Nama Mar’ie Muhammad (1939-2016) tidak sering muncul di linimasa hari ini. Ia bukan tipe tokoh yang kutipannya viral di media sosial atau dijadikan konten motivasi. Tidak ada pidato berapi-api, tidak ada gaya dramatis. Namun, kesederhanaan dan konsistensinya yang membuat ceritanya tetap relevan.

Mar’ie menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia periode 1993-1998 pada Kabinet Pembangunan VI era Presiden Soeharto. Sebelumnya, ia menjabat Direktur Jenderal Pajak (1988-1993). Ia dikenal dengan julukan “Mr. Clean” karena dedikasinya memberantas gratifikasi dan korupsi di lingkungan Departemen Keuangan, serta “Mr. Cuek” karena jarang berinteraksi dengan media.

Integritas yang Dijaga dalam Kehidupan Sehari-hari

Integritas Mar’ie bukan hanya retorika. Ia menunjukkannya melalui kebiasaan kecil yang konsisten. Ia sering jogging di Senayan tanpa pengawalan berlebihan. Dompetnya biasanya hanya berisi puluhan ribu rupiah. Mobil dinas tidak pernah dipakai untuk kepentingan keluarga. Hadiah parsel lebaran yang berisi barang mewah dikembalikan ke pengirimnya. Keluarganya diajarkan untuk “menjaga telunjuk” tidak memberi sinyal keinginan yang bisa membuka celah konflik kepentingan.

Bagi Mar’ie, celah sekecil apa pun berpotensi menjadi pintu masuk korupsi. Di era di mana kekuasaan sangat terkonsentrasi dan transparansi masih rendah, sikap seperti ini bukan hal biasa.

Baca juga: Haji Agus Salim: Diplomasi yang Tumbuh dari Seni Percakapan

Kontribusi Konkret di Bidang Keuangan

Berbeda dengan citra “tokoh moral” semata, Mar’ie memiliki catatan kerja nyata sebagai birokrat dan Menteri Keuangan. Sebagai Dirjen Pajak, ia mendorong modernisasi sistem perpajakan dan penegakan kepatuhan yang lebih ketat. Di tengah banyaknya pengusaha besar yang dekat dengan kekuasaan, langkah ini bukan pekerjaan ringan.

Saat menjabat Menteri Keuangan, ia fokus memperkuat tata kelola keuangan negara, pengawasan BUMN, serta membersihkan praktik gratifikasi di birokrasi. Ia dikenal berani menolak intervensi dari lingkaran dalam kekuasaan dalam beberapa keputusan fiskal. Sikap ini menunjukkan bahwa integritasnya bukan hanya simbolis, melainkan diuji dalam pengambilan keputusan yang berisiko terhadap jabatan dan kariernya.

Mar’ie menjabat tepat saat krisis moneter Asia 1997-1998 meledak. Ia berada di garis depan menghadapi tekanan ekonomi berat, termasuk negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Meski akhirnya terjadi perbedaan pandangan dengan Soeharto yang menyebabkan ia digantikan, sikapnya menunjukkan prioritas pada stabilitas keuangan negara di atas tekanan politik.

Setelah purna tugas, ia terus berkontribusi sebagai Ketua Oversight Committee Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) selama dua periode, serta aktif di Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Rekam jejak ini menegaskan bahwa komitmen antikorupsi dan tata kelola baik bukan hanya dilakukan saat berkuasa.

Pelajaran Relevan untuk Generasi Sekarang

Generasi hari ini hidup di era yang serba cepat dan serba terdokumentasi. Dorongan untuk selalu terlihat, bersuara, dan membangun personal branding sangat kuat. Popularitas sering datang lebih dulu, sementara tanggung jawab dan konsistensi menyusul di belakang.

Baca juga: Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta dan Relevansinya Hari Ini

Dari Mar’ie Muhammad, ada beberapa pelajaran penting:

  • Integritas adalah kebiasaan harian, bukan deklarasi sesaat. Menjaga kejujuran dimulai dari hal-hal kecil: penggunaan fasilitas negara, penerimaan hadiah, hingga sikap keluarga.
  • Kerja dari dalam sering lebih efektif daripada gebrakan heroik. Mar’ie memilih pendekatan pelan, rapi, dan konsisten. Ia tidak perlu tampil sebagai simbol perlawanan, tapi dampaknya terasa pada sistem perpajakan dan tata kelola keuangan.
  • Konsistensi di tengah godaan kekuasaan. Di masa Orde Baru, godaan korupsi dan intervensi politik sangat besar. Mar’ie membuktikan bahwa tetap lurus adalah pilihan yang mungkin, meski berisiko.
  • Reputasi tidak perlu diumumkan. Di zaman media sosial, banyak orang sibuk menjelaskan dirinya sendiri. Mar’ie mengingatkan bahwa kepercayaan dibangun melalui kerja sunyi yang hasilnya dibiarkan waktu yang berbicara.

 

Wisnu Aji Negara
Kontributor Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia 

Referensi :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Mar’ie_Muhammad
  2. https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Peluncuran-Buku-Biografi-Mar%E2%80%99ie-Muhammad
  3. https://bulletin.bmeb-bi.org/bmeb/vol1/iss4/6
  4. https://m.antaranews.com/berita/601062/marie-muhammad-berkontribusi-besar-bangun-institusi-bersih
  5. https://www.imf.org/external/np/loi/011598.HTM

Reaksi Anda:

Loading spinner