Dalam menjalankan nilai-nilai Pancasila, kita tidak bisa hanya menunggu pemerintah memberi contoh. Nilai-nilai Pancasila justru harus mulai dipraktikkan dari diri sendiri. Hal ini disampaikan oleh Setyo Hajar Dewantoro, Ketua Umum Pusaka Indonesia, saat menjadi narasumber dalam program Kopi Pro 3 di Radio Republik Indonesia pada 14 Mei lalu.

“Pancasila pertama-tama memang idealnya dihayati dan dijalankan oleh mereka yang memegang kekuasaan, lalu rakyat mengikuti. Tapi kalau kita terus saling menuntut seperti itu, tidak akan pernah selesai,” ujarnya. Menurut Setyo, sebagai rakyat kita tetap bisa menjalankan nilai-nilai Pancasila sesuai kapasitas masing-masing. Ia mencontohkan apa yang dilakukan komunitas Pusaka Indonesia, yang terus mengajak anggotanya kembali pada jati diri bangsa.

“Kalau ingin Indonesia kembali bangkit sebagai bangsa yang kuat, kita harus kembali kepada jati diri bangsa dan nilai luhur yang sudah kita sepakati bersama. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, dan seterusnya harus benar-benar dihayati,” katanya.

Baca juga: Membumikan Nasionalisme: Dari Ruang Diskusi Menuju Aksi Nyata

Setyo menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dimulai dengan mengendalikan orang lain, melainkan dengan membenahi diri sendiri terlebih dahulu.

Menanggapi pertanyaan pendengar mengenai relevansi Pancasila di era modern, Setyo menilai bahwa nilai-nilai Pancasila justru sangat relevan diterapkan melalui langkah-langkah kreatif dan praktis. Ia mencontohkan kegiatan Pusaka Indonesia yang beberapa waktu lalu masuk ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos.

“Nilai-nilai Pancasila itu harus diterapkan dengan cara yang kreatif dan praktis. Misalnya mengajarkan bagaimana sampah rumah tangga bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan,” ujarnya.

Ia optimistis bahwa jika dilakukan secara konsisten, semangat Pancasila akan kembali hidup di tengah masyarakat.

“Kita tidak bisa menunggu siapa pun untuk menjalankan Pancasila. Mulailah dari diri sendiri dan dari lingkungan terdekat. Kalau dilakukan dengan konsisten, lama-lama akan semakin banyak orang yang ikut bergerak,” katanya.

Merespons kekhawatiran pendengar tentang semakin langkanya keteladanan di masyarakat, Setyo menegaskan bahwa prinsip keteladanan menjadi hal yang sangat diutamakan di lingkungan Pusaka Indonesia.

“Kami tidak bisa hanya berbicara tentang hal-hal ideal tanpa sungguh-sungguh menunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Baca juga: Menyelaraskan Persatuan dan Nasionalisme Menuju Indonesia Emas 2045

Menurutnya, dalam strategi kebudayaan, pengaruh dari sosok yang dapat dipercaya dan layak diteladani sangat besar. Karena itu, menghadirkan ruang-ruang diskusi seperti Kopi Pro menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan inspirasi dan kesadaran masyarakat agar mulai menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Di penghujung diskusi, Setyo mengajak masyarakat untuk mulai bergerak dan berkontribusi sesuai bidang keahlian masing-masing.

“Realisasi semangat Pancasila adalah gotong royong. Apa yang bisa kita berikan untuk bangsa ini, lakukan tanpa sibuk memikirkan apa yang akan kita dapatkan. Semangat itulah yang kami hidupkan agar bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang,” ujarnya.

Sebagai penutup, Setyo mengajak masyarakat untuk memilih berkontribusi daripada sekadar mengeluhkan keadaan.

“Kita akui negara ini masih punya banyak kekurangan. Tapi kita tetap bisa berbuat sesuatu. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita, mulai dari lingkungan terkecil dan terdekat, dengan jiwa Pancasila. Karena ketika api itu dinyalakan, perubahan pasti akan terjadi,” pungkasnya.

 

Esti Rahayu
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali

Reaksi Anda:

Loading spinner