Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 kali ini menjadi momen yang istimewa bagi saya. Bagaimana tidak? Setelah hampir 12 tahun hidup di tanah rantau, inilah pertama kalinya saya mengikuti upacara pengibaran bendera yang dilaksanakan di lapangan Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia di Melbourne, Australia.

Kebetulan kali ini saya mendapat undangan dari KJRI. Saya sempat bimbang memutuskan, apakah akan menghadiri undangan tersebut atau tidak. Sebab, 17 Agustus kemarin adalah hari pertama saya bekerja dengan shift yang lebih panjang. Setelah dialog panjang di kepala, pada akhirnya, saya memilih meminta cuti dan menghadiri undangan tersebut.

Baca juga: Riset dan Kajian Pusaka Indonesia: Memahami Isu Global dalam Konteks Lokal

Upacara dimulai dengan inspektur upacara memasuki lapangan, penghormatan, dan laporan pemimpin upacara. Dilanjutkan dengan pengibaran Bendera Merah Putih oleh Tim Paskibra yang terdiri dari adik-adik mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia seperti dari Bali, Bandung, hingga Sumatera, yang sedang menempuh pendidikan di Australia. Pengibaran bendera diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh inspektur upacara. 

Lalu memasuki acara detik-detik Proklamasi yang ditandai dengan pembacaan naskah proklamasi dan UUD 1945, amanat pembina upacara yaitu Konjen RI untuk Victoria dan Tasmania, Bapak Yohannes Jatmiko HP, menyanyikan lagu-lagu wajib nasional, serta pembacaan doa. Upacara ditutup dengan laporan pemimpin upacara, penghormatan, inspektur upacara meninggalkan lapangan, hingga penghormatan akhir dan pembubaran barisan.

Peserta upacara bukan hanya WNI, tapi juga warga Australia yang kebetulan memiliki minat membangun kerjasama dengan Indonesia. Di antaranya adalah pelajar Australia yang belajar kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah masing-masing, serta sejumlah perwakilan dari beberapa komunitas. Dipimpin oleh Konjen, upacara juga menjadi momentum untuk bersama-sama mendoakan saudara-saudara dan masyarakat Indonesia yang terdampak bencana gempa bumi di NTT dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia.

Konjen RI juga memberikan anugerah ‘Konjen RI Melbourne Award 2026’ kepada beberapa orang yang telah berkontribusi dalam memperkuat hubungan Indonesia – Australia, terutama Victoria dan Tasmania. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada Tom McIntosh, MP (Anggota Parlemen Victoria – Pendiri Victoria Parliamentary Friends of Indonesia), Prof Edward Buckingham (Australia – Indonesia Business Council Victoria), dr Jonathan Hasian Haposan (Peneliti, Mata Garuda ANZ), Denok Suryowardani Evans (Masyarakat Indonesia di Tasmania), dan Megan Cockroft (City of Melbourne).

Berfoto bersama Paskibra

Berfoto bersama Paskibra

Mengikuti upacara ini, ingatan saya langsung kembali ke masa-masa sekolah dulu, saat pernah bertugas menjadi petugas pengibar bendera, pembaca teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, pembaca teks Pancasila, dan menjadi anggota Tim Paduan Suara. Semuanya saya lakukan dengan senang hati dan rasa bangga karena telah ikut berkontribusi di hari yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Berdiri di barisan peserta upacara, ada sebuah momen yang menghentak kesadaran saya. Saya belum pernah benar-benar bisa menghayati dan menikmati sesi mengheningkan cipta yang diiringi lagu Gugur Bunga, hingga kali ini. Muncul rasa haru dan syahdu di dada, sangat berbeda dengan pengalaman mengikuti upacara di masa sekolah dulu.

Pengalaman kebatinan itu membangkitkan sebuah semangat sekaligus pertanyaan, “Apa yang bisa saya berikan/lakukan bagi bangsa dan negara ini?” Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan aksi nyata, dengan kesungguhan dan ketulusan untuk memberikan serta melakukan yang terbaik di mana pun saya berada.

Baca juga: Pusaka Indonesia dan Gerakan Membangun Karakter Pancasila

Rasa cinta tanah air dalam diri saya, perlahan tumbuh lewat beberapa peran yang saya emban di Pusaka Indonesia. Termasuk lewat proses belajar dalam kelas kepemimpinan Unlock Your Sigma Potential (USP) yang diselenggarakan oleh The Avalon Consulting. Secara perlahan, saya mulai untuk tidak hanya sekadar memikirkan diri dan keluarga saja. Saya juga mulai meng-unlock potensi diri yang selama ini masih terpendam.

Saya yang dulu tidak pernah terpikir bisa menulis, tiba-tiba menjadi anggota Tim Media sekaligus admin kelas menulis yang diselenggarakan Pusaka Indonesia. Lalu saat ini, saya mulai aktif menari lagi dan dipercaya menjadi Ketua Komunitas Warga Bali di Melbourne. Yang unik, sejak pertama kali komunitas ini didirikan, ini adalah pertama kalinya dipimpin oleh seorang perempuan. Banyak hal yang saya alami, yang jika flashback ke belakang, rasanya tidak masuk akal. Namun semuanya nyata dan saya jalani sekarang.

Tentunya masih banyak yang harus saya perbaiki. Saya masih terus semangat untuk belajar dan menggali potensi diri agar bisa lebih banyak lagi berkontribusi buat negara ini semampu saya. Apalagi, di Pusaka Indonesia kami dididik untuk memiliki jiwa patriotisme dan melakukan semuanya dengan landasan ketulusan untuk bangsa ini.

Selamat Ulang Tahun ke-81 Indonesia tercinta! 

 

Agustine Rudiartana
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali dan Sekitarnya

Reaksi Anda:

Loading spinner