Selama ini, perawatan gigi sering dipersempit pada urusan senyum putih dan napas segar. Padahal, rongga mulut adalah gerbang utama tubuh. Di sinilah tempat makanan pertama kali diproses. Di sinilah mikroorganisme dan sinyal kesehatan masuk sebelum memengaruhi sistem pencernaan, imunitas, hingga fungsi kognitif.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kesehatan mulut berkaitan erat dengan berbagai kondisi sistemik, mulai dari gangguan metabolik hingga kesehatan otak. Tak heran jika pendekatan natural dan holistik dalam perawatan gigi kini semakin mendapat perhatian.
Baca juga: Merawat Tubuh dari Dapur: Workshop Jamu Pusaka Indonesia di Bogor
Jika Anda ingin meningkatkan rutinitas perawatan gigi secara alami, inilah panduan terkini yang perlu Anda ketahui.
Saatnya Meninjau Ulang Pasta Gigi
Menyikat gigi dua kali sehari—setelah makan dan sebelum tidur—tetap menjadi fondasi utama. Namun kini, perhatian beralih pada kandungan pasta gigi. Banyak pasta gigi konvensional mengandung deterjen dan bahan sintetis yang dapat mengganggu flora normal mulut. Karena itu, semakin banyak orang memilih pasta gigi berbahan alami yang lebih ramah bagi mikrobioma dan tubuh secara keseluruhan.
Beberapa bahan yang kini banyak dihindari antara lain: Fluoride, Sodium Lauryl Sulfate (SLS) & Sodium Laureth Sulfate (SLES), Titanium dioxide, Paraben dan triclosan, PEGs, Pemanis dan pewarna buatan, alkohol, dan etanol.
Mengapa fluoride dipertanyakan? Tinjauan ilmiah dari National Research Council dan National Toxicology Program menunjukkan bahwa paparan fluoride dalam kadar tertentu berpotensi dikaitkan dengan gangguan neurologis, endokrin, serta penurunan skor IQ pada anak. Temuan ini mendorong banyak praktisi dan konsumen untuk mempertimbangkan alternatif yang lebih alami.
Bahan aktif alami yang kini banyak digunakan, antara lain: calcium carbonate, activated charcoal, Virgin Coconut Oil (VCO), dan lempung bentonite.
Gunakan Alat Pembersih Lidah (Tongue Scrapper)
Membersihkan gigi saja tidak cukup. Lidah adalah tempat favorit bakteri dan jamur berkembang, yang sering kali menjadi penyebab bau mulut dan ketidakseimbangan mikrobioma.
Tongue scraping—praktik sederhana yang hanya memakan waktu beberapa detik—terbukti membantu mengurangi plak dan bakteri di permukaan lidah, menjaga kesegaran napas secara alami, dan mendukung proses pencernaan melalui stimulasi saliva.
Tip: Gunakan pembersih lidah berbahan stainless steel atau tembaga, dan jadikan ini ritual pagi harian.
Baca juga: Redakan Flu Batuk dengan Jamu
Gunakan Obat Kumur Tanpa Alkohol
Sensasi segar dari obat kumur beralkohol seringkali menipu. Alkohol dapat mengeringkan mulut dan merusak keseimbangan mikrobioma, terutama jika digunakan rutin.
Sebagai alternatif, pilih larutan alami yang lembut namun efektif, seperti:
- Air garam (garam krosok/garam laut)
- Seduhan teh hijau yang kaya antioksidan
- Air lidah buaya untuk efek astringent alami
Pendekatan ini mendukung kesehatan mulut tanpa efek samping jangka panjang.
Jaga Pola Makan
Apa yang Anda makan memiliki dampak langsung pada kesehatan gigi dan gusi.
✔️ Perbanyak konsumsi:
Sayuran hijau dan kacang-kacangan (sumber kalsium alami).
Ikan berlemak dan jamur (vitamin D).
Buah-buahan dan minuman kaya antioksidan.
Teh hijau.
❌ Batasi:
Gula rafinasi.
Makanan ultra-proses.
Sebagai pelengkap, herbal dan jamu seperti kunyit, cengkeh, daun sirih, asam jawa, kayu manis, dan lidah buaya telah lama digunakan sebagai pendukung kesehatan gigi dan tubuh secara holistik.
Baca juga: Belajar Herbal untuk Sistem Pernapasan
Start Early, Stay Consistent
Perawatan terbaik selalu dimulai sebelum masalah muncul. Kebiasaan kecil—menyikat gigi dengan lembut, memilih produk yang lebih bersih, dan pilihan asupan—memberikan dampak besar dalam jangka panjang.
Merawat dan menjaga gigi secara alami ternyata bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud kesadaran untuk menghargai kesehatan diri secara menyeluruh (holistik). Mari sayangi tubuhmu dengan cara natural!
Natalia Puri Handayani
Ketua Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia
Referensi:
- National Toxicology Program monograph on the state of the science concerning fluoride exposure and neurodevelopment and cognition: a systematic review. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39172715/
- Fluoride Exposure and Children’s IQ Score A Systematic Review and Meta-Analysis. https://jamanetwork.com/journals/jamapediatrics/fullarticle/2828425?utm_campaign=articlePDF&utm_medium=articlePDFlink&utm_source=articlePDF&utm_content=jamapediatrics.2024.5542
Sumber foto: canva.com
Reaksi Anda:




