Ada suasana yang berbeda di Menara Imperium, Setiabudi, pada Jumat sore itu, 22 Mei 2026 lalu. Di teras samping lobi, sebagian pekerja gedung berlantai 37 tersebut, mengikuti kegiatan Grounding Session Urban Farming, pelatihan berkebun yang diselenggarakan atas kerja sama Sigma Farming Academy (SFA) Pusaka Indonesia dengan Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Menara Imperium (PPMI).

Di sesi ini, peserta tidak hanya diajak memahami teori berkebun, tetapi juga mempraktikkan langsung cara mengolah sampah dapur menjadi kompos, menyiapkan media tanam, hingga meracik pestisida alami dari bahan-bahan sederhana yang tersedia di rumah.

Sesi dimulai dengan pembahasan mengenai sampah rumah tangga yang sering kali luput dari perhatian. Hal ini terasa semakin penting ketika melihat persoalan sampah yang semakin mengkhawatirkan. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang saat ini diperkirakan telah menampung lebih dari 55 juta ton sampah, dengan sekitar 43–53 persen, di antaranya berupa sampah organik atau sisa makanan. Setiap harinya, lebih dari 7.000 ton sampah dari Jakarta kembali masuk ke sana. Padahal, sebagian besar sampah organik sebenarnya bisa diolah di rumah dan tidak harus berakhir di TPA. Dari kesadaran inilah sesi dimulai: mengajak peserta melihat kembali sampah dapur yang selama ini dianggap tidak berguna.

Baca juga: Langkah Nyata SMAN 44 Jakarta Wujudkan Sekolah Nol Sampah

Sampah organik adalah sisa makanan, sayur, buah, dan segala yang kita konsumsi. Sampah jenis ini masuk kategori hijauan. Adapun, untuk menjadi kompos, diperlukan komponen coklatan, yang dapat berupa daun kering, kardus bekas, serbuk gergaji, dan tanah. Campuran dengan komposisi yang tepat antara hijauan dan coklatan merupakan kunci kesuksesan dalam mengompos. Peserta diperkenalkan pada cara membuat kompos rumah tangga menggunakan compost bag sederhana yang mudah diterapkan dalam keseharian.

Dari sana, peserta kemudian diajak memahami bagaimana kompos yang telah dibuat dapat menjadi bagian penting dalam proses menanam. Tanah, sekam, dan kompos dicampur menjadi media tanam yang siap digunakan untuk menumbuhkan bibit-bibit baru. Bagi sebagian peserta, ini menjadi pengalaman pertama menyentuh tanah secara langsung dan memahami bahwa kehidupan tanaman bertumbuh dari proses yang sederhana namun penuh perhatian.

Peserta belajar membuat media tanam

Menanam ternyata bukan hanya soal hasil panen. Ada proses yang mengajarkan kesabaran: menyiapkan media tanam, menaruh benih dengan hati-hati, menyiram secukupnya, lalu menunggu tunas kecil muncul perlahan dari dalam tanah. Proses berkebun ini bisa membuat kita lebih menghargai makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Baca juga: Mengolah Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos: Solusi Ramah Lingkungan

Setelah memahami bagaimana tanaman dirawat sejak awal, sesi kemudian berlanjut pada cara menjaga tanaman tetap sehat tanpa bergantung pada bahan kimia. Peserta belajar membuat pestisida alami dari bahan dapur, seperti bawang putih, bawang merah, cabai, jahe, dan serai. Bahan-bahan yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki manfaat besar untuk membantu mengusir hama tanaman secara alami dan lebih ramah lingkungan.

Dari keseluruhan proses tersebut, peserta tidak hanya belajar teknik urban farming, tetapi juga diajak melihat kembali siklus kehidupan yang sederhana: apa yang berasal dari alam pada akhirnya dapat kembali ke alam. Sampah dapur diolah menjadi kompos, kompos menyuburkan tanaman, dan tanaman kembali menjadi sumber pangan yang sehat bagi manusia.

Kepala Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Pusaka Indonesia, Niniek Febriany mengungkapkan, Tim Sigma Farming Academy berharap kegiatan sederhana ini bisa menjadi awal dari tumbuhnya kesadaran ekologis di tengah kehidupan urban yang semakin cepat dan padat.

“Bahwa merawat tanaman, menyentuh tanah, dan menumbuhkan pangan kecil di rumah atau area kantor bukan hanya soal berkebun, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih sehat dengan lingkungan dan diri sendiri,” paparnya.

Niniek menambahkan, di tengah ritme kerja perkotaan, aktivitas seperti ini juga bisa menjadi bentuk grounding dan wellness yang sederhana namun nyata. Memberi jeda sebentar dari layar atau pekerjaan dan mengembalikan perhatian pada proses alami. Ia berharap, setelah workshop ini, akan muncul langkah-langkah kecil yang dapat terus tumbuh: sudut hijau di meja kerja, pot tanaman di balkon rumah, kebun kecil komunitas kantor, atau bahkan perubahan cara pandang terhadap alam di sekitar kita. Karena perubahan besar sering kali dimulai dari ruang-ruang paling kecil yang kita rawat bersama.

 

Ficky Yusrini, Aniswati Syahrir
Kader Pusaka Indonesia DKI Banten & Jawa Barat

Reaksi Anda:

Loading spinner