Siaran rutin Kopi Pro 3 di Radio Republik Indonesia (RRI) yang menghadirkan Ketua Umum Pusaka Indonesia Setyo Hajar Dewantoro (SHD) pada 3 Juli 2026 lalu membahas tentang kemajemukan dan perbedaan. Dalam paparannya, SHD menjelaskan bahwa perpecahan yang terjadi, seringkali muncul dari perbedaan pilihan dan keyakinan dalam hidup. Misalnya, perbedaan politik, dan perbedaan agama, hingga perbedaan status sosial.
Namun, SHD kembali mengingatkan bahwa, perbedaan di antara manusia adalah sebuah keniscayaan yang natural. Tidak mungkin bisa dihindari karena sejak awal setiap manusia pasti lahir dalam keadaan yang berbeda. “Bahkan yang satu keturunan saja bisa berbeda. Maka yang harus dipastikan adalah sikap mental kita, bagaimana agar dalam perbedaan natural ini kita tidak terpecah belah,” tutur SHD.
Jika kita kembali ke nilai-nilai Pancasila, ia menambahkan, kuncinya ada pada sila Ketuhanan yang Maha Esa. Sebab jika kita hidup dalam kesadaran Ketuhanan, kita dididik untuk tidak bersikap egoistik. Sebaliknya, kita dilatih untuk menjadi humanis dan tidak diskriminatif. Dengan semangat Ketuhanan, kita akan menyadari bahwa kita yang berbeda-beda ini berasal dari satu sumber yang sama. Kesadaran inilah yang akan mengikat kita dalam satu kebangsaan dan kemanusiaan.
Lalu jika merujuk pada sejarah, SHD menjelaskan bahwa kesadaran kita sebagai sebuah bangsa telah dibentuk beberapa puluh tahun sebelum kita menjadi negara merdeka, lewat Sumpah Pemuda. Saat proklamasi Sumpah Pemuda tersebut, bangsa kita masih hidup sebagai kerajaan-kerajaan dengan beragam suku. Lalu kemudian, lahirlah Pancasila sebagai sebuah konsensus, yang menjadi nilai yang dipegang bersama bahwa semua bangsa tanpa terkecuali, hidup dengan landasan yang sama, yakni Ketuhanan, Kerakyatan, Kemanusiaan, dan Keadilan.
Baca juga: Menginternalisasi Makna Pancasila di Era Modern
Apa Tantangan Terbesar Persatuan Saat ini?
Bagi SHD, tantangan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dalam membangun persatuan adalah friksi politik. Seiring dengan demokratisasi, masing-masing kelompok dalam lingkup satu agama atau suku bisa sangat keras saat terjadi perbedaan pendapat. “Apalagi di era sosial media seperti sekarang, sosial media kadang jadi ruang berantem itu sendiri,” jelasnya. Menurut SHD, inilah yang menjadi tantangan terbesar kita saat ini dalam menjaga persatuan.
Jika kita kembali pada rumusan nilai Sila Ketuhanan yang Maha Esa, yang fundamental adalah menyadari keberadaan Tuhan yang Maha Esa. “Sebab jika bertuhan, maka kita akan punya rahmat dalam hati. Implikasinya adalah memperlakukan orang lain dengan beradab dan non diskriminatif,” jelasnya.
Salah seorang pendengar RRI, Zakaria dari Palembang, memberikan tanggapan tentang hilangnya wadah pembelajaran Pancasila saat ini. Pancasila tidak lagi memiliki tempat khusus. “Dulu ada penataran Pancasila, tapi sekarang tidak ada lagi. Padahal, Pancasila ini sangat penting untuk mempersatukan bangsa agar tidak terpecah belah,” ucap Zakaria. Ia berharap wadah pembelajaran seperti ini bisa dihidupkan kembali di sekolah-sekolah.
Menanggapi hal ini, SHD mengungkapkan bahwa mengamalkan nilai-nilai Pancasila harus dimulai dari diri sendiri. Indonesia membutuhkan keteladanan dari manusia-manusianya, yang bisa dimulai dengan sikap mencintai tanah air dengan sepenuh hati. “Kita cintai negeri kita yang berbeda-beda suku, karena kita diikat oleh kemanusiaan. Kita bertuhan yang sama, yang menciptakan Jagat Raya.”
Latar belakang SHD tergerak menghayati nilai-nilai luhur Pancasila dan sangat percaya bahwa Pancasila adalah kunci pemersatu bangsa, ia menceritakan kisah persahabatan antara Bung Karno dan Josip Broz Tito, Presiden Yugoslavia yang berkuasa pada 1953 hingga 1980. Meski bersahabat, keduanya ternyata memiliki pandangan dan sikap yang berbeda tentang makna persatuan. Presiden Tito sangat yakin dengan kekuatan militer. Sementara Bung Karno tetap teguh pada pendiriannya bahwa Pancasila sebagai way of life bagi bangsa Indonesia adalah kunci pemersatu.
Belasan tahun kemudian, Yugoslavia terpecah menjadi 6 negara berdaulat: Slovenia, Kroasia, Makedonia Utara, Boznia dan Herzegovina, Montenegro, dan Serbia. Sementara Indonesia, hingga saat ini masih utuh karena memiliki Pancasila. Bagi SHD yang memiliki latar belakang panjang sebagai aktivis, inilah bukti kesaktian Pancasila.
Baca juga: Membumikan Nasionalisme: Dari Ruang Diskusi Menuju Aksi Nyata
Berangkat dari kisah tersebut, SHD optimis bahwa dengan tetap mengamalkan nilai-nilai Pancasila, Indonesia bisa bangkit dan ke depan menjadi mercusuar dunia. “Tidak perlu menjadi yang paling kuat secara ekonomi, politik, dan militer. Tetap kita bisa menjadi pemandu dan sebagai contoh negara yang bersatu dengan keberagamannya,” pungkasnya.
Aniswati Syahrir
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten
Reaksi Anda:




