Kita sering terpesona pada keindahan motif bunga di kain batik. Jenis batik yang banyak menampilkan motif bunga, salah satunya dapat ditemukan pada batik encim. Namun, pernahkah kita mempertanyakan apa arti di baliknya?
Ternyata, bunga-bunga pada batik encim sarat cerita, perjalanan panjang, dan perjumpaan antar banyak budaya. Batik encim tumbuh di lingkungan masyarakat Peranakan Tionghoa, terutama di Pekalongan, Lasem, dan sejumlah kota pesisir Jawa. Kota-kota yang dulunya merupakan pelabuhan besar ini sejak lama menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa.
Sekilas, batik encim langsung menarik perhatian lewat warnanya yang cerah, mulai dari merah, kuning, hijau, merah muda, hingga ungu. Di balik warna itu ada garis-garis halus dengan detail rumit, hasil kesabaran dan ketelitian para pembatiknya. Dan di antara garis-garis itulah bunga-bunga bermekaran, membawa corak dari tradisi Tionghoa maupun dari lingkungan tropis setempat. Dari sekian banyak bunga yang mekar di kain encim, ada lima jenis bunga yang paling sering muncul.
1. Peony

Motif batik bunga peony (sumber foto: pinterest)
Peony adalah bunga berkelopak besar, berlapis-lapis, dan tampak megah. Dalam budaya Tionghoa, bunga ini melambangkan kemakmuran, kehormatan, dan keanggunan. Tampilannya yang menonjol membuat peony sering dijadikan motif utama, dengan bunga lain mengelilinginya.
2. Krisan

Motif batik bunga krisan (sumber foto: pinterest)
Krisan banyak muncul pada batik encim klasik Pekalongan. Kelopaknya tipis dan memanjang, tersusun rapi seperti kipas. Dalam budaya Tionghoa, bunga ini melambangkan panjang umur dan ketenangan. Kesannya memang lebih kalem dibanding peony yang megah. Jejak krisan sendiri terlihat pada koleksi museum. Sarung buatan Lien Metzelaar–pembatik Belanda dari Pekalongan pada sekitar tahun 1890–menampilkan bunga krisan besar pada salah satu bidangnya. Dalam tradisi Peranakan Pekalongan, krisan juga dikenal sebagai seruni. Corak seruni disebut sebagai motif paling tersohor dari batik peranakan Tionghoa, dengan makna keanggunan dan kesejahteraan di usia senja.
3. Teratai

Motif batik bunga teratai (sumber foto: pinterest)
Teratai berbentuk sederhana, dengan kelopak besar yang simetris. Bunga ini menjadi simbol kesucian dan kebangkitan, karena ia tumbuh dan mekar dari lumpur. Pada batik encim, teratai biasanya dipadukan dengan motif geometris atau awan, sehingga tampak mengambang dalam komposisi yang tenang.
Contohnya bisa dilihat pada sarung Lasem dari sekitar tahun 1910 yang terdapat pada koleksi The Los Angeles County Museum of Arts (LACMA), Amerika Serikat. Motif tersebut menampilkan dua pohon teratai berbunga digambar bergaya dan saling berhadapan, seolah bercermin.
4. Mawar

Motif batik bunga mawar (sumber foto: pinterest)
Mawar pada batik encim dipengaruhi gaya Eropa sekaligus Tionghoa. Kelopaknya menggulung membentuk spiral, dengan bentuk bunga yang membulat penuh. Motif ini umumnya ditemukan pada batik encim modern.
Pengaruh Eropa itu punya riwayat yang jelas. Motif buketan, yaitu rangkaian bunga, berasal dari batik Belanda yang dibuat perempuan Indo-Eropa di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Kelompok lain, termasuk masyarakat Peranakan Tionghoa dan pribumi, kemudian membuat dan memadukannya dengan unsur budaya mereka sendiri.
5. Kembang Sepatu

Motif batik kembang sepatu (sumber foto: pinterest)
Motif bunga kembang sepatu dipengaruhi flora tropis Nusantara. Kelopaknya besar dan mekar penuh, sehingga memberi sentuhan lokal pada komposisi batik encim. Tampilannya mengingatkan bahwa kain ini tumbuh di tanah Jawa, meski akar budayanya terbentang jauh.
Jika dilihat bersama, kelima bunga ini membentuk sebuah taman. Peony dan krisan datang dari tradisi Tionghoa, teratai hadir lintas budaya, mawar membawa jejak Eropa, dan kembang sepatu tumbuh dari tanah Nusantara.
Taman itu juga punya penghuni. Pada kain pesisir, rangkaian bunga sering ditemani kupu-kupu dan burung hong. Burung hong melambangkan kebajikan dan pencapaian. Bunga, kupu-kupu, dan burung hong sama-sama membawa harapan baik bagi pemakainya. Batik encim menunjukkan bahwa identitas yang kaya bisa lahir dari perjumpaan, dan bahwa keindahan sering muncul ketika yang berbeda diberi ruang untuk berdampingan.
Ingin mendengar lebih banyak cerita dari kain? Datanglah ke Talkshow Wastra “Flora Bertutur: Jejak Alam dalam Wastra Nusantara.”
Sabtu, 14 November 2026
Pukul 09.00 – 13.00 WIB
Tempat: Club Venue Menara Imperium Lt.7, Jl. HR Rasuna Said Kav 1, Jakarta
Daftar: https://www.instagram.com/p/DdbtcZzhqle/
Ficky Yusrini
Kader Pusaka Indonesia Jawa Barat
Reaksi Anda:




