Setiap 28 Oktober kita mengenang Hari Sumpah Pemuda. Semangat pergerakan dalam tiga ikrar yang lahir pada 1928 tersebut, diucapkan oleh anak-anak muda dari berbagai daerah, organisasi, dan latar belakang. Namun meski berbeda, mereka berani melampaui kepentingan kelompok untuk menemukan tujuan bersama: Indonesia.
Hampir satu abad kemudian, zaman telah berubah. Kita tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang sama. Tantangan kita di era sekarang adalah menjaga persatuan di tengah perbedaan, membangun kemandirian di tengah ketergantungan, merawat alam di tengah masifnya kerusakan lingkungan, serta tetap mampu berpikir kritis di tengah derasnya informasi, disinformasi, media sosial dan perkembangan Artificial Intelligence (AI).
Hari Sumpah Pemuda memang sebaiknya tidak hanya sebagai peringatan saja. Semangatnya perlu dilanjutkan dalam bentuk baru di kehidupan hari ini.
Memaknai Sumpah Pemuda dengan Semangat Pergerakan
Salah satu pelajaran penting dari Sumpah Pemuda adalah keberanian untuk bergerak bersama. Para pemuda 1928 meskipun dengan latar belakang berbeda, tetapi bisa menemukan titik temu dalam cita-cita kebangsaan.
Semangat itulah yang masih relevan dilanjutkan hingga sekarang. Persatuan bukan berarti semua orang harus mengerjakan hal yang sama. Kekuatannya justru diwujudkan ketika berbagai kemampuan dipertemukan untuk menjawab persoalan bersama.
Dalam konteks itu, kegiatan di Pusaka Indonesia dapat menjadi salah satu contoh bagaimana semangat pergerakan diterjemahkan pada zaman sekarang. Pusaka Indonesia bergerak melalui berbagai bidang yang dekat dengan kebutuhan masyarakat: pangan dan pertanian, lingkungan hidup, kesehatan dan herbal, pendidikan, serta pengembangan kewirausahaan sosial. Bidang-bidang tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung dalam upaya mendorong masyarakat agar lebih mandiri, berdaya dan mampu mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan di sekitarnya.
Semangat kebangsaannya harus ada pada apa yang dikerjakan. Setiap ide dan gagasan diwujudkan melalui kegiatan yang sederhana, konkret, dan melibatkan masyarakat.
Gerakan Bersama yang Dimulai Dari Satu Polybag
Di bidang pangan dan pertanian, misalnya, melalui Sigma Farming Academy telah dikembangkan Sentra Polybag Sigma (SPS). Gagasannya sederhana: pekarangan dapat menjadi ruang belajar sekaligus sumber pangan keluarga. SPS kemudian berkembang menjadi sentra berdaya yang melibatkan warga, RT/RW, PKK hingga BUMDes di berbagai daerah seperti Sleman, Madiun, Bantul, Wonogiri, Kulon Progo, Banyumas, Cirebon, dan Tabanan.
Dari satu polybag, orang belajar bertani. Dari kegiatan bersama, tumbuh kemandirian dan kepedulian. Sederhana, tetapi di situlah sebuah gerakan bisa dimulai.
Di bidang lingkungan, semangat serupa terlihat melalui Akademi Bumi Lestari (ABL). Pada 2026, misalnya, melakukan edukasi pemilahan sampah kepada 252 siswa di SMAN 44 Jakarta, dan mendampingi praktik kokurikuler para siswa SMAN 36 Jakarta dalam memanfaatan limbah organik menjadi eco enzyme. Di Malang Selatan, upaya pemulihan lingkungan diwujudkan melalui pembangunan Hutan Surgawi dengan vegetasi utama bambu yang dimulai pada Desember 2024 untuk membantu menjaga sumber mata air.
Sementara di bidang pangan, Kedaulatan Pangan Nusantara (KPN) mengajak masyarakat melihat kembali kekayaan pangan sendiri. Pada 2026, dilakukan riset berbagai pangan lokal untuk pembuatan tempe, termasuk koro pedang, sorgum, jagung dan berbagai jenis kacang-kacangan. Hasilnya kemudian diperkenalkan dalam sebuah kegiatan retreat di Solo pada 7–9 Agustus 2026.
Di bidang kesehatan dan pengetahuan tradisional, Akademi Herbal Nusantara (AHN) menghidupkan kembali pengetahuan tentang herbal dan jamu. Kegiatan meramu jamu bersama masyarakat di Cengkareng, Jakarta Barat, pada April 2026 dan kegiatan bersama pelajar dalam Gita Fest RRI di Jakarta pada Juni 2026 menjadi contoh bagaimana pengetahuan ini dapat diperkenalkan kepada generasi hari ini.
Di bidang Seni Budaya, Pusaka Indonesia secara reguler menyelenggarakan pagelaran seni yang bertujuan membangkitkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air, dengan berpijak pada sejarah luhur masa lampau. Di bulan Desember mendatang, Pusaka Indonesia misalnya, menyelenggarakan Art Show yang mengangkat tema Sastrajendra Hayuningrat Pangruwatin Diyu, ajaran kuno leluhur Nusantara yang pada dasarnya mengajarkan manusia menyelami tujuan hidup dan menuntun untuk memperbaiki karakter.
Beragam bidang dan kegiatan tersebut memang berbeda bentuk. Namun, semuanya menunjukkan satu hal: kepedulian kebangsaan lebih meresap ketika diterjemahkan menjadi tindakan, dan tindakan akan lebih kuat ketika dikerjakan secara gotong royong.
Sumpah Pemuda dalam Wajah Generasi Sekarang
Jika generasi 1928 menggunakan persatuan untuk membangun kesadaran tentang sebuah bangsa yang belum merdeka, tentu generasi hari ini memiliki tugas berbeda: mengisi kemerdekaan dengan kemampuan menciptakan Indonesia yang mandiri, berdaya dan berkelanjutan.
Perjuangannya bisa berlangsung di mana saja. Di sawah dan pekarangan ketika kita belajar menghasilkan pangan. Di sekolah ketika kesadaran lingkungan ditanamkan. Di laboratorium ketika pangan lokal diteliti. Di komunitas ketika pengetahuan herbal diwariskan. Di ruang digital ketika teknologi dan AI digunakan untuk menciptakan pengetahuan dan karya.
Kita hari ini tidak perlu menunggu menjadi tokoh tertentu untuk ikut bergerak. Ada yang bertani, meneliti, mengembangkan teknologi, membangun usaha, merawat lingkungan, mengajar, menulis atau menggerakkan komunitas. Walaupun berbeda peran, tetapi memiliki satu semangat sama: memberi manfaat bagi Indonesia.
Kalau pada 1928 para pemudanya menyatukan suara, hari ini kita ditantang untuk menyatukan kesadaran, kemampuan dan tindakan secara nyata. Karena Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang bangga pada sejarahnya. Indonesia membutuhkan generasi yang bersedia meneruskan semangat pergerakannya.
Dan ingatlah, sejarah berikutnya sedang ditulis dari apa yang kita kerjakan hari ini.
Theo Roberto
Kontributor Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia
Sumber referensi:
- Kompas.com – Sejarah Sumpah Pemuda yang Diperingati Setiap 28 Oktober
- Kompas.com – Isi Teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Maknanya
- Pusaka Indonesia – Sentra Polybag Sigma
- Pusaka Indonesia – Kegiatan AHN di Cengkareng
- Pusaka Indonesia – Refleksi 17 Agustus dan kegiatan ABL di SMAN 44 Jakarta
Reaksi Anda:






