Cukupkah Dengan Bekal Ijazah Saja?

Bayangkan seorang lulusan dengan nilai akademik tinggi memasuki hari pertama kerja. IPK-nya mendekati sempurna, pandai menggunakan gadget, dan mampu menjawab pertanyaan teknis. Namun ketika harus menjelaskan gagasannya kepada rekan kerja, menilai kebenaran berita yang simpang siur, atau menyesuaikan rencana karena keadaan berubah, ia kebingungan. Pertanyaannya sederhana: apakah ia siap memasuki dunia kerja dengan bekal akademiknya saja?

Dunia kerja yang dihadapi generasi muda bergerak jauh lebih cepat dibandingkan satu atau dua dasawarsa lalu. Digitalisasi, kecerdasan buatan, dan otomatisasi mengubah cara orang bekerja. Sejumlah pekerjaan berkurang, beberapa pekerjaan baru muncul. Konsekuensinya, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan terus bergeser. Sebagian yang dipelajari hari ini tetap berguna, tetapi sebagian lagi dapat menjadi usang dalam waktu singkat.

Karena itu, ijazah dan kemampuan teknis tidak boleh menjadi satu-satunya andalan. Keduanya perlu dilengkapi dengan beberapa keterampilan yang diperlukan untuk memasuki, menjalani, dan survive dalam peta dunia kerja saat ini dan masa depan.

Baca juga: Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Artificial Intelligence (AI) 

Apa itu Keterampilan Abad ke-21?

Keterampilan abad ke-21 adalah istilah yang merujuk pada keterampilan yang menentukan apakah pengetahuan yang kita miliki dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah nyata saat ini. Keterampilan pertama adalah berpikir kritis. Kita hidup di tengah arus informasi yang nyaris tidak pernah berhenti. Berita, video pendek, komentar, dan pesan berantai datang silih berganti. Masalahnya, tidak semua informasi benar atau disajikan secara utuh. Berpikir kritis membantu kita membedakan fakta, pendapat, dan dugaan. Kebiasaan ini dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana: “Dari mana informasi ini berasal, apa buktinya, dan adakah penjelasan lain yang masuk akal?” Orang yang kritis bukan orang yang gemar membantah. Ia bersedia memeriksa alasan sebelum percaya atau mengambil keputusan.

Kemampuan berikutnya adalah komunikasi dan kolaborasi. Ide yang bagus akan sulit memberi manfaat jika tidak dapat dijelaskan dengan jelas. Komunikasi bukan sekadar berani berbicara. Kita juga perlu belajar menulis dengan runtut, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, serta memahami cara pandang orang lain. Kemampuan tersebut diperlukan saat bekerja dalam tim yang anggotanya memiliki usia, pendidikan, budaya, dan keahlian berbeda. Di sinilah kerja kelompok, kepanitiaan, organisasi, atau kegiatan komunitas menjadi tempat latihan yang sesungguhnya. Kita belajar membagi tugas, memenuhi janji, menerima kritik, dan menyelesaikan perbedaan tanpa merusak hubungan.

Berikutnya adalah kreativitas. Kreativitas atau inovasi muncul ketika seseorang melihat persoalan dari sudut yang berbeda dan berani mencoba cara baru. Anak muda dapat berkreasi mengolah limbah menjadi barang berguna, membantu usaha kecil memasarkan produk lewat media digital, atau menyederhanakan kegiatan organisasi yang selama ini berbelit-belit. Sebuah gagasan menjadi inovasi ketika benar-benar diterapkan untuk menjawab kebutuhan.

Selain itu, generasi muda sangat membutuhkan adaptabilitas dan ketangguhan. Dalam perjalanan karier, seseorang mungkin beberapa kali berganti peran, mempelajari hal-hal baru, atau bekerja dalam situasi yang belum pernah ditemui. Kemampuan belajar kembali akan sangat menentukan. Kegagalan pun perlu ditempatkan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti. Ketangguhan tumbuh ketika kita berani mencoba, mengakui kekurangan, memperbaiki cara, lalu melangkah lagi.

Literasi digital melengkapi seluruh keterampilan tersebut. Hampir semua profesi kini bersentuhan dengan teknologi informasi, termasuk pekerjaan yang tidak berlatar belakang teknologi. Namun, literasi digital lebih luas daripada kemampuan memakai aplikasi. Kita perlu mampu mencari, menilai, mengolah, dan melindungi informasi. Kita juga perlu memahami batas etis penggunaannya. Kecerdasan buatan, misalnya, dapat membantu mencari ide atau mempercepat pekerjaan, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa. Teknologi sebaiknya membantu kita berpikir, bukan membuat kita berhenti berpikir.

Semua keterampilan itu tidak tumbuh hanya dengan membaca buku atau mengikuti satu pelatihan. Kita memerlukan pengalaman langsung. Kegiatan di Pusaka Indonesia memberi contoh ruang belajar semacam itu. Kebiasaan melakukan kajian dan mencari bukti melatih sikap kritis. Tim yang beragam melatih komunikasi dan gotong royong. Program Akademi Herbal Nusantara, Sigma Farming Academy, dan Social Entrepreneur Academy menghadirkan masalah lapangan yang menuntut kreativitas, penyesuaian, serta kegigihan. Sekolah, kampus, organisasi, tempat kerja, dan lingkungan sekitar juga dapat menjadi laboratorium belajar yang sama baiknya.

Baca juga: Hari Anak Nasional: Membangun Anak, Membangun Peradaban

Menyiapkan Diri

Generasi muda tidak perlu menunggu lulus untuk mulai mempersiapkan diri. Latihlah kebiasaan memeriksa informasi sebelum membagikannya. Sampaikan pendapat dengan alasan yang jelas. Ikutlah dalam proyek bersama dan tuntaskan bagian pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita. Pelajari teknologi baru tanpa mengabaikan etika. Ketika gagal, luangkan waktu untuk memahami penyebabnya dan mencoba cara yang lebih baik.

Kita memang tidak dapat meramalkan seluruh pekerjaan yang akan ada 10 atau 20 tahun lagi. Namun, kita dapat menyiapkan kemampuan untuk menghadapi perubahan. Ijazah dan kemampuan teknis tetap menjadi dasar penting. Agar dasar itu benar-benar berguna, generasi muda harus terus belajar, mampu bekerja dengan orang lain, dan peka terhadap persoalan di sekitarnya. Dari kebiasaan itulah lahir karier yang tangguh sekaligus karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

 

Lukito Nugroho
Kontributor Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia

Reaksi Anda:

Loading spinner