Saat berkenalan dengan batik dari Lasem, Cirebon, atau Pekalongan, maka kita akan menjumpai motif yang sangat populer ini. Seekor burung yang anggun dengan bulu yang indah, berwarna cerah, dengan ekor yang panjang menjuntai. Orang barat menyebutnya phoenix. Tapi pembatik pesisir Jawa menyebutnya sebagai burung hong.

Dalam mitologi Tiongkok, burung hong disebut juga sebagai fenghuang,  alias phoenix khas Tionghoa. Ini adalah sejenis burung legendaris dengan makna filosofis yang mendalam. Konon, ia melambangkan keanggunan, kemakmuran, dan keberuntungan.

Lalu, mengapa burung hong menjadi salah satu motif batik pesisiran yang populer?

Semuanya bermula pada berabad-abad silam, ketika terjadi perdagangan antara orang Tionghoa dan masyarakat Jawa. Nyatanya, hubungan yang terjalin bukanlah perdagangan semata, tetapi membentuk sebuah akulturasi (proses ketika dua budaya berbeda bertemu lalu saling mempengaruhi, tanpa menghilangkan budaya asli masing-masing,-red). Orang-orang Tionghoa dan Jawa hidup bersama, saling berbagi kisah dan kebiasaan. Termasuk tentang kisah burung hong yang indah, yang pada akhirnya menjadi salah satu motif kebanggaan batik pesisiran.

Baca juga: Mengenal Batik, Ragam Hias dan Filosofinya

Perdagangan antara orang-orang Tionghoa dan masyarakat pesisir Jawa sudah terjadi sejak lama. Melalui jalur sutra maritim, pada pedagang Tiongkok datang membawa berbagai macam barang mewah seperti sutra, porselen, dan keramik untuk ditukarkan dengan rempah-rempah dan hasil bumi. Dalam perjalanannya, mereka kemudian tidak sekedar berdagang. Banyak di antara mereka yang kemudian menetap di daerah-daerah pesisir.

Puncak migrasi terjadi pada era Revolusi Kebudayan pada abad 19-20, ketika orang-orang Tionghoa meninggalkan Tiongkok untuk menyelamatkan diri dari kerusuhan. Mereka tinggal di daerah-daerah dekat pelabuhan. Membangun keluarga, berdagang, dan membaur dengan pribumi. Banyak di antara orang-orang Tionghoa ini yang kemudian menikah dengan masyarakat setempat.

Sejumlah sumber menyebutkan bagaimana orang-orang Tionghoa mulai berkenalan dengan batik. Konon, mereka ingin pakaian .yang menyatu dengan budaya setempat, namun dengan tidak melupakan asal-usulnya. Lalu mereka mulai membuat pakaian dari batik. Namun batik itu, dibuat dengan motif yang mencerminkan budaya mereka. Mereka menentukan motifnya, lalu meminta orang Jawa menggambarkan motif tersebut dengan malam (lilin) pada sehelai kain.

Dalam beberapa dekade, banyak orang Tionghoa yang kemudian membuka usaha batik dan bekerjasama dengan pembatik dari kalangan masyarakat Jawa. Maka tak heran jika motif-motif yang menunjukkan ciri khas Budaya Tionghoa–termasuk motif burung hong tersebut–menjadi sangat populer dan banyak ditemukan. Hubungan ini, tentu lebih dari sebatas hubungan profesionalisme pekerjaan. Kita bisa melihat bahwa di sana ada sebuah kolaborasi yang indah. Orang-orang Tionghoa membagikan kisahnya, lalu orang-orang Jawa menorehkan kisah itu pada sehelai kain dengan goresan canting yang penuh ketelitian hingga menghasilkan pola batik yang cantik. Tentu lewat proses yang panjang dan penuh kesabaran. Motif burung hong bukanlah sebuah motif yang mudah dan sederhana.

Pada dasarnya, kisah burung hong pada motif batik ini, hanya satu dari sekian banyak akulturasi budaya. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa, pada dasarnya motif batik khususnya batik pesisiran, banyak dipengaruhi oleh kegiatan perdagangan. Beberapa motif batik, di antaranya ada yang dipengaruhi oleh budaya India dan Arab, yang juga diawali dengan kisah hubungan perdagangan.

Burung hong pada sehelai kain batik, bukan sekadar simbol jenis fauna. Ia menyimpan banyak cerita. Di balik setiap corak warnanya yang terang, tersimpan goresan doa dan harapan bagi orang-orang Tionghoa. Tentang keselamatan, keberlimpahan, dan umur panjang. Yang awalnya sekedar mampir untuk berdagang, lalu kemudian memilih untuk tinggal dan hidup bersama, menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan orang-orang Jawa. Bahkan, sebagian dari mereka membangun keluarga dan melahirkan garis keturunannya di tanah Jawa. 

Akulturasi budaya dalam selembar batik menjadi bukti keterbukaan dan keramahan leluhur kita pada budaya luar. Perbedaan budaya bisa dijembatani dengan karya seni yang memperkaya budaya masing-masing dan menghasilkan mahakarya yang indah. Orang-orang Tionghoa mempercayakan pembuatan batik yang halus dan rumit pada orang-orang Jawa dengan keterampilan mencanting yang luar biasa. 

Baca juga: Menjaga Batik, Menjaga Warisan Budaya Luhur Nusantara

Pusaka Indonesia dan Upaya Mengembalikan Kejayaan Batik

Sejak 2009, UNESCO telah menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda. Hal ini tentu dilandaskan pada fakta sejarah, bahwa batik telah ada sejak zaman dahulu kala, mewarnai berbagai jejak sejarah dari masa ke masa. Metode membatik dengan teknik mencanting adalah keahlian yang diwariskan turun-temurun. Namun tidak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi membuat makna batik tergerus zaman.

Pusaka Indonesia sebagai sebuah perkumpulan kebangsaan dengan misi mengembalikan kejayaan Trisakti, berupaya menumbuhkan kesadaran masyarakat luas untuk mencintai seni wastra, terutama batik. Secara reguler, Pusaka Indonesia menyelenggarakan Workshop Wastra yang bekerjasama dengan berbagai kalangan.

Pada 4 April 2026, Bidang Seni Budaya Pusaka Indonesia kembali menyelenggarakan Workshop Batik dengan tema “Fauna yang Bercerita: Rahasia Motif Batik di Kehidupan Kita”. Ini merupakan workshop wastra yang ketujuh kalinya dan mengusung tema yang istimewa. 

“Topik motif fauna dan maknanya selama ini masih jarang diperbincangkan oleh masyarakat umum,” papar Titya Sumarsono, Koordinator Wastra, Bidang Seni Budaya, Pusaka Indonesia. 

 

Aniswati Syahrir
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten

Reaksi Anda:

Loading spinner