Pagi itu, Jakarta belum sepenuhnya riuh. Namun, di lantai 35 Menara Imperium terjadi perbincangan penting. Perbincangan yang tidak hanya berbicara tentang hari ini, tetapi juga tentang arah Indonesia menuju 2045. Sabtu, 11 April 2026, sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang duduk dalam satu ruangan. Tidak ada sekat profesi, tidak ada batas geografis. Yang ada hanya satu kesamaan: kepedulian terhadap masa depan Indonesia. Diplomat, ekonom, budayawan, pelaku media, hingga diaspora, semuanya hadir dalam Focus Group Discussion bertajuk “Membumikan Nasionalisme Menuju Indonesia Emas 2045” yang diadakan oleh Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia. 

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, dilanjutkan dengan hening cipta, menjadi awal yang mengingatkan bahwa perjalanan bangsa ini menuju cita-cita masih panjang dan tidak mudah.

Dalam keynote speech-nya, Setyo Hajar Dewantoro, Ketua Umum Pusaka Indonesia,  memilih kalimat sederhana, namun mengena: bahwa di tengah kegelapan, tugas kita bukan mengeluh, melainkan menyalakan terang. Sebuah ajakan yang terasa relevan, bukan hanya untuk forum itu, tetapi untuk kondisi bangsa hari ini.

Baca juga: Membangun Semangat Patriotisme di Era Globalisasi

FGD ini menghadirkan delapan narasumber yang memberikan perspektif komprehensif dari berbagai sektor. Mereka adalah Muhsin Syihab (Duta Besar RI untuk Kanada), Fithra Faisal Hastiadi, Ph.D. (Tim Pakar Badan Komunikasi RI), Achmad Didi Ardianto (IKAL PPSA 24 Lemhanas), Intan Syah Ichsan, Ph.D. (Director dan Chief Operating Officer PT Samuel Asset Management), M. Hasbiansyah Zulfahri (Tenaga Ahli Menteri Kebudayaan RI), Suwarjono (Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia/AMSI), Dede Prabowo (Diaspora Indonesia dan Board Member Gerakan Mari Berbagi), serta Mumtaza Chairannisa (Research Assistant, Asia Middle East Center for Research and Dialogue).

Diskusi kemudian mengalir. Moderator I Made Diangga membuka dengan tiga kata kunci: nasionalisme, patriotisme, dan elan berbangsa. Tiga istilah yang sering terdengar, namun pagi itu dibedah kembali maknanya.

Muhsin Syihab, yang bergabung secara daring dari Ottawa, menyampaikan bahwa nasionalisme adalah kompas moral. Patriotisme adalah tindakan. Sementara elan berbangsa adalah energi yang menjaga keduanya tetap hidup. Beliau mengingatkan bahwa semangat kebangsaan tidak cukup hanya dirasakan, ia harus diwujudkan.

Dede Prabowo berbicara sebagai diaspora. Puluhan tahun tinggal di luar negeri memberinya satu pemahaman bahwa nasionalisme tidak ditentukan oleh jarak. Ia tidak berhenti pada paspor atau KTP. Ia hidup dalam rasa tanggung jawab, tentang bagaimana seseorang tetap membawa nilai bangsanya, di mana pun ia berada.

Fithra Faisal Hastiadi mengingatkan bahwa bagi sebagian masyarakat, nasionalisme bukanlah prioritas utama. Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, konsep kebangsaan menjadi terasa jauh. Pernyataannya sederhana, tetapi sulit diabaikan bahwa membangun nasionalisme harus dimulai dari memastikan kesejahteraan.

Foto bersama Pengurus Pusat Pusaka Indonesia bersama Nara Sumber setelah acara

Dari sana, diskusi bergerak ke tantangan yang lebih luas.

Suwarjono menyoroti kedaulatan digital, bagaimana data masyarakat Indonesia sebagian besar berada di tangan platform global. Sebuah isu yang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya nyata. Sementara Intan Syah Ichsan mengangkat kekhawatiran tentang institusi yang mulai kehilangan kelenturannya, tidak lagi cukup responsif terhadap kebutuhan publik.

Achmad Didi Ardianto menambahkan perspektif geopolitik. Ia mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan besar: demografi, geografi, dan sumber daya alam. Namun potensi itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Bahkan di titik strategis, seperti Selat Malaka, Indonesia belum menjadi pemain utama.

Di tengah berbagai tantangan itu, pembicaraan kemudian mengalir ke bidang kebudayaan. M. Hasbiansyah Zulfahri menyampaikan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya diukur dari angka ekonomi. Ada fondasi yang lebih dalam, yakni kebudayaan. Ia bukan hanya identitas, tetapi juga kekuatan. Sesuatu yang tidak akan habis, bahkan ketika sumber daya alam mulai terbatas.

Gagasan ini diperluas oleh Mumtaza Chairannisa melalui konsep narrative sovereignty—bahwa Indonesia perlu menceritakan dirinya sendiri kepada dunia. Bukan sekadar menjadi objek cerita, tetapi menjadi subjek yang aktif membangun narasi, baik melalui akademik, budaya, maupun diplomasi.

Baca juga: Sarasehan Kebangsaan Pusaka Indonesia: Membumikan Pancasila, Membangkitkan Nusantara

Menuju Indonesia Emas 2045 bukanlah perjalanan yang sederhana. Ia membutuhkan infrastruktur yang kuat, sumber daya manusia yang unggul, dan institusi yang sehat. Ia juga membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten, serta kemampuan untuk keluar dari jebakan middle income trap. Namun lebih dari itu, ia membutuhkan kesadaran kolektif. Bahwa nasionalisme bukan sekadar konsep besar yang dibicarakan di ruang-ruang diskusi. Ia hidup dalam hal-hal kecil di keseharian, dalam cara berpikir, cara bekerja, dan cara berkontribusi seluruh warga negara.

Menutup forum, Setyo Hajar Dewantoro memberikan analogi bahwa Pusaka Indonesia saat ini mungkin masih kecil, ibarat minivan, tetapi sedang berproses untuk menjadi kapal induk. Sebuah gambaran tentang perjalanan, pertumbuhan, dan komitmen untuk memberi dampak yang lebih luas.

Demikian pula dengan nasionalisme. Ia bukan sesuatu yang selesai dalam satu forum, melainkan proses yang terus dihidupkan. Bukan sekadar untuk dibicarakan, tetapi untuk diwujudkan: perlahan, konsisten, dan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ficky Yusrini
Kader Pusaka Indonesia Jawa Barat

Reaksi Anda:

Loading spinner