Setiap 17 Agustus, kita kembali mengenang sebuah tonggak sejarah. Merah Putih berkibar, lagu-lagu perjuangan terdengar, dan nama-nama para pahlawan disebut dengan penuh hormat.
Namun sejarah sesungguhnya juga mengajak kita berefleksi: Apakah perjuangan itu masih terus berlanjut di dalam diri kita saat ini?
Jawabannya dapat kita temukan di balik dinding STOVIA. Pada awal abad ke-20, STOVIA adalah sekolah kedokteran bagi kaum Bumiputra. Di sana, anak-anak muda dari berbagai wilayah Nusantara bertemu, belajar, dan berinteraksi dalam satu lingkungan. Perjumpaan itu menumbuhkan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang menghadapi persoalan yang sama.
Ilmu kedokteran yang mereka pelajari kemudian berkembang menjadi kesadaran sosial. Pada 20 Mei 1908, Soetomo dan para pelajar STOVIA bersama tokoh-tokoh pergerakan mendirikan Budi Utomo. Salah satu perhatian penting gerakan ini adalah memajukan pendidikan dan meningkatkan martabat kaum pribumi.
Di era tersebut, perlawanan terhadap penjajahan dimulai dari ruang belajar, di saat pengetahuan melahirkan kesadaran. Lalu, jika dahulu pendidikan ikut membuka jalan menuju kebangkitan dan kemerdekaan, bagaimana dengan pendidikan kita hari ini?
Baca juga: Hari Anak Nasional: Membangun Anak, Membangun Peradaban
Apakah Kita Sudah Merdeka dalam Pendidikan?
Indonesia telah merdeka sejak 81 tahun silam. Gedung sekolah tersedia di berbagai daerah. Teknologi membuat pengetahuan semakin mudah diakses. Dan pemerintah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan. Tapi, apakah akses terhadap sekolah otomatis berarti akses terhadap pendidikan yang memerdekakan?
Pendidikan yang merdeka itu seharusnya juga bisa memberi ruang untuk bertanya, berpikir kritis, mengenali diri, menghargai perbedaan, dan mengembangkan potensi. Pertanyaannya, apakah sekolah membuat anak semakin berani berpikir, atau justru takut berbuat salah? Apakah ilmu membuat mereka semakin peduli kepada masyarakat dan lingkungan, atau hanya menjadi alat mengejar nilai, ijazah, dan keberhasilan pribadi?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika anak-anak hidup di tengah banjir informasi. Pengetahuan begitu mudah diperoleh, tetapi kemampuan memilah kebenaran, memahami konsekuensi, dan menggunakan pengetahuan untuk kebaikan tidak otomatis ikut tumbuh. Karena itu, perjuangan pendidikan hari ini bukan hanya membuka akses sekolah, tetapi memastikan bahwa pendidikan benar-benar memerdekakan manusia.

Kader Pusaka Indonesia Melakukan Edukasi Pilah Sampah di SMAN 44 Jakarta
Pendidikan yang Mengubah Manusia
Semangat STOVIA masih mungkin diwujudkan hari ini, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Di Pusaka Indonesia, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Beberapa waktu yang lalu, Pusaka Indonesia pernah bekerja sama dengan Sekolah Sancaya Indonesia di Tabanan, Bali, memanfaatkan alam sebagai bagian dari proses belajar. Anak-anak belajar bercocok tanam, memanen hasil kebun, mengenal tanaman herbal, hingga mengolah hasil panen bersama-sama. Pengetahuan dipelajari melalui pengalaman, kerja sama, dan tanggung jawab.
Semangat serupa dikembangkan melalui Sentra Polybag Sigma (SPS). Program ini membangun titik-titik belajar dan produksi pangan di tingkat rumah, lingkungan tetangga, hingga desa. Warga belajar menanam sayuran secara organik dengan memanfaatkan pekarangan dan bahan-bahan yang tersedia di sekitar. Program ini bahkan dikembangkan di 15 titik di berbagai daerah, dengan kolaborasi bersama warga, RT/RW, PKK, dan BUMDes.
Lewat Akademi Bumi Lestari (ABL), pada Mei 2026, Pusaka Indonesia bersama SMAN 44 Jakarta memberikan edukasi pilah sampah kepada 252 siswa. Setelah mendapatkan teori, mereka langsung mempraktikkan pembuatan kompos dengan memanfaatkan sisa sayuran, kulit buah, daun kering, dan bahan organik lainnya. Pendidikan lingkungan pun berubah menjadi pengalaman nyata.
Di bidang kesehatan, pada April 2026, Akademi Herbal Nusantara (AHN) mengajak warga Cengkareng belajar mengenal dan meramu jamu. Lalu pada Juni 2026, AHN kembali mengenalkan tradisi meramu jamu melalui Gita Fest RRI 2026, yang diikuti 121 peserta, termasuk pelajar SMA. Jamu diperkenalkan sebagai bagian dari warisan budaya dan pengetahuan kesehatan yang perlu dikenali kembali oleh generasi muda.
Di sini, pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang kamu tahu?”
Ada pertanyaan lanjutan yang lebih penting: “Apa yang telah kamu lakukan dengan pengetahuan itu?”
Kebun dapat menjadi ruang belajar. Sampah dapat menjadi pelajaran tentang tanggung jawab. Jamu dapat menjadi pintu untuk mengenali kembali kekayaan pengetahuan leluhur. Dan kehidupan sendiri dapat menjadi ruang pendidikan.
Pendidikan seperti inilah yang memungkinkan pengetahuan tumbuh menjadi kesadaran, dan kesadaran berkembang menjadi tindakan. Kita tidak lagi berjuang merebut kemerdekaan secara politik, tetapi ditantang mengisinya dengan kualitas manusia yang lebih baik.
Menyempurnakan kemerdekaan berarti menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi juga manusia yang sadar. Mampu mengelola dirinya sebelum mengelola orang lain, menggunakan ilmu untuk memberi manfaat, serta memiliki keberanian berpikir, kebijaksanaan memilih, dan kepedulian untuk hidup bersama.
Ketika manusia Indonesia semakin sadar, semakin berintegritas, dan mampu menyalakan Api Pancasila di Sanubari, saat itulah semangat Trisakti menemukan wujudnya kembali: Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian sesuai jati diri.
Kemerdekaan adalah usaha yang harus terus kita sempurnakan. Dari ruang kelas, dari keluarga, dari masyarakat, dan terutama dari dalam diri kita sendiri.
Kemerdekaan sejati dimulai ketika manusia mampu memerdekakan dirinya. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!
Baca juga: Hening Cipta dan Aksi Nyata: Refleksi Penerapan Pancasila
Theo Roberto
Kontributor Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia
Sumber referensi:
- Pusaka Indonesia — “Di Balik Dinding STOVIA”
- Museum Kebangkitan Nasional — “Sejarah Gedung Museum Kebangkitan Nasional”
- Kemendikdasmen — Rapor Pendidikan Indonesia
- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) — Buku Pancasila
- Balai Pelestarian Cagar Budaya. Kisah di Balik Gedung STOVIA
- JDIH BPK RI. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Reaksi Anda:




