Di tengah gemuruh zaman yang kerap memuja gemerlapnya materi dan mental instan, sejarah berdiri tegak bagaikan mercusuar. Mengirimkan cahayanya melewati kabut pragmatisme, ada sebuah anomali dalam lembaran heroik pembangunan Indonesia. Terukir namanya dengan tinta emas yang tidak pernah luntur: Ir. Sutami. Lahir di Surakarta pada 19 Oktober 1928, seorang Insinyur sipil dari kampus ITB. 

Beliau adalah bukti hidup bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang dikenakan di badan, melainkan dari apa yang diwariskan untuk bangsa. 

Sebagai Menteri Pekerjaan Umum selama 14 tahun, melintasi dua rezim kepemimpinan, Presiden Bung Karno dan Pak Harto, ia adalah maestro di balik denyut nadi infrastruktur negeri. Arsitektur dan ahli rekayasa desain yang menyatukan Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Namun, di balik kokohnya beton jembatan Semanggi, megahnya waduk Jatiluhur, dan gagahnya jembatan Ampera, tersembunyi sebuah mahakarya yang jauh lebih monumental: sebuah karakter yang tak tergoyahkan, integritas yang melampaui batas-batas jabatan dan kekuasaan.

Baca juga: W.R. SUPRATMAN : Nada yang Menyatukan Bangsa

Apa Arti Sebuah Kekuasaan?

Ir. Sutami adalah contoh jawaban hidup atas pertanyaan filosofis itu. Di tangannya, miliaran rupiah anggaran negara mengalir untuk membangun fondasi kejayaan Indonesia. Ia memegang kendali atas sumber daya yang dapat mengubah hidup ribuan orang. Para wartawan tempo dulu menjuluki Sutami sebagai “menteri yang tak kenal lelah”. Bukan sekadar jargon belaka, ini adalah gambaran nyata dari pengabdian total. Ia rela menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan berjalan kaki menembus hutan dan pegunungan untuk meninjau langsung proyek-proyek di daerah terpencil. Ia ingin merasakan sendiri denyut nadi rakyat, memastikan setiap pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan mereka. Ketika masa baktinya usai, ia menunjukkan puncak dari keteladanan: semua kendaraan dinas dikembalikan. Karena baginya, fasilitas negara adalah alat pendukung kerja, bukan hak milik. 

Kehidupan Pribadi Seorang Menteri yang Bersahaja

Dalam kehidupan Ir. Sutami, beliau dijuluki “Menteri yang paling bersahaja, sebuah gelar kehormatan yang tidak dibeli, tetapi diukir melalui pilihan-pilihan hidup sehari-hari. Di saat ia merancang bendungan raksasa yang membendung ribuan meter kubik air, atap rumah pribadinya justru bocor di banyak titik. Tamu-tamu yang datang bersilaturahmi di hari raya kerap tercengang, melihat tetesan air hujan yang harus ditampung di ember-ember di ruang tamu seorang menteri. Di era ketika listrik mulai menjadi kebutuhan primer, aliran listrik di rumahnya pernah terputus. Bukan karena gangguan teknis, melainkan karena keterlambatan pembayaran akibat kondisi finansialnya yang sedang sulit.

Akhir Pengabdian Seorang Menteri

Prinsip pengabdian Ir. Sutami tidak pernah goyah hingga akhir hayatnya. Ia menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, sebuah kehormatan tertinggi bagi putra bangsa. Dengan rendah hati ia memilih untuk beristirahat di tempat pemakaman umum tanah Kusir, sama seperti rakyat biasa yang ia layani sepanjang hidupnya. Pesan terakhir beliau kepada keluarganya juga sederhana, namun menggetarkan: “Jangan lupa bayar biaya rumah sakit.” Sebuah pesan yang membuktikan bahwa hingga napas terakhir, integritasnya tidak pernah luntur. Ia pergi dengan tidak meninggalkan harta berlimpah, tetapi mewariskan sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya.

Baca juga: Thank You Dr. Fauci

Refleksi: Sebuah Warisan Abadi untuk Negeri

Ini bukanlah dongeng moralitas dari masa lalu, tetapi fakta sejarah yang harus menjadi cermin bagi kita semua. Ir. Sutami mengajarkan sebuah prinsip kepemimpinan sejati: Kekuasaan adalah amanah, bukan untuk disalahgunakan. Jabatan adalah pelayanan, bukan untuk mengumpulkan kekayaan, tetapi mendayagunakan kesejahteraan. Keteladanan dan integritas Ir. Sutami menjadi bahan reflektif bagi generasi penerus bangsa. Pemimpin yang tidak takut miskin harta, tetapi takut miskin karya. Pribadi yang menjadikan kekuasaan sebagai alat pengabdian, bukan alat pemenuhan ego keduniawian. 

Bagi kader Pusaka Indonesia, integritas adalah salah satu karakter luhur yang dihayati dalam pembelajaran kepemimpinan di The Avalon Consulting, dan terus dilatih dalam berbagai wahana kegiatan di Pusaka Indonesia. Integritas dan teladan adalah warisan abadi, dan obor itu kini berada di genggaman tangan kita masing-masing. Semangat beraksi bergerak dalam langkah nyata, bersama-sama mencipta mahakarya untuk peradaban baru Indonesia.

 

Leo Kusuma
Kontributor Luaran Bidang Riset dan Kajian

Sumber Referensi:

  1. https://biropbj.kaltimprov.go.id/cerita-inspiratif/kisah-inspiratif-ir-sutami-menteri-terhormat-yang-tetap-sederhana-dan-penuh-kebajikan
  2. https://alumni.itb.ac.id/sutami/
  3. https://intisari.grid.id/read/034117908/kisah-inspiratif-ir-sutami-menteri-termiskin-era-soekarno
  4. https://patakaeja.id/belajar-dari-ir-sutami-cermin-kepemimpinan-di-tengah-godaan-kekuasaan/
  5. https://pusakaindonesia.id/api-revolusi-dan-kebijaksanaan/membangun-semangat-patriotisme-di-era-globalisasi/
  6. https://www.kompas.com/tren/read/2022/08/07/110000265/ir-sutami-menteri-termiskin-dalam-sejarah-indonesia?page=all
  7. https://www.merdeka.com/trending/menilik-kembali-kisah-sutami-menteri-termiskin-yang-disayang-soekarno-dan-soeharto.html

Sumber foto: website Alumni ITB

Reaksi Anda:

Loading spinner