Pancasila bukan sekadar deretan kata yang dihafalkan, melainkan panduan hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari. Demikian pesan utama yang disampaikan Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro (SHD), saat menjadi narasumber dalam Program Kopi Pro3 di RRI Pro 3, Jumat dini hari (8/5/2026), dalam tema “Pancasila di Sekitar Kita: Dari Nilai ke Tindakan Nyata”.
SHD membuka diskusi dengan menegaskan bahwa Pancasila memberikan panduan tentang 5 nilai utama — Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan — yang masing-masing menuntut pemahaman cara penerapannya dalam kehidupan nyata. Ia menyoroti tantangan terbesar yang dihadapi bangsa saat ini: jarak antara keyakinan dan praktik. “Kita ini terlalu berjarak dengan apa yang kita yakini sebagai kebenaran. Kita yakin ada nilai yang luhur, tapi praktik kita bisa bertolak belakang dengan nilai-nilai itu,” ujarnya.
Dalam menanggapi pertanyaan pendengar tentang anak-anak yang hafal Pancasila namun bingung mengamalkannya, SHD menegaskan bahwa cara paling efektif membangun karakter adalah melalui keteladanan. “Aksi (tindakan) lebih berbicara ketimbang ucapan. Kalau kita sebagai orang tua, sebagai guru, secara praktis menghayati dan mempraktikkan Pancasila, anak-anak didik kita juga akan melihat dan terinspirasi,” tegasnya.
Baca juga: Optimisme Pusaka Indonesia Sebagai Pemberi Solusi Lewat Aksi Nyata
SHD juga memaparkan bahwa Pancasila sesungguhnya digali dari nilai-nilai luhur yang sudah lama hidup dalam keseharian bangsa Indonesia, jauh sebelum nama “Indonesia” itu sendiri dikenal. “Pancasila ini bukan sesuatu yang baru. Dia adalah sesuatu yang sudah ada, sudah hidup dalam keseharian bangsa kita. Ketika kita menjadi kerajaan atau kesultanan yang besar, itu karena hidup dalam kesadaran Ketuhanan, kemanusiaan, dan seterusnya. Jati diri kita merujuk pada masa kejayaan itu,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menyimpulkan dua hal dari kejayaan bangsa di masa lampau. Pertama, masyarakat kala itu hidup dengan menghayati nilai-nilai esensi keilahian dalam diri. Kedua, Pancasila telah menjadi panduan hidup yang mencakup lima nilai utama tersebut.
Menariknya, sejumlah pendengar dari berbagai kota—Cilacap, Solo, Pasuruan, hingga Kalimantan Timur—menyoroti sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sebagai yang paling sering dilanggar dalam kehidupan sehari-hari dan seolah hanya menjadi retorika. Kasus kekerasan terhadap anak di sebuah day care di Yogyakarta menunjukkan sikap merendahkan orang lain, egoisme dan individualisme, menjadi contoh nyata yang disebut dalam diskusi.
Merespons hal ini, SHD menyatakan bahwa akar masalahnya terletak pada sistem pendidikan yang selama ini lebih menekankan kecerdasan akademik daripada pembentukan karakter. “Orang yang karakternya buruk itu buah pendidikan—baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan,” ujarnya.
SHD juga berbagi tentang bagaimana Pusaka Indonesia menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam organisasi. Langkah pertama yang ditanamkan kepada para kader adalah sikap bersyukur—kesadaran bahwa setiap tarikan napas adalah anugerah dari Tuhan. “Kalau kita betul-betul mengaku berketuhanan, mestinya sepanjang waktu kita ada dalam sikap bersyukur. Di setiap tarikan dan embusan napas, kita mendapatkan kasih sayang Tuhan,” ucapnya. Dari rasa syukur itu lahir tindakan nyata. Pusaka Indonesia secara konsisten menjalankan berbagai aksi: seperti iuran membangun hutan bambu, gerakan konservasi mata air, hingga pelestarian budaya dan wastra sebagai medium pembentukan karakter bangsa. “Kami tidak bisa berharap pemerintah melakukan semua ini. Kami mulai dari yang kami bisa,” tambah SHD optimis.
Baca juga: Membangun Semangat Patriotisme di Era Globalisasi
Di penghujung diskusi, SHD menyerukan agar seluruh warga bangsa membangun integritas —kesatuan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Bagi Pusaka Indonesia, perubahan tidak perlu menunggu kebijakan dari atas. “Perubahan itu harus kita yang menginisiasi. Kalau kita tidak melakukan yang terbaik, tidak akan kejadian apa-apa,” pungkasnya.
Nantikan Dialog Pancasila KOPIPro3 berikutnya bersama Setyo Hajar Dewantoro di RRI Pro 3, setiap Jumat dini hari, Pukul 00.00 – 02.00 WIB di https://rri.co.id/stream/radio dan Ngaji Pancasila setiap Senin pukul 22.00 WIB di Facebook Setyo Hajar Dewantoro. Ikuti terus kegiatan Pusaka Indonesia di www.pusakaindonesia.id.
Esti Rahayu
Kader Pusaka Indonesia Bali
Reaksi Anda:




