Tak butuh waktu lama bagi SMAN 44 Jakarta Timur untuk merespons kebijakan terbaru ibu kota. Hanya dua hari setelah Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta Pramono Anung tentang kewajiban pemilahan sampah dari sumbernya, resmi berlaku pada 10 Mei 2026, sekolah ini sudah bergerak dengan aksi yang konkret.

Pada Selasa, 12 Mei 2026, SMAN 44 menggelar kegiatan edukasi sekaligus praktik langsung pembuatan kompos bagi 252 siswanya secara serentak. Menggandeng Perkumpulan Pusaka Indonesia (PI) sebagai mitra narasumber, kegiatan bertajuk “A Step Toward a Greener Future” ini menjadi penanda bahwa institusi pendidikan pun bisa menjadi garda terdepan dalam mendukung kebijakan publik lingkungan hidup.

Lebih dari Sekadar Nilai di Rapor

Kegiatan ini sengaja dirancang bukan sebatas pemenuhan tugas kurikulum. Wakil Bidang Akademik SMAN 44 Jakarta, Ferdinan Sinulingga, S.Pd, menegaskan hal itu di hadapan para siswa. “Nilai di rapor adalah hal paling kecil yang kamu dapatkan. Yang utama adalah bagaimana sampah di sekolah bisa nol,” ujar Ferdinan dalam sambutannya.

Pernyataan itu mencerminkan orientasi yang lebih luas: menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa, bukan sekadar kompetensi akademik yang diukur lewat angka.

Langkah SMAN 44 ini sejalan dengan regulasi terbaru Pemprov DKI Jakarta yang mewajibkan pemilahan sampah organik dan anorganik di tingkat rumah tangga, sekolah, hingga pelaku usaha. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi besar untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang—dengan target ambisius: mulai 1 Agustus 2026, fasilitas pengolahan sampah terbesar se-Asia Tenggara itu hanya akan menerima sampah residu.

Baca juga: Women Forest Defender: Bagaimana Perempuan Adat Menjaga Hutan dan Sumber Pangannya

Praktik Langsung Pengomposan di Sekolah

Sebanyak 252 siswa kelas X, yang terbagi ke dalam tujuh rombongan belajar (X-1 hingga X-7), mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hari itu. Acara dibuka dengan sesi pembekalan teori mengenai edukasi pilah sampah di Ruang Audio Visual, yang disampaikan oleh Ketua Wilayah DKI Jakarta–Banten Pusaka Indonesia, Sari Mariyose. Setelah mendapatkan pembekalan teori, para siswa diarahkan menuju area belakang perpustakaan untuk melakukan praktik langsung.

Para siswa praktik membuat kompos

Setiap kelas telah dilengkapi dengan satu tong komposting berbahan drum plastik. Para siswa sebelumnya telah ditugaskan membawa bahan kompos dari rumah masing-masing. Di lokasi praktik, mereka mencampurkan sampah hijau—berupa sisa sayuran, kulit buah, dan limbah dapur organik—dengan sampah cokelat seperti daun kering dan serbuk gergaji. Daun kering tersedia melimpah di lingkungan sekolah, sedangkan limbah dapur dan sisa sayuran sebagian besar mendapatkannya dari pasar di dekat sekolah.

Setiap kelas didampingi 1-2 mentor Pusaka Indonesia, dengan pendampingan ketat dari para guru mereka. Proses pencampuran mengacu pada rasio: satu bagian sampah hijau berbanding dua bagian sampah cokelat (1:2). Untuk mengoptimalkan fermentasi dan proses penguraian, setiap kelas juga menuangkan satu liter air cucian beras (ACB) serta menggunakan starter kompos sigma. Kegiatan praktik langsung sebagai bentuk experiential learning ini diselingi dengan kuis-kuis dari materi yang telah disampaikan. Tak sedikit siswa yang menyampaikan pertanyaan-pertanyaan seputar pengomposan ini kepada mentor.  Misalnya, bagaimana jika di lingkungan mereka tidak ada daun kering, karena rumahnya berada di dalam gang yang tidak ada pohon besar? Bagaimana kalau di rumah tidak ada lahan untuk meletakkan komposter? Apa yang bisa dilakukan untuk melanjutkan program kompos ini di sekolah? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Fadlan Khairul Anam, salah seorang siswa, menyampaikan bahwa pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan ini akan diterapkan dalam program kerja OSIS di bidang lingkungan hidup. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu teknik mengompos yang benar dan bisa melanjutkan program ini melalui piket terjadwal. Nantinya sampah daun-daun kering tidak akan berserakan lagi di lingkungan sekolah. Kami juga akan lebih sadar memilah sampah organik dan anorganik mulai dari rumah hingga ke sekolah,” katanya.

Baca juga: Pusaka Indonesia Jawa Barat Dampingi FIB UI dalam Bakti Sosial di Desa Kiarapandak

Sekolah sebagai Ekosistem Perubahan

Kegiatan ini tidak berakhir di hari yang sama. Pihak sekolah telah menyusun sistem pendampingan berkelanjutan: setiap kelas memiliki jadwal piket khusus untuk merawat drum kompos mereka.

Secara rutin, nantinya para siswa diwajibkan mengaduk isi drum. Mereka juga harus mengecek keseimbangan bahan organik—setiap penambahan sampah hijau wajib diikuti penambahan sampah cokelat—guna mencegah bau tak sedap sekaligus mempertahankan kelembapan.

Dengan perawatan yang konsisten, siswa dapat memanen Pupuk Organik Cair (POC) setidaknya satu kali dalam sebulan. Hasil panen berupa POC maupun kompos padat tersebut akan dikembalikan ke alam: digunakan untuk menyuburkan tanaman-tanaman di lingkungan SMAN 44.

Kolaborasi antara pihak sekolah, para mentor Pusaka Indonesia, dan semangat siswa SMAN 44 Jakarta Timur menunjukkan bahwa perubahan perilaku terhadap sampah bisa dimulai dari ruang kelas. Perubahan besar menuju kota yang lebih bersih dan berkelanjutan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Ketika pendidikan karakter dan kebijakan publik berjalan beriringan, sekolah tidak lagi sekadar tempat belajar—melainkan laboratorium nyata pembentukan generasi yang bertanggung jawab terhadap bumi tempat mereka berpijak.

 

Ficky Yusrini, Listiana Ulya Maulida
Kader Pusaka Indonesia Jawa Barat dan DKI Jakarta – Banten

Reaksi Anda:

Loading spinner