Siapa bilang berkebun harus punya halaman luas? Di tengah kemeriahan Festival Gita Indonesia 2026, puluhan pengunjung dari berbagai kalangan, berkumpul di area Demo Urban Sigma Farming untuk membuktikan bahwa menanam sayuran bisa dimulai dari ruang yang sangat terbatas. Selama 30 menit, dari pukul 11.15 hingga 11.45 WIB, Ficky Yusrini dan Retno Sulistyawati, dari Sigma Farming Academy (SFA), membagikan praktik sederhana di sesi Demo Penanaman Pohon di Polybag.
Sebelum sesi dimulai, kami mendapat tamu kehormatan, yakni Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Administrasi Jakarta Pusat, Witri Yenny Arifin, yang turut hadir. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi kegiatan ini karena sejalan dengan instruksi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenai pengelolaan dan pemilahan sampah rumah tangga. Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk mengikuti sesi dengan sungguh-sungguh karena ilmu yang dibagikan dapat langsung diterapkan di rumah.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu PKK Jakarta Pusat, siswa-siswi SMAN 27 Jakarta, hingga masyarakat umum yang hadir di Festival Gita Indonesia. Keberagaman peserta menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap praktik pertanian perkotaan yang sederhana, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan di kehidupan sehari-hari.
“Anak muda sekarang kurang aware dengan keberadaan sampah – gimana caranya bikin kompos, dan acara ini menarik banget!” ungkap Christofer, anak sekolah, dengan antusias mengenai kegiatan Sigma Urban Farming.
Kompos Rumah Tangga yang Tidak Bau
Demo Urban Sigma Farming menghadirkan dua materi utama, yaitu pembuatan kompos rumah tangga dari limbah dapur dan pembuatan media tanam untuk budidaya sayuran di lahan sempit.
Pada sesi pertama, Ficky dan Retno membahas salah satu kekhawatiran yang paling sering muncul ketika seseorang ingin mulai berkebun: kompos yang dianggap identik dengan bau tidak sedap.
Keduanya menjelaskan bahwa kompos yang dibuat dengan benar justru tidak menimbulkan bau. Kuncinya terletak pada keseimbangan antara bahan cokelat, seperti daun kering dan kardus, dengan bahan hijau berupa dedaunan segar maupun limbah organik dari sisa sayuran dapur.
Bahan-bahan tersebut disusun secara berlapis di dalam komposter, kemudian disemprot dengan air cucian beras untuk membantu mempercepat proses penguraian. Dengan metode sederhana ini, limbah dapur yang biasanya berakhir di tempat sampah dapat diubah menjadi sumber nutrisi yang bermanfaat bagi tanaman.
“Mari mulai memanfaatkan sisa sayuran dari dapur sebagai bahan kompos, daripada langsung dibuang,” ujar Ficky di sela-sela demonstrasi.
Baca juga: Urban Farming: Menghadirkan Pangan Sehat dan Ruang Grounding di Tengah Kehidupan Perkotaan

Peserta diberi kesempatan melihat proses praktik
Resep Media Tanam untuk Lahan Sempit
Setelah membahas pengomposan, peserta diajak mengenal salah satu kunci keberhasilan berkebun di lahan terbatas, yaitu media tanam yang tepat.
Retno menjelaskan bahwa tanah pekarangan tidak selalu ideal untuk langsung digunakan sebagai media tanam. Karena itu, Urban Sigma Farming menggunakan formulasi media tanam dengan perbandingan 1:1:1, yaitu tanah, kompos, dan sekam. Kombinasi ketiga bahan tersebut menghasilkan media yang gembur, kaya nutrisi, serta mampu menyimpan air dan udara secara seimbang sehingga mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
“Mula-mula kita isi polybag dengan bahan cokelat dan bahan hijau sebagai tabungan nutrisi bagi tanaman. Setelah itu ditutup kembali dengan bahan cokelat, lalu baru dimasukkan campuran media tanam,” jelas Retno.
Agar peserta memperoleh pengalaman yang lebih nyata, Retno juga mengajak mereka untuk maju mendekati area demonstrasi. Peserta dipersilakan melihat, menyentuh, bahkan mencium kompos yang dibuat dari limbah organik rumah tangga. Interaksi langsung ini membuat peserta lebih memahami bahwa kompos yang dikelola dengan baik tidak berbau dan aman digunakan untuk berkebun.
Suasana semakin meriah ketika sesi kuis dibuka. Pengunjung yang sejak awal tampak antusias mengikuti materi berkesempatan menjawab berbagai pertanyaan seputar pengomposan dan media tanam.
Doorprize berupa Jamu Akarrasa menjadi daya tarik tersendiri. Berbagai pertanyaan yang diajukan menguji pemahaman peserta mengenai bahan-bahan kompos, jenis limbah sayuran yang dapat ditanam kembali, fungsi sekam dalam media tanam, hingga langkah-langkah membuat kompos rumah tangga yang efektif.
Baca juga: Sigma Farming Academy Sebarkan Cinta Berkebun untuk Warga Kantoran
Langkah Kecil Menuju Kemandirian Pangan
Demo Urban Sigma Farming di Gita Fest RRI menunjukkan bahwa berkebun tidak harus rumit atau membutuhkan lahan yang luas. Dengan memanfaatkan limbah dapur, menggunakan media tanam yang tepat, dan memiliki kemauan untuk mencoba, setiap keluarga dapat mulai menghasilkan pangan sehat dari rumah sendiri.
Langkah sederhana ini tidak hanya membantu mengurangi jumlah sampah rumah tangga yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan keluarga dan gaya hidup yang lebih sehat.
Masyarakat yang ingin mempelajari Urban Sigma Farming lebih lanjut dapat mengunjungi website Pusaka Indonesia atau mengikuti Instagram @pusakaindonesiagemahripah. Sigma Farming Academy juga membuka kesempatan bagi komunitas, sekolah, instansi, maupun kelompok masyarakat yang ingin menyelenggarakan workshop pertanian organik dan Urban Sigma Farming secara langsung.
Ficky Yusrini
PIC Urban Sigma Farming Kota Bogor
Reaksi Anda:




