ia menyuarakan kritik sosial kaum bumiputra. 

Baca juga: Terapan Ekonomi Pancasila: Kunci Mewujudkan Kemerdekaan yang Seutuhnya

Semangat Memperjuangkan Kemerdekaan Para Founding Fathers

Sukarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Natsir, Tan Malaka, dan para pendiri bangsa lainnya, membuat pilihan hidup secara sadar: belajar sekaligus berjuang untuk pergerakan nasional. Tujuan mereka adalah pembangunan bangsa, serta Indonesia yang merdeka. Setelah mereka menyelesaikan studinya, terbuka pilihan untuk bergabung dengan pemerintahan kolonial, tetapi mereka memilih untuk melanjutkan perjuangan. 

Walaupun dijanjikan kehidupan yang lebih nyaman oleh pemerintah kolonial, mereka tetap fokus pada perjuangan. Kita dapat mempelajari kepribadian dan karakter luhur dari para pendiri bangsa ini tentang totalitas dalam memberikan kehidupannya kepada pergerakan dan perjuangan. 

Menjadi Merdeka 

Menjadi merdeka artinya tidak dibelenggu oleh orang lain, bangsa lain, atau belenggu apa pun. Kemerdekaan Indonesia tidak lahir begitu saja. Tetapi diperjuangkan, oleh para founding fathers. Kita sebagai generasi penerus bangsa, selayaknya memiliki semangat yang sama dengan para pendahulu kita. Untuk terus memperjuangkan, mempertahankan, hidup dengan semangat gotong-royong, semangat bela negara, dan kecintaan kepada Tanah Air. Kemerdekaan bukan tujuan akhir, melainkan harus terus diperjuangkan agar tetap ada. Siapa pun yang tidak ingin tertindas, akan memiliki semangat kemerdekaan. 

Baca juga: Pancasila dan Generasi Muda di Era Digital

Pembangunan Karakter 

Pusaka Indonesia sebagai perkumpulan dengan semangat Trisakti untuk mendukung proses pembangunan bangsa dan negara. Para kadernya dididik untuk berbudaya sesuai jati diri bangsa, berdikari secara ekonomi, dan berdaulat secara politik, juga didorong untuk menumbuhkan semangat patriotisme dalam berbangsa dan bernegara. Pembangunan watak bangsa diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang berbudi luhur. Pusaka Indonesia memiliki 9  value/nilai yang menjadi rujukan karakter luhur yang ditumbuhkan pada setiap kadernya: sincerity (ketulusan), humility (kerendahan hati), loyalty (kesetiaan), consistency (konsistensi), resilliency (ketangguhan), totality (totalitas), justice (keadilan), collaboration (kolaborasi), dan continuous growth (perbaikan terus-menerus). Melalui setiap kegiatan dan program-programnya, Pusaka Indonesia terus bergerak maju untuk memperjuangkan semangat kemerdekaan yang sebenarnya. Menjadi betul-betul bahagia, berdaya, berdikari, menjadi merdeka seutuhnya jiwa dan raga. 

 

Natalia Puri Handayani
Kabid Riset dan Kajian Pusaka Indonesia

Sumber referensi: 

  1. Koran Kompas Edisi Khusus 80 tahun Indonesia Merdeka 
  2. Buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Poesponegoro dan Notosusanto. 2008. 
  3. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008. Rickles. 2008. 

Sumber foto: canva

 

Reaksi Anda:

Loading spinner