Indonesia memiliki beragam aksara yang dahulu digunakan untuk berkomunikasi secara tertulis, mencatat sastra, hingga merekam sejarah. Salah satunya adalah aksara Jawa yang biasa disebut Hanacaraka. Kini, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, upaya mengenalkan dan melestarikan aksara Jawa terus dilakukan, termasuk melalui pembelajaran di sekolah dan digitalisasi.  Dari goresan tangan para leluhur hingga layar digital masa kini, aksara Jawa terus mencari ruang untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dalam upaya pelestarian inilah, Pusaka Indonesia turut ambil peran. Secara rutin, Pusaka Indonesia Wilayah Yogyakarta mengadakan kegiatan belajar Nguri-uri Aksara Jawa yang dilaksanakan setiap hari Jumat. Terdapat 9 orang kader Pusaka Indonesia yang ikut belajar, namun kegiatan ini juga pada dasarnya dibuka untuk umum. 

Baca juga: Semangat Para Kader Yogyakarta dalam Mempersembahkan Tari Soyong di Panggung Sendratari

Titya Sumarsono-Perry, yang akrab dipanggil Tya selaku PIC Sanggar Seni Pusaka Indonesia Yogyakarta menyampaikan tujuan dan manfaat edukasi dari kegiatan belajar Nguri-uri Aksara Jawa ini. Menurut Tya, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan minat dan rasa cinta terhadap warisan budaya berupa aksara.

“Cara belajarnya sangat santai diselingi candaan. Kami duduk lesehan beralaskan tikar di teras depan Rumah Pusaka Indonesia (RPI) Yogyakarta. Tidak lupa kami selalu menyiapkan cemilan biar tidak lapar dan tegang saat belajar,” ungkapnya dengan candaan.

Materi yang diajarkan juga menyesuaikan dengan kemampuan peserta yang semuanya masih pemula. Dimulai dari perkenalan aksara Jawa dasar HaNaCaRaKa DaTaSaWaLa PaDhaJaYaNya MaGa BaThaNga. Tata bahasa aksara penunjang lainnya seperti aksara mudra, swara, dan angka juga dipelajari secara bertahap, termasuk pendalaman materi mengenai unsur serapan bahasa asing. 

Selain belajar teori, peserta juga melakukan praktik langsung dalam menulis dan membaca secara bergantian. Kegiatan belajar pun masih diulang-ulang hingga peserta mulai hafal. Selain itu, agar proses belajar tidak membosankan, ada selingan diskusi tentang budaya Jawa dan makna kata dalam bahasa Jawa yang masih asing.

Tya menuturkan, belajar aksara ibarat membuka kembali buku lama yang bahasanya belum dipahami. Prosesnya membutuhkan ketelitian dan kesabaran, serta sikap tidak mudah menyerah. Kesulitan yang dialami, umumnya adalah penghafalan setiap huruf, aturan dalam penulisan, pemenggalan kata, dan tata bahasa. Peserta masih perlu melihat contekan ketika proses menulis dan membaca. Selain itu, tantangan lainnya adalah banyaknya makna yang masih asing  dalam bahasa Jawa, sehingga peserta perlu mengerti maknanya terlebih dahulu sebelum mampu menuliskan dengan benar. 

Namun demikian, peserta tetap belajar dengan antusias. “Saya berharap agar teman-teman pembelajar tetap semangat dalam perjuangan melestarikan aksara Jawa,” ungkap Tya. Ia menambahkan, belajar aksara Jawa semestinya tidak berhenti pada kemampuan menulis, tetapi berlanjut menjadi semangat untuk menjaga dan mewariskannya. Sebab, warisan budaya tidak akan hidup jika hanya dikenang. Oleh karena itu, menurutnya, aksara Jawa harus tetap dipelajari, dan diteruskan kepada generasi berikutnya sehingga semua bisa mengenal, menghargai, dan menggunakannya dengan bangga.

Handono, Kader Pusaka Indonesia Wilayah Yogyakarta yang menjadi pengajar dalam kelas ini menuturkan, kelas ini juga memberinya kesempatan untuk kembali memperdalam keilmuan aksara Jawa yang ia miliki selama ini. Handono memiliki latar belakang akademik di bidang aksara Jawa. Namun, ia mengaku selama ini merasa kurang percaya diri untuk membagikan ilmunya tersebut kepada orang lain. “Saya bersyukur karena kepercayaan yang diberikan oleh Pusaka Indonesia seolah memaksa saya untuk mempelajari kembali apa yang sebelumnya jarang saya gunakan,” ucapnya.

Baca juga: Workshop Mencanting, Sebuah Upaya Mengenalkan Batik Pada Generasi Muda

Handono juga melihat adanya tantangan eksternal dalam pelestarian aksara dan Bahasa Jawa. Secara umum, seiring perkembangan zaman dan perubahan cara berkomunikasi masyarakat, terjadi pergeseran dalam penggunaan aksara tradisional ke aksara latin. Sebagai dampaknya, secara tidak sadar generasi sekarang memiliki pengetahuan terbatas terhadap aksara Jawa.

Menurut Handono, hal ini menjadi tantangan bersama sebagai generasi penerus identitas budaya bangsa untuk mampu menjaga dan menggunakannya dalam keseharian, dimulai dari keluarga. Ia berharap kehadiran kelas Nguri-uri Aksara Jawa ini dapat menjadi wahana belajar bersama bagi semua yang terlibat.  “Sebagai orang Jawa hendaknya kita memiliki rasa bangga bisa mewarisi budaya ini sehingga terus berusaha mengenal dan mempelajari kembali, agar dapat tetap lestari,” pungkas Handono.

 

Kadek Ayu Rinawati
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali

Reaksi Anda:

Loading spinner