Kekayaan yang Belum Sepenuhnya Dikelola
Berbicara tentang pangan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada beras. Padahal Indonesia memiliki ratusan sumber pangan lokal yang belum diolah secara optimal mulai dari ketersediaan, akses, hingga pemanfaatan pangan secara berkelanjutan. Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan pangan yang luar biasa besar: sorgum, sukun, singkong, garut, kacang tolo, kacang koro, hingga puluhan jenis umbi dan biji-bijian lokal lainnya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun, kekayaan ini tak tersentuh. Padahal, diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal justru menjadi jalan paling realistis menuju kedaulatan pangan. Kekayaan pangan yang luar biasa itu menjadi tidak berarti jika tidak ada tangan yang bersedia mengelolanya. Di sinilah pertanyaan paling mendasar muncul: siapa yang akan mengelola & meneruskannya?
Realita Kedaulatan Pangan di Tangan Generasi Muda
Realitanya, regenerasi petani di Indonesia sedang dalam kondisi yang perlu diwaspadai. Berdasarkan Sensus Pertanian BPS 2023, jumlah petani Indonesia menurun menjadi 29,3 juta orang, didominasi usia tua, dengan hanya 6,18 juta atau 21,93 persen yang tergolong petani muda berusia 19-39 tahun. Kondisi ini diperparah oleh temuan bahwa rata-rata usia petani di Indonesia telah mencapai 55 tahun, usia yang berada di ambang batas produktif. Bahkan riset BPS terbaru menunjukkan tren usia petani terus menua karena para orang tua petani sendiri banyak yang tidak ingin anaknya melanjutkan profesi tersebut.
Di sisi lain, negara membutuhkan regenerasi ini secepat mungkin. Usia rata-rata petani terus menua, sementara jumlah generasi muda yang bersedia masuk ke sektor pertanian terus menyusut. Jika tren ini dibiarkan, dalam satu-dua dekade ke depan kita berisiko kehilangan bukan hanya tenaga kerja pertanian, tetapi juga kearifan lokal yang selama ini diwariskan secara lisan dari satu generasi petani ke generasi berikutnya yaitu pengetahuan tentang kapan menanam, membaca tanah, dan mengolah pangan yang tidak tertulis di buku pelajaran mana pun. Realita inilah yang membuat estafet kedaulatan pangan menjadi taruhan sesungguhnya. Pertanyaannya bukan lagi “apakah Indonesia mampu berdaulat atas pangannya”, melainkan “apakah generasi muda bersedia menjadi pihak yang mewujudkannya”.
Titik baliknya terletak pada bagaimana wajah pertanian diubah di mata generasi muda. Selama pertanian dibayangkan identik dengan cangkul, lumpur, dan penghasilan pas-pasan, maka minat anak muda akan terus tergerus. Namun ketika pertanian dihadirkan sebagai ruang riset, inovasi kuliner, kewirausahaan, bahkan kreativitas digital dalam pemasaran, narasi itu mulai berubah. Anak muda yang tumbuh dengan literasi digital menjadi modal kuat untuk membawa sektor pangan lebih maju asalkan diberi ruang, contoh nyata, dan alasan untuk percaya bahwa sektor ini layak diperjuangkan.

Aktivitas Tim SFA Mengolah Kebun Surgawi
Baca juga: Missing Point Pemulihan Bencana Banjir di Sumatra
Bukti Nyata: Bagaimana Pusaka Indonesia Menjawab Realita Ini?
Pusaka Indonesia (PI), melalui rangkaian program kerjanya, berupaya mengubah citra pertanian sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat. Sigma Farming Akademi (SFA) menjadi sarana pengembangan pertanian organik yang selaras dengan kesehatan dan kelestarian lingkungan. Sentra Polybag Sigma (SPS) membangun kerja sama dengan desa-desa lewat metode polybag sederhana. Urban Sigma Farming (USF) membuktikan keterbatasan lahan kota bukan alasan berhenti bercocok tanam sekaligus pintu masuk bagi anak muda kota mengenal pertanian sederhana. Kedaulatan Pangan Nusantara (KPN) meriset berbagai pangan lokal menjadi produk relevan, seperti Jaje Satuh, Jaje Sabun, dan Pancake Nagasari berbahan sorgum, Pepes Sukun, serta Kolak Sela di Bali; juga tempe berbahan kacang merah utuh, sorgum merah, kacang tolo, kacang merah kupas, dan koro pedang di DKI-Banten.
Riset-riset itu bukan sekadar daftar resep, melainkan upaya menghidupkan kembali bahan pangan yang sempat dianggap “kelas dua” menjadi produk yang layak bersaing — sekaligus contoh konkret bahwa riset pangan bisa menjadi pintu masuk generasi muda ke sektor ini. Keempat program ini menunjukkan bahwa Pusaka Indonesia bukan sekadar membuat resep masakan baru, melainkan membangun ekosistem dari hulu ke hilir: jawaban nyata atas realita bahwa estafet kedaulatan pangan membutuhkan ruang konkret, bukan sekadar slogan.
Baca juga: Menakar Kedaulatan Pajak Indonesia di Tengah Arus Investasi Global
Penutup: Cinta Tanah Air yang Berakar dari Pangan
Kedaulatan pangan adalah wujud paling nyata dari cinta tanah air. Mencintai Indonesia bisa dimulai dari keberanian mengonsumsi, mengolah, dan mempertahankan pangan lokal milik sendiri. Tugas kita bersama, terutama generasi muda, adalah memastikan estafet ini tidak berhenti di tangan segelintir orang, melainkan terus digenggam, diteruskan, dan diperluas hingga kedaulatan pangan Indonesia berdiri di atas kaki dan kekayaannya sendiri.
Cosmas Nico Sanjaya
Kontributor Bidang Riset dan Kajian
Referensi:
- Kementerian Pertanian RI. (21 Mei 2026). Diakses dari Kementan Siapkan Anak Muda Jadi Motor Pertanian Modern Indonesia
- National Geographic Indonesia. (10 Desember 2024). Diakses dari Diversifikasi Pangan Lokal, Solusi Masa Depan Masyarakat Indonesia
- Badan Pusat Statistik. (4 Desember 2023). Diakses dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2023/12/04/2050/hasil-pencacahan-lengkap-sensus-pertanian-2023—tahap-i.html
Reaksi Anda:




