Program Kebun Surgawi (KS) merupakan salah satu upaya Pusaka Indonesia dalam mendukung kedaulatan pangan skala keluarga. Mulai diinisiasi pada 2021 dengan nama Kebun Sahabat Bumi, pada 2022 namanya berubah menjadi Kebun Surgawi. Kebun Surgawi yang pertama kali dibentuk adalah KS Mengwi di Bali, yang diberi nama KS 1. Hingga kini, bermunculan KS baru di Bali, yakni KS 2, KS 78, dan KS 81.
Koordinator Bidang Sigma Farming Academy Pusaka Indonesia, Kadek Dwi Noviyani, menuturkan bahwa kebun-kebun surgawi tersebut telah menjadi tempatnya dalam praktik pertanian selaras alam selama ini. Pengalamannya mengurus berbagai KS dengan karakter lingkungan yang berbeda-beda membuatnya banyak belajar dan kaya akan pengalaman atas pengelolaan kebun. Di sisi lain, mengelola kebun-kebun surgawi ini memberi manfaat dalam menjaga ketersediaan pangan pada skala rumah tangga.
“Di saat harga cabe mahal kita dapat gratis karena punya tanamannya di rumah. Kita juga lebih jarang beli sayuran,” tutur Kadek Novi.
Dari kebun-kebun itu, Kadek Novi bisa memanen cabe, serai, jeruk limau, hingga berbagai jenis sayuran, seperti kangkung, terong, dan kemangi. Juga berbagai tanaman herbal dan bumbu dapur, seperti jahe, temulawak, dan kunyit. Sementara itu, kebun surgawi yang berada di lingkungan sebuah sekolah, menjadi bahan makanan sehari-hari para siswa, guru, dan staf sekolah. Selain sumber sayuran, kebun-kebun surgawi ini pun dimanfaatkan untuk beternak ayam kampung dan telurnya menjadi sumber protein.
Baca juga: Pembelajaran dari Kearifan Lokal di Sawah: Menjaga Keselarasan Alam dan Ekosistem
Putu Saraswati yang mengelola KS 62 & KS 79 di Bali turut menceritakan pengalamannya. Selama 2 tahun belakangan, ia memenuhi kebutuhan dapur dari kebun yang dikelolanya. Selain itu, Putu yang sehari-hari berjualan bunga untuk canang (keperluan sembahyang di Bali), juga menanam bunga di kebun sendiri. Untuk konsumsi sehari-hari, kebunnya menyediakan kangkung, sawi hijau, bayam brasil, terong, bayam, pakis, pare, serai, cabe, jeruk, daun salam, pepaya, hingga jagung. Selain dikonsumsi sendiri, sebagian dari hasil kebunnya dijual. Sementara untuk kebutuhan canang, ia juga bisa menjual marigold/gemitir, bunga pacah, daun pandan, bunga pecah seribu, dan bunga kertas.
“Saya tidak lagi pusing memikirkan menu masakan. Ketika saya dengar harga cabe mahal, saya makin senang karena saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk beli,” tutur Putu. Bahkan jika hasil kebunnya berlebih, ia bisa menjual sisanya. Meski demikian, ia mengakui, mengurus kebun punya tantangan tersendiri. Kadang kala hasil kebun hilang di bedengan. Ada juga yang dirusak oleh ayam tetangga. Dan jika musim hujan, gulma dan ilalang akan tumbuh subur di sekitar tanaman.
Baca juga: Mengurangi Belanja, Menumbuhkan Harapan: Gerakan Polybag untuk Keluarga Indonesia
I Made Pande Oka Iriana, turut menceritakan pengalamannya mengelola kebun Kebun Surgawi sejak 2022. Ia mulai berkebun setelah mengikuti Workshop Sigma Farming yang diselenggarakan Pusaka Indonesia di Cihirup, Jawa Barat. Kebun Surgawi yang ia kelola saat ini menghasilkan berbagai jenis sayuran hingga buah-buahan, seperti pepaya, pisang, alpukat, durian, dan nangka. Selain konsumsi sendiri, hasil panennya biasanya ia bagikan kepada keluarga. Sebagian dijual, bekerjasama dengan pengelola Kebun Surgawi lainnya di Bali.
Pande mengatakan, awalnya ia mencoba beberapa jenis tanaman. Namun, pada akhirnya jenis tanaman yang dipilih mengerucut pada kacang tanah, stroberi, vanili, alpukat, dan kopi. “Kami juga sudah mandiri pupuk dan bibit,” ungkap Pande. Ia membuat sendiri pupuk dengan metode Sigma Farming dari kotoran sapi di kebunnya. Demikian juga dengan benih kacang tanah.
Kisah Yosephine Vindry Astuty, yang mengelola kebun surgawi di DI Yogyakarta sejak 2024, berbeda lagi. Vindry tidak mengelola kebun, melainkan sawah, yang diberi nama KS 11. Sejak mengelola sawah tersebut, keluarganya tidak lagi membeli beras. “Sudah hampir setahun tidak membeli beras. Namun menjadi petani memang tidaklah mudah,” tutur Vindry. Ia mengaku masih perlu sering belajar agar bisa lebih paham tentang mandiri benih.
Pusaka Indonesia, terus berupaya agar masyarakat memiliki kemandirian dalam menyediakan sumber pangannya. Tidak hanya bisa menghemat pengeluaran dan belanja rumah tangga, tapi juga bisa memastikan bahwa pangan yang dikonsumsi sehari-hari aman dan sehat. Karena itu, metode pertanian organik selaras alam dengan metode Sigma Farming, terus disebarluaskan. Bukan hanya untuk kader, melainkan untuk masyarakat luas.
Ni Kadek Ayu Rinawati
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali dan Sekitarnya
Reaksi Anda:




