Syarat menjadi bangsa yang besar adalah setiap warganya memiliki karakter dan budi pekerti yang luhur, tercermin dalam perilaku keseharian—mulai dari budaya antre yang tertib, penghormatan terhadap hutan, gunung, dan sungai, hingga cara bermedia sosial yang santun. Demikian yang mengemuka dalam dialog Kopi Pro 3 yang disiarkan RRI Pro 3, yang mengangkat tema “Mewujudkan Indonesia Berkarakter melalui Pancasila”, Jumat dini hari (12/6). Dialog menghadirkan Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setyo Hajar Dewantoro (SHD), sebagai narasumber.
“Saya kalau jalan kaki di beberapa kota Eropa, saya merasa lebih aman karena mobil sangat menghargai pejalan kaki. Sementara di sini, menyeberang jalan saja susahnya setengah mati, karena tidak ada yang mau mengalah,” ujar SHD, menggambarkan salah satu contoh sederhana dari karakter bangsa yang masih perlu terus dibangun.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan gejala degradasi kesadaran kolektif yang berdampak pada merosotnya karakter dan budi pekerti bangsa. “Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang spiritual, bangsa yang religius, bangsa dengan ideologi dan tradisi yang luhur. Tetapi kita ini seperti tercerabut dari akar kita. Kita masuk ke dalam modernisme dalam kegamangan,” ujarnya.
SHD menilai kondisi ini diperparah oleh distrust antara rakyat dan pemerintah, di mana keteladanan dari para pemimpin belum sepenuhnya hadir. Hal ini tercermin dari maraknya kasus operasi tangkap tangan dan korupsi pejabat. “Itu menunjukkan pejabat dan pemerintah juga mengalami degradasi. Dan dalam hal ini, kita bisa katakan karena kita melupakan Pancasila,” tegasnya.
Baca juga: Menjalankan Pancasila Mesti Dimulai dari Diri Sendiri
Akar Masalah: Keluarga dan Pendidikan
SHD menyoroti bahwa kesalahan kolektif ini bermula dari institusi keluarga dan pendidikan yang gagal menanamkan budi pekerti luhur. Ia mencatat, pada era pasca-reformasi, orientasi pendidikan bangsa lebih condong pada pembangunan kecerdasan rasional dan kompetensi, kemampuan berkompetisi, ketimbang nilai-nilai luhur seperti kerukunan dan gotong royong.
Untuk mengatasi hal ini, SHD menekankan pentingnya dua ranah yang bergerak beriringan.
Pertama, ranah kebijakan negara—termasuk alokasi anggaran pendidikan yang lebih besar dan pembaruan orientasi pendidikan agar kembali pada gagasan Ki Hajar Dewantara, yakni pendidikan sebagai wahana membangun manusia dan kebudayaan yang luhur, dengan prinsip ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Kedua, ranah kontribusi masyarakat. Sebagai contoh, SHD memaparkan langkah Pusaka Indonesia dalam mengembangkan pendidikan bagi orang dewasa melalui pendekatan hening dan beraksi—bagaimana mengenali kembali nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam Pancasila, menghayatinya, dan mempraktikkannya dalam keseharian. “Yang kami lakukan sebetulnya adalah sebuah rekonstruksi agar budaya leluhur bisa kita hayati kembali,” jelas SHD.
Menanggapi pertanyaan tentang manusia berkarakter yang sedang ditanamkan di Pusaka Indonesia, SHD menjawab, hal ini berbicara tentang bagaimana manusia memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan.
“Dengan Tuhan, bagaimana kita selalu sadar akan kasih sayang-Nya setiap waktu. Kita bersyukur dan patuh kepada apa yang menjadi titah-Nya. Manifestasi kepatuhan ini tentu bisa berbeda-beda pada setiap orang. Namun, intinya adalah menyadari bahwa Tuhan merupakan sumber kehidupan dan bahwa Tuhan memiliki tuntunan yang membawa keselamatan. Itulah yang kita hayati sepenuh hati. Ini berkaitan dengan relasi yang sifatnya vertikal.”
Dalam hubungan dengan sesama manusia, SHD menambahkan, “Jika kita mengacu kepada Pancasila, khususnya sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tentu kita harus menyadari bahwa manusia satu dengan manusia lainnya saling terikat. Kita menghirup udara yang sama, tumbuh di tanah yang sama, dan meminum air yang sama. Oleh karena itu, seyogianya kita memiliki tepa selira, tenggang rasa, serta kasih sayang antar sesama. Kita memperlakukan siapa pun dengan adil, tanpa diskriminasi.”
Dalam hubungan dengan lingkungan, SHD memberi contoh, misalnya, tidak sembarangan membuang sampah. “Membuang sampah sembarangan sama saja dengan menistakan Ibu Bumi, tidak menghargai Ibu Bumi. Kita juga harus peduli bahwa masa depan kita bergantung pada sejauh mana mata air dapat dikonservasi, dirawat, dan dipelihara. Tanpa mata air, suatu saat kita semua hanya akan mengeluarkan air mata. Begitu pula dengan pohon-pohon besar. Semestinya kita merawatnya, bukan membabatnya dengan seenaknya. Untuk tumbuh menjadi pohon besar dibutuhkan waktu puluhan tahun, bahkan ada pohon-pohon tertentu yang memerlukan ratusan tahun. Karena itu, menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia yang berkarakter baik.”
Baca juga: Menghidupkan Pancasila di Kampus, Dari Nilai ke Aksi Nyata
Pilar Keteladanan
Diskusi turut diramaikan oleh partisipasi pendengar dari berbagai daerah—mulai dari Purwokerto, Takengon (Aceh), Makassar, Cilegon, Solo, hingga Sambas (Kalimantan Barat). Sebagian besar menyoroti satu persoalan yang sama: bangsa ini membutuhkan lebih banyak sosok yang bukan sekadar pandai memberi contoh, tetapi benar-benar layak untuk dicontoh.
Menanggapi hal tersebut, Setyo Hajar Dewantoro menegaskan bahwa pembangunan karakter bangsa hanya dapat berlangsung apabila ditopang oleh keteladanan para pemimpin, pendidik, dan orang-orang yang dipercaya masyarakat. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki integritas, yakni kesatuan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.
“Yang saya bicarakan harus sesuai dengan apa yang saya lakukan. Keduanya juga tidak boleh lepas dari apa yang saya pikirkan. Saya harus autentik, jujur, dan tidak boleh sekadar membangun pencitraan. Orang akan mengikuti kita dengan sepenuh hati ketika mereka melihat kita memiliki integritas dan layak diteladani.”
Setyo menambahkan, masyarakat kehilangan arah ketika berhadapan dengan pemimpin yang mengatakan satu hal, tetapi melakukan hal yang berbeda. Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui teladan nyata.
Di Pusaka Indonesia, prinsip tersebut diterapkan dengan membangun karakter para kader terlebih dahulu agar menghayati nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan mereka. Dari sana, nilai-nilai itu diharapkan mengalir ke keluarga, sekolah, hingga masyarakat melalui berbagai kegiatan pendidikan, lingkungan, dan kebudayaan.
Menutup dialog, SHD mengajak lahirnya lebih banyak champion di berbagai daerah—orang-orang yang dengan tulus mengabdikan diri bagi masyarakat dan lingkungannya. Menurutnya, jika setiap provinsi memiliki sosok-sosok seperti itu, semangat patriotisme dan budaya keteladanan akan menular, sehingga gerakan membangun karakter bangsa dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Nantikan Dialog Pancasila KOPI Pro 3 berikutnya bersama Setyo Hajar Dewantoro di RRI Pro 3, setiap Jumat dini hari, Pukul 00.00 – 02.00 WIB di https://rri.co.id/stream/radio dan Ngaji Pancasila setiap Senin pukul 22.00 WIB di Facebook Setyo Hajar Dewantoro. Ikuti terus kegiatan Pusaka Indonesia di www.pusakaindonesia.id, Facebook dan Instagram.
Esti Rahayu, Ficky Yusrini
Kader Pusaka Indonesia
Reaksi Anda:




