Bagi Mutiah Halidah Hatta – putri bungsu Bung Hatta, cerita tentang masa-masa persiapan proklamasi 1945 adalah kisah yang mencekam sekaligus membanggakan. Ia lahir pada 1956, namun di masa ia tumbuh, ia mengenal sejumlah tokoh kebangsaan, termasuk orang-orang yang berjuang di Surabaya pada 10 November 1945. Tokoh-tokoh tersebut, setiap tahun datang ke Taman Proklamasi di Kawasan Pegangsaan, Jakarta Pusat. Di sana diselenggarakan acara Tapak Tilas Proklamasi setiap tahun untuk mengenang hari ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan untuk pertama kalinya oleh Soekarno-Hatta.

“Saya melihat tokoh-tokoh itu setiap tahun datang ke sini. Namun sekarang sebagian besar sudah meninggal. Teman-teman saya pun, sering membawa keluarga dan anak-anak datang ke Taman Proklamasi,” kenangnya, saat membacakan sambutan dalam acara Tapak Tilas Proklamasi 2026 pada 16 Agustus. Tapak Tilas ini, diselenggarakan oleh Yayasan Bung Hatta. Ratusan peserta, yang terdiri dari anggota berbagai lembaga – termasuk Pusaka Indonesia – dan siswa-siswi sekolah menengah, turut hadir dalam acara tersebut.

Baca juga: Menjalankan Pancasila Mesti Dimulai dari Diri Sendiri

Waktu terus berputar. Banyak tokoh saksi sejarah yang sudah berpulang. Namun bagi Mutiah, hal terpenting bagi generasi muda saat ini adalah jangan sampai kehilangan rasa bahagia saat merayakan hari kemerdekaan tersebut. Pesan itu, terutama ia sampaikan kepada para generasi muda. “Anda yang masih muda, Andalah yang akan membangun negeri ini,” ucapnya.

Mutiah menegaskan, perjuangan tidak lantas dihentikan setelah Indonesia merdeka. Perjuangan selanjutnya adalah memastikan bangsa bersatu dan berdaulat untuk mencapai adil dan makmur. Untuk mempelajari sejarah, ia menganjurkan generasi muda untuk mengunjungi museum-museum. Museum menyimpan banyak cerita – tentang apa yang telah terjadi di masa lalu, kisah-kisah penuh perjuangan yang mampu membangkitkan jiwa patriotik, sehingga memantik kita untuk membuat Indonesia yang lebih baik. Museum juga menyediakan banyak bahan bacaan berkualitas, sehingga bisa mengasah daya kritis tentang apa yang bisa dilakukan untuk membangun bangsa.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya persatuan. “Kita adalah bangsa yang multikultural. kita satu bangsa, satu Indonesia. Karena itu, kita tidak bisa tidak bersatu,” tegasnya. Mutiah juga ingat salah satu pesan yang pernah disampaikan ayahnya, Bung Hatta tentang persatuan. Bung Hatta pernah menyatakan bahwa persatuan hati juga harus dijaga. Tidak akan cukup tinggal dalam satu lingkungan, namun hati tidak bersatu. Yang bagus dijadikan contoh, yang lemah mesti diangkat. Dan, hanya dengan cara seperti ini Indonesia Emas bisa terwujud.

Mutiah berharap momen Tapak Tilas akan selalu ada, menjadi wadah untuk mengenang bagaimana sejarah diukir, bagaimana kemerdekaan diproklamasikan. Dalam acara ini, turut hadir pula Gemala Rabi’ah Hatta, putri kedua Bung Hatta yang dalam beberapa kali kesempatan hadir dalam dialog kebangsaan bertema Pancasila bersama Pusaka Indonesia. 

Baca juga: Mengajarkan Nilai-Nilai Pancasila kepada Generasi Muda Melalui Keteladanan

Suasana Acara Tapak Tilas Proklamasi 2026 di Taman Proklamasi Jakarta Pusat

Suasana Acara Tapak Tilas Proklamasi 2026 di Taman Proklamasi Jakarta Pusat

Tapak Tilas Mengajarkan Pentingnya Dialog

Wakil Ketua Umum Pusaka Indonesia Eko Nugroho yang turut hadir dalam acara Tapak Tilas, turut memberikan pandangannya. Bagi Eko, yang patut jadi pelajaran dari acara ini adalah tentang pentingnya berdialog. Tapak Tilas Proklamasi mengingatkan kita akan sejarah dan pengalaman tentang situasi menjelang proklamasi pada 1945. “Ketika itu Jepang dijatuhi bom sehingga menyerah kepada sekutu. Terjadi kekosongan kepemimpinan di Wilayah Indonesia,” tutur Eko.

Dalam situasi tersebut, Golongan Muda mendesak Golongan Tua untuk segera mengumumkan kemerdekaan. Namun di sisi lain, Golongan Tua masih berharap pada proses yang selama ini dijalankan melalui Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang notabene dibentuk oleh Jepang. Eko menilai bahwa di masa itu, Golongan Tua bersikap hati-hati untuk menghindari pertumpahan darah, mengingat  tentara Jepang memiliki persenjataan yang cukup lengkap. 

Hal ini yang kemudian memicu terjadinya peristiwa penculikan Soekarno-Hatta oleh Golongan Muda ke Rengasdengklok, Karawang. Di sana sebuah dialog antara Golongan Tua dan Golongan Muda dilakukan. Hingga akhirnya dialog tersebut menghasilkan titik temu bahwa kemerdekaan akan segera diumumkan. “Di sini kita belajar bahwa dialog yang baik antara generasi muda dan generasi tua akan memberikan hasil yang baik apabila dilandasi oleh kepentingan luhur untuk bangsa. Tapak Tilas ini adalah simbol bagaimana proses dialog tersebut terjadi,” jelas Eko.

Eko juga menekankan bahwa Pusaka Indonesia terus mendukung upaya-upaya generasi muda saat ini untuk terus bisa belajar dari Sejarah. Pusaka Indonesia sebagai pergerakan kebangsaan, juga secara rutin menyelenggarakan kajian tentang Sejarah, Nasionalisme, Geopolitik, serta Ekonomi Pancasila. Semuanya bertujuan membuka wawasan tentang  bagaimana perbedaan terjadi dan menyikapinya dengan bijak. 

“Acara seperti tapak tilas ini mengajarkan bahwa bangsa ini bisa maju bila terjadi dialog yang sehat dan mencari solusi yang terbaik dengan mengedepankan kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi atau golongan,” pungkasnya.

 

Aniswati Syahrir
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten

Reaksi Anda:

Loading spinner