Jumat dini hari pada 24 April, ada yang berbeda dari ruang siar Kopi Pro3 Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Siaran malam itu menghadirkan Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro (SHD) sebagai narasumber, dengan tema “Menjalani Hari dengan Semangat Pancasila”.  Ada sebuah topik perbincangan yang lebih dari sekadar sebuah formalitas siaran, namun membawa kita pada sebuah refleksi yang mendalam: “Benarkah Pancasila masih hidup sebagai nafas dalam tiap langkah kita, atau ia hanya sisa-sisa hafalan yang mulai pudar ditelan bisingnya dunia digital?”

SHD menjelaskan, ada sebuah paradoks pada bangsa kita saat ini: Banyak orang bicara tentang pentingnya Pancasila, tetapi tetap mengkhianati nilainya. Pernyataan ini bukan sekadar keluhan, ia adalah diagnosis tajam atas jurang antara nilai yang diklaim dengan perilaku hidup. “Itu yang membuat banyak orang, terutama publik dan rakyat kebanyakan menjadi skeptis ketika kita bicara tentang Pancasila,” papar SHD

Baca juga: Terapan Ekonomi Pancasila: Kunci Mewujudkan Kemerdekaan yang Seutuhnya

Pancasila, lanjut SHD, bukan hanya sekadar dasar negara. Ia adalah sebuah filosofi agung yang mestinya membentuk cara kita berpikir. “Ringkasnya, orang yang berpancasila pasti berketuhanan, berperikemanusiaan, dan berkeadilan,” lanjutnya. Namun problemnya, masih banyak orang yang tidak sungguh-sungguh bertanggung jawab pada kata ‘Berketuhanan’. Sehingga, meski bibir menyatakan tentang Tuhan, isi hatinya mengingkari dan tindakannya bertolak belakang dengan semangat Ketuhanan itu sendiri. 

SHD memberikan sebuah contoh sederhana, tentang bagaimana kita mengelola sampah yang kita hasilkan. Ketika kita punya kesadaran Ketuhanan, maka kita tidak akan melangkah dengan sembrono. Dan, tentu tidak punya rasa tega membuang sampah asal-asalan. “Kalau saya buang sampah asal-asalan, itu rasa tidak hormat saya kepada Ibu Bumi,” kata SHD. Kalimat sederhana itu merangkum sila pertama dalam wujud paling konkret. Bukan ceramah teologis, melainkan laku harian yang berakar pada kesadaran.

Pentingnya Menghidupkan Semangat Pancasila

Respons para pendengar RRI dari berbagai daerah menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian besar terhadap pentingnya menghidupkan kembali semangat Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejumlah pendengar menilai nilai-nilai Pancasila masih sangat relevan sebagai pedoman hidup bangsa, namun tantangannya terletak pada penghayatan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang pendengar Kopi Pro3 turut memberikan pandangannya lewat sambungan telepon. Arman, yang berasal dari Kalimantan Timur, menanggapi fenomena berbangsa, terutama soal maraknya kasus korupsi. Ia menyatakan sangat prihatin dengan maraknya kasus korupsi yang bertentangan dengan penerapan Pancasila, terutama sila Ketuhanan yang Maha Esa dan pada sila tentang Keadilan Sosial. “Kita banyak ingkar pada sila ini. Banyak yang jadi koruptor dan maling,” ucapnya. 

Menanggapi hal tersebut, SHD menyatakan, di sinilah letak gagalnya kita memahami esensi sila Ketuhanan. “Ini mungkin yang harus kita gali. Kenapa orang yang sudah menyatakan beragama, tapi tetap korupsi juga? Ini karena banyak yang gagal menginternalisasi kesadaran Ketuhanan,” jelas SHD. 

Baca juga: Membangun Semangat Patriotisme di Era Globalisasi

Kembali ke sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, SHD menawarkan tafsir yang lebih transenden: berketuhanan bukan soal atribut di KTP, melainkan soal kesadaran yang mengubah cara bertindak. Dalam tradisi Islam dikenal istilah muraqabah kesadaran akan pantauan Yang Maha Melihat. Dalam tradisi Jawa, ada eling lan waspada. Keduanya konvergen: seseorang yang sungguh-sungguh menghayati Ketuhanan tidak akan bertindak sembrono. 

Selain itu, SHD juga menekankan pentingnya sinergi seluruh elemen masyarakat atau Pentahelix dalam menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, ketika berbagai pihak seperti pemerintah, media, komunitas, dan masyarakat saling mendukung, maka akan muncul kekuatan yang lebih besar untuk menyebarkan semangat kebajikan. Beliau juga mengajak masyarakat untuk lebih optimis dan memperbanyak menyebarkan contoh positif di tengah berbagai persoalan bangsa. Banyak gerakan dan komunitas di Indonesia yang menunjukkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial.

Sebagai penutup dialog, SHD mengajak masyarakat untuk kembali membangun budaya adab, gotong royong, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menegaskan bahwa di tengah berbagai tantangan zaman, Pancasila tetap menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa Indonesia.

Nantikan Dialog Pancasila KOPI Pro3 berikutnya bersama Setyo Hajar Dewantoro di RRI Pro 3, setiap Jumat dini hari, Pukul 00.00 – 02.00 WIB di https://rri.co.id/stream/radio dan Ngaji Pancasila setiap Senin pukul 22.00 WIB di Facebook Setyo Hajar Dewantoro. Ikuti terus kegiatan Pusaka Indonesia di www.pusakaindonesia.id

 

Wisnu Aji Negara & Widya Rahmadani
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten

Reaksi Anda:

Loading spinner