Suasana dapur di Rumah Pusaka Indonesia (RPI) Ubud tampak berbeda pada Minggu pagi 12 Juli 2026 lalu. Sebanyak 14 orang Kader Pusaka Indonesia Bali berkumpul, dalam rangka mengikuti kegiatan riset pangan yang diselenggarakan oleh tim Kedaulatan Pangan Nusantara (KPN) Pusaka Indonesia. Dipimpin oleh Novera, penanggung jawab KPN Bali dan tim riset dapur, para kader merajang, mengolah bahan, dan memasak dengan mengikuti arahan takaran yang sedang diuji. Ini bukan sekadar acara memasak biasa, melainkan sebuah upaya meriset kandungan dan manfaat pangan lokal yang selama ini sering dilupakan karena kita terlalu bergantung pada beras.

Kenyang Tak Harus Nasi

Salah satu fokus riset pada kegiatan ini adalah mengolah nasi singkong menggunakan rice cooker. Dalam percobaan tersebut, singkong yang telah diserut dicampurkan dengan beras sebelum dimasak. Jika ingin mempertahankan rasa singkong dan tidak hancur saat dimasak bersama beras, bisa juga dimasukkan belakangan saat berasnya sudah mendidih dan air sudah mulai menyusut. Metode sederhana ini diharapkan menjadi alternatif praktis bagi masyarakat, untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap beras, tanpa harus mengubah pola makan secara drastis.

Baca juga: Nasi Cacah, Cita Rasa Kedaulatan Pangan dari Tanah Bali

Menurut Novera, riset ini bertujuan memperkenalkan kembali singkong sebagai salah satu sumber karbohidrat yang mudah diperoleh di sekitar kita. “Kami ingin mengenalkan bahwa isi piring kita tidak harus hanya berisi nasi. Singkong adalah pangan lokal yang mudah ditemukan dan bisa menjadi tambahan sumber karbohidrat yang bergizi. Dengan cara memasak  sederhana menggunakan rice cooker, masyarakat diharapkan lebih mudah mempraktikkannya di rumah,” kata Ira.

Melalui pendekatan ini, KPN mendorong masyarakat untuk lebih mengenal keberagaman pangan Nusantara sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal.

Nasi Singkong dan Urap Bali Hasil Masakan Riset KPN

Nasi Singkong dan Urap Bali Hasil Masakan Riset KPN

Menghidupkan Kembali Masakan Tradisional

Selain riset nasi singkong, peserta juga belajar membuat urap Bali, salah satu hidangan tradisional yang kaya sayuran dan rempah. Pada sesi ini, tim memperkenalkan penggunaan bumbu embe, bumbu sederhana khas Bali yang dapat dibuat dalam jumlah banyak dan disimpan untuk digunakan kembali.

Dengan menyiapkan bumbu terlebih dahulu, proses memasak menjadi lebih praktis. Ketika akan disajikan, masyarakat cukup merebus sayuran lalu mencampurkannya dengan bumbu yang telah tersedia. Cara ini diharapkan dapat mendorong keluarga untuk lebih sering mengonsumsi makanan tradisional yang sehat dan berbahan lokal.

“Saya senang dan bersyukur karena selain tim inti, selalu ada kader yang bersedia ikut terlibat, membantu, bekerja sama, dan bergotong royong. Kami bisa bersama-sama mengolah dan menikmati makanan sehat. Banyak bahan yang kami gunakan juga berasal dari hasil panen kebun teman-teman. Kegiatan seperti ini membuat kami terus belajar sekaligus ikut melestarikan makanan tradisional,” tutur Novera.

Baca juga: Mengembalikan Kejayaan Sorgum Lewat Riset Kedaulatan Pangan Nusantara

Melalui kegiatan riset yang sederhana namun aplikatif ini, KPN Pusaka Indonesia berharap semakin banyak masyarakat menyadari bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari dapur rumah sendiri. Memanfaatkan pangan lokal seperti singkong, menghidupkan kembali resep-resep tradisional, serta membangun budaya gotong royong, menjadi langkah nyata menuju kedaulatan pangan yang berkelanjutan.

 

Nenden Fathiastuti
Kader Pusaka Indonesia Bali

Reaksi Anda:

Loading spinner