Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup bersama. Namun, di tengah berbagai seremoni yang digelar setiap tahun, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut mengemuka dalam dialog Kopi Pro 3 RRI Jakarta yang digelar pada Kamis dini hari (5/6), menghadirkan Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro (SHD), sebagai narasumber.

Menurut SHD, salah satu tantangan utama yang dihadapi bangsa saat ini berasal dari dalam diri masyarakat sendiri. Ia menilai terjadi kecenderungan untuk lebih banyak membicarakan nilai-nilai luhur daripada menjalankannya dalam kehidupan nyata. “Dari sisi internal memang belakangan ini orang lebih suka membicarakan nilai-nilai ketimbang menjalankannya. Kita punya kecenderungan untuk verbalistik. Jadi kalau ngomong tentang yang ideal itu kita pintar, tapi ketika menjalankannya itu sebuah tantangan tersendiri,” ujar SHD.

Baca juga: Menghidupkan Pancasila di Kampus, Dari Nilai ke Aksi Nyata

Selain itu, ia menyoroti krisis keteladanan yang membuat nilai-nilai Pancasila semakin sulit dihayati oleh masyarakat. Menurutnya, rakyat akan lebih mudah mengamalkan nilai luhur apabila melihat contoh nyata dari para pemimpin maupun figur publik yang mereka hormati.

“Pancasila sebagai sebuah nilai akan lebih mudah dihayati oleh rakyat kalau ada contoh dan teladan. Masalahnya, yang mestinya menjadi teladan kadang justru mencederai nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” katanya.

Di sisi lain, SHD juga mengingatkan adanya tantangan eksternal yang tidak bisa diabaikan. “Ada pihak-pihak luar yang tidak suka kita menjadi bangsa yang besar. Karena Indonesia memang berpotensi menjadi bangsa yang besar, maka akan dicari berbagai cara agar kita tetap kerdil, tidak selaras satu sama lain, bahkan berkonflik,” ujarnya.

Keprihatinan serupa disampaikan sejumlah pendengar yang mengikuti dialog tersebut. Suranto, pendengar dari Malang, menilai peringatan Hari Lahir Pancasila sering kali berhenti pada tataran formalitas.

“Menyedihkan ya, tiap tahun kita memperingati Pancasila, tapi kok hanya seperti formalitas. Kemarin kita dengar ada OTT (Operasi Tangkap Tangan), ada tindakan intoleransi. Harapan saya Pancasila tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Pendengar lain dari berbagai daerah juga menyoroti persoalan korupsi, lemahnya penegakan hukum, intoleransi, hingga minimnya keteladanan dari para pemimpin. Mereka berharap nilai-nilai Pancasila tidak sekadar menjadi hafalan atau slogan, melainkan hadir dalam kebijakan dan perilaku nyata.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, SHD menegaskan, “Problem kita adalah bagaimana nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan itu benar-benar terhayati dan dijalankan oleh semua lapisan masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter dan keteladanan merupakan dua kunci penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, membangun manusia yang berkarakter Pancasilais memang tidak mudah, tetapi harus terus diupayakan melalui pendidikan yang menyentuh kesadaran dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan itu, SHD juga mengajak masyarakat untuk menengok kembali perjalanan sejarah bangsa. Ia mengingatkan bahwa kesadaran sebagai bangsa Indonesia tidak lahir secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang yang melampaui perbedaan suku, agama, dan latar belakang.

“Coba bayangkan sebelum 1928. Saat itu yang ada adalah kesadaran kesukuan dan kesadaran keagamaan. Kesadaran sebagai bangsa Indonesia belum muncul. Sampai pada titik orang mau berkata ‘kita bangsa Indonesia’, itu merupakan perjuangan yang luar biasa,” paparnya.

Menurut SHD, lahirnya Republik Indonesia juga tidak lepas dari pengorbanan besar para pendahulu bangsa. Berbagai kerajaan, kelompok, dan komunitas bersedia melepaskan kepentingan masing-masing demi cita-cita bersama membangun Indonesia.

Baca juga: Mengajarkan Nilai-Nilai Pancasila kepada Generasi Muda Melalui Keteladanan

“Kalau kita menghargai semua perjuangan itu, semangat sebagai satu Indonesia harus terus dijaga dan dipelihara. Semangat itu lahir dari perjuangan luar biasa yang mengorbankan nyawa dan banyak hal lainnya,” ujarnya.

Menutup dialog, SHD mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada kritik dan keprihatinan, tetapi mulai menghadirkan nilai-nilai Pancasila melalui tindakan sederhana yang dapat dilakukan dari lingkungan terdekat.

“Mulailah melakukan yang terbaik yang kita bisa, tanpa terlalu banyak menghitung untung-rugi bagi diri sendiri. Dari kepedulian kepada tetangga, lingkungan, hingga gotong royong di masyarakat. Dari hal-hal sederhana itulah gelombang kebajikan dapat tumbuh dan menyebar,” ujarnya.

Nantikan Dialog Pancasila KOPI Pro 3 berikutnya bersama Setyo Hajar Dewantoro di RRI Pro 3, setiap Jumat dini hari, Pukul 00.00 – 02.00 WIB di https://rri.co.id/stream/radio dan Ngaji Pancasila setiap Senin pukul 22.00 WIB di Facebook Setyo Hajar Dewantoro. Ikuti terus kegiatan Pusaka Indonesia di www.pusakaindonesia.id, Facebook dan Instagram

 

Esti Rahayu, Ficky Yusrini
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali dan Wilayah Jawa Barat

Reaksi Anda:

Loading spinner