RRI.CO.ID, Jakarta – Pangan lokal tidak sekadar menjadi sumber makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di balik beragam jenis pangan yang tumbuh di Indonesia, terdapat nilai budaya, tradisi, hingga cara masyarakat membangun hubungan sosial.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Green Radio RRI yang mengangkat tema “Pangan Lokal sebagai Social Glue di Tengah Bhinneka Tunggal Ika”, Senin, 14 September 2026.
Program yang dipandu Ananta Satria Bagita menghadirkan Revino Fauzan Satria, Peneliti Kedaulatan Pangan Nusantara dari Pusaka Indonesia sekaligus bagian dari komunitas Pusaka Indonesia Gemahripah.
Dalam perbincangan tersebut, Revino menjelaskan bahwa pangan lokal memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat karena tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga dengan bagaimana manusia berinteraksi dan membangun kebersamaan.
Baca juga: Mengenalkan Pangan Lokal dan Minuman Herbal kepada Anak-anak
“Kalau kita bicara pangan lokal, sebenarnya kita tidak hanya bicara tentang makanan. Pangan itu punya dimensi sosial dan budaya. Ketika masyarakat menanam, mengolah, kemudian makan bersama, di situ terjadi interaksi. Ada proses berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, bahkan membangun rasa saling percaya.”
“Indonesia memiliki keragaman pangan yang luar biasa. Setiap daerah memiliki tanaman, cara mengolah, dan tradisi makan yang berbeda. Tetapi justru melalui makanan itu kita bisa bertemu. Jadi pangan lokal bisa menjadi semacam social glue, atau perekat sosial. Di tengah keberagaman suku, budaya, dan kebiasaan, kita bisa duduk bersama melalui sesuatu yang sangat sederhana, yaitu makanan.”
Menurut Revino, kebiasaan masyarakat Indonesia untuk berkumpul dan makan bersama merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana pangan menjadi bagian dari kehidupan sosial.
Makan bersama tidak hanya menjadi aktivitas untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi ruang untuk berkomunikasi, mempererat hubungan keluarga, membangun solidaritas, serta memperkenalkan nilai dan tradisi kepada generasi berikutnya.

Kader Pusaka Indonesia wilayah Bali sedang praktik membuat Jaje Abug/Awug dari bahan sorghum dan singkong
Di sisi lain, perubahan pola konsumsi masyarakat juga turut memengaruhi hubungan manusia dengan pangan lokal. Kehadiran makanan instan dan cepat saji yang praktis membuat sebagian masyarakat semakin jauh dari proses mengenal bahan pangan di sekitarnya.
Karena itu, upaya menghidupkan kembali pangan lokal dinilai tidak cukup hanya dilakukan melalui kampanye konsumsi. Diperlukan gerakan bersama yang menghubungkan masyarakat dengan sumber pangan, pengetahuan lokal, komunitas, serta para pelaku yang selama ini menjaga keberagaman pangan Nusantara.
“Untuk masyarakat perkotaan, sebenarnya kita tidak harus menunggu punya lahan yang luas untuk mulai kembali ke pangan lokal. Kita bisa memulainya dari meja makan. Kenali pangan yang ada di sekitar kita, pilih produk pangan lokal, beli dari petani atau pelaku usaha lokal, dan mulai mengonsumsi pangan yang berasal dari lingkungan kita.”
“Yang tidak kalah penting adalah membangun kembali kebiasaan berbagi pengetahuan. Misalnya, memasak bersama, mengenalkan pangan lokal kepada anak-anak, membuat kebun pangan di lingkungan, atau menghidupkan komunitas pangan. Jadi gerakannya tidak berhenti pada konsumsi, tetapi bagaimana pangan kembali menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.”
Baca juga: Riset Nasi Singkong, Sebuah Upaya Melestarikan Pangan Lokal Nusantara
Komunitas Pusaka Indonesia Gemahripah dan para Kader Pangan Nusantara turut mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kedaulatan pangan serta keberadaan pangan lokal.
Upaya tersebut menjadi bagian dari gerakan untuk menjaga pengetahuan pangan Nusantara sekaligus memperkuat hubungan masyarakat dengan sumber pangan yang ada di lingkungan masing-masing.
Bagi masyarakat perkotaan di Jabodetabek, langkah sederhana seperti memilih bahan pangan lokal, mengenal pasar dan produsen pangan lokal, mengurangi ketergantungan pada makanan ultra-proses, serta mengajak keluarga makan bersama dapat menjadi awal untuk membangun kembali kedekatan dengan pangan.
Pada akhirnya, pangan lokal bukan hanya persoalan apa yang berada di atas piring. Pangan juga membawa cerita tentang tanah, masyarakat, budaya, dan kebersamaan.
Di tengah semangat Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman pangan Nusantara dapat menjadi ruang perjumpaan yang menyatukan masyarakat.
Green Radio RRI, menghadirkan informasi dan perspektif mengenai lingkungan, pangan, serta kehidupan berkelanjutan untuk mendorong masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan dan kekayaan pangan Nusantara.
Sumber artikel: https://rri.co.id/jakarta/ekonomi/umkm/2727759/pangan-lokal-jadi-perekat-sosial-di-tengah-bhinneka-tunggal-ika
Reaksi Anda:




