Ada masanya ketika Indonesia belum benar-benar dipercaya. Negara ini masih muda, masih sering dipandang sebelah mata. Dalam situasi seperti itu, tidak banyak yang bisa diandalkan selain akal sehat dan cara berbicara yang tepat. Di ruang yang serba terbatas itulah Haji Agus Salim bekerja bukan dengan senjata, tapi dengan percakapan yang rapi, tenang, dan mengerti ke mana arah pembicaraan.
Willem Schermerhorn, seorang profesor teknik sipil yang sempat menjabat Perdana Menteri Belanda pada 1945-1946, dalam catatan hariannya menyebut Agus Salim sebagai ouwe heer, orang tua yang sangat pintar. Agus Salim dipuji sebagai jenius bahasa, piawai menulis dan berbicara, menguasai banyak bahasa Eropa. Pujian tersebut ditutup dengan satu kalimat getir: sepanjang hidupnya, Salim tetap melarat.
Baca juga: Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta dan Relevansinya Hari Ini
Kalimat itu membuka ironi yang justru menjadi kunci dalam memahami Agus Salim. Pada masa ketika Republik Indonesia masih rapuh dan belum diakui, negara ini nyaris tak memiliki modal material. Indonesia memiliki aset tak berwujud seperti akal, keberanian, dan militansi segelintir orang yang mampu menjaga kehormatan bangsa lewat kata-kata. Agus Salim adalah salah satunya.
Ia bukan diplomat yang lahir dari sekolah protokol, melainkan otodidak dari kebiasaan membaca dan berbincang. Percakapan baginya bukan alat pamer kecerdasan, melainkan ruang bertukar pikiran.
Mohammad Roem pernah mencatat kisah Mochtar Lubis yang duduk mendengarkan Agus Salim berbicara selama dua jam tanpa terasa. Saat Mochtar hendak berpamitan, Salim justru menahannya. Percakapan berlanjut dua jam lagi. Tidak ada kesan menggurui, tidak pula kebutuhan untuk menang. Alur pikirannya mengalir, sehingga waktu terasa kehilangan urgensinya.
Hal yang menarik, Agus Salim tidak pernah memilih lawan bicara. Ia berbincang dengan siapa saja, dari pejabat tinggi, wartawan, hingga orang biasa. Bahkan, ia mengakui bahwa berbicara dengan orang yang pengetahuannya sederhana seringkali lebih mudah. Tidak ada gengsi intelektual yang harus dijaga. Dalam dialog, semua orang setara. Dari sikap inilah wibawa Agus Salim tumbuh, tanpa jarak dan tanpa intimidasi.
Baca juga: Meneladani Integritas Ir. Sutami, Warisan Abadi untuk Negeri
Tradisi berpikir dan berbincang inilah yang kemudian menjelma menjadi kekuatan diplomasi Indonesia di awal kemerdekaan. Jika Perundingan Linggarjati tahun 1946 dipimpin oleh Sutan Sjahrir sebagai kepala pemerintahan dan negosiator utama, maka Agus Salim menghadirkan wajah lain dari diplomasi republik: ketenangan nalar, kecakapan bahasa, dan keyakinan bahwa bangsa yang baru lahir pun berhak berbicara secara setara di hadapan dunia.
Dalam berbagai pertemuan internasional setelahnya, peningkatan kualitas diplomasi terasa nyata. Agus Salim berdialog tanpa nada memohon dan tanpa sikap inferior. Berbekal logika yang konsisten dan penguasaan bahasa yang baik, ia berbicara seolah diplomasi memang sudah lama menjadi bagian dari kebudayaan bangsa ini. Argumennya tenang, tidak meninggi, namun sulit dipatahkan. Ia menunjukkan bahwa kehormatan dapat dirawat bahkan ketika kekuatan material belum sepenuhnya dimiliki.
Menariknya, kecakapan berbicara itu diimbangi dengan kemampuan untuk mendengarkan. Suatu hari, rumah Agus Salim dipenuhi tawa setelah kunjungan Mrs. De Hartog, Wakil Ketua Women’s International Club. Selama satu setengah jam percakapan, suara Salim nyaris tak terdengar. Ia lebih banyak mendengarkan. Seorang kerabat lalu berkelakar, “Paatje menemukan gurunya.”
Anekdot kecil itu menyimpan makna besar. Kecerdasan tidak membuat Agus Salim terjebak pada kebutuhan untuk selalu unggul. Ia paham bahwa percakapan bukan arena untuk menang, melainkan ruang untuk memahami. Dalam diplomasi dan kehidupan berbangsa, sikap inilah yang kerap menentukan arah.
Agus Salim wafat tanpa meninggalkan kekayaan materi. Tidak ada rumah besar atau simpanan berlimpah. Namun, ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih tahan lama: teladan tentang cara berpikir jernih, berbicara dengan martabat, dan mendengarkan tanpa rasa takut kehilangan wibawa.
Di masa kini, orang gampang terpancing emosi, gampang debat, tapi jarang mau duduk dan diskusi bersama untuk menemukan solusi. Semua ingin cepat membalas, cenderung impulsif. Pada titik ini, kisah Haji Agus Salim terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa memperjuangkan sesuatu kadang cukup dengan kepala dingin, kata-kata yang tepat sasaran, dan sikap mau mengakui bahwa orang di depan kita bukanlah lawan. Hanya seorang manusia lain yang juga ingin dimengerti.
Wisnu Ajinegara
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten
Sumber referensi:
- https://news.detik.com/berita/d-3675709/pejabat-negara-yang-rela-melarat-sampai-akhir-hayat
- https://www.historia.id/article/haji-agus-salim-diplomat-yang-melarat-drlje
- https://faisalbasri.com/2019/04/21/haji-agus-salim-kisah-teladan-kesederhanaan/
- https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7807056/agus-salim-diplomat-ulung-tanah-air-yang-mengalahkan-belanda-di-sidang-pbb
- https://thecolumnist.id/artikel/jejak-sejarah-seorang-diplomat-minangkabau-h-agus-salim-2956
- https://wiki.ambisius.com/orang/agus-salim/karya-terkenal
Reaksi Anda:




