Apa yang selama ini kita pahami tentang literasi? Apakah literasi sebatas kemampuan membaca dan menulis? Acara Bedah Buku Literasi Perjuangan yang digelar di Aula Rumah Belajar Persada, Bekasi, pada 26 September 2026, mengajak peserta melihat literasi dari perspektif yang lebih luas. Sesi ini dipandu oleh Setyo Hajar Dewantoro, Ketua Umum Pusaka Indonesia, dengan menghadirkan Bayu Arif Budiman, penulis buku Literasi Perjuangan, sebagai narasumber.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB)I, literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca, serta kemampuan mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Namun, pengalaman Bayu menunjukkan bahwa literasi dapat bermakna jauh lebih luas — dan itulah yang menjadi inti dan semangat yang diusung dari sesi bedah buku ini.
Bedah Buku Literasi Perjuangan Dihadiri Pegiat Taman Baca Se-Bekasi
Acara yang diselenggarakan oleh Pusaka Indonesia ini dihadiri oleh para pengurus dan kader Pusaka Indonesia, para guru dan anggota Komunitas Sekolah Persada Bekasi, para pegiat Taman Baca Masyarakat se-Bekasi, warga Kompleks Perumahan Tamansari Persada, serta masyarakat umum.
Turut hadir Agus B. Yanuar, pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) Tamansari Persada sekaligus tuan rumah venue acara. Dalam sambutannya, Agus menyampaikan apresiasi terhadap apa yang telah dikerjakan Pusaka Indonesia, dan mengaku diskusi ini membuatnya optimis terhadap masa depan bangsa. Sebuah optimisme yang menurut Agus, sejalan dengan semangat yang dibawa Bayu lewat bukunya.
“Kita baru bisa melihat Indonesia lebih baik dibanding negara lain ketika sedang di luar negeri. Indonesia tercinta kadang kotor, robek, hampir terjatuh di tangan lawan, tapi tidak pernah kita tinggalkan,” ujar Agus.
Setyo Hajar Dewantoro yang biasa disapa SHD, membuka sesi dengan apresiasi atas apa yang dilakukan Bayu, dan menilainya sebagai orang yang setia dalam perjuangan. Dengan segala keterbatasannya, Bayu tetap semangat menulis dan telah menghasilkan beberapa buku. Literasi Perjuangan adalah buku karyanya yang keempat.

Dialog interaktif bersama para peserta
Buku yang Berawal dari Kegelisahan
Sejak 2018, Bayu merintis rumah baca yang kini dikenal sebagai Perkabu — Perpustakaan Kampung Baru, di Bekasi Utara. Gagasan mendirikan rumah baca tersebut berawal dari pengamatannya terhadap lingkungan sekitar. Ia menemukan anak-anak yang putus sekolah, bahkan ada yang belum mampu membaca dengan baik meski sudah duduk di bangku SMP. Hal yang dilakukannya saat itu sederhana: membawa buku dan meminjamkannya kepada anak-anak.
Dari sana, Bayu tidak berhenti pada persoalan kemampuan membaca. Ia mulai melihat persoalan sosial yang lebih luas di lingkungan sekitarnya. “Saya menjawab apa yang memang dibutuhkan di lingkungan saya. Banyak anak yang putus sekolah. Ada anak SMP yang lambat membaca. Saya cuma menulis di porsi itu saja sebenarnya,” kisah Bayu.
Menariknya, Bayu tidak memiliki latar belakang kepenulisan. Ia mengaku sebelumnya lebih dikenal sebagai seorang musisi metal rock. Namun, pada satu titik, menulis lirik dan berteriak di atas panggung dirasakannya belum cukup untuk menjawab kegelisahannya terhadap keadaan bangsa. Pengalaman mendirikan taman baca menjadi ruang baginya untuk mendokumentasikan kegelisahan itu ke dalam tulisan.
Yang membuat kisah Bayu terasa mengharukan bagi para peserta yang menyimak sesi tersebut, pekerjaan pokoknya sehari-hari bukanlah menulis, melainkan merawat ibundanya yang sedang sakit. Di tengah keterbatasan waktu dan tenaga itulah, ia tetap menyisihkan ruang untuk mengurus taman baca, untuk menulis, dan untuk terlibat dengan lingkungannya. Baginya, seseorang tidak perlu menunggu menjadi ‘penulis’ atau memiliki pengalaman besar untuk mulai menulis. Justru pengalaman sehari-hari yang dijalani dengan sungguh-sungguh — sesederhana apapun itu — dapat menjadi kisah yang berharga.
“Tulis saja hal-hal yang Anda geluti, yang Anda suka. Karena tidak semua pengalaman kita, orang lain juga alami. Apalagi kalau pengalaman itu tidak banyak dilakukan orang lain, itulah yang saya tuliskan,” ungkapnya.
Literasi sebagai Jalan untuk Memberi Solusi
Bagi Bayu, membaca tidak berhenti pada pemahaman. Apa yang kita baca semestinya membawa kita kembali kepada kehidupan dan mendorong kita melakukan sesuatu. Salah satu kalimat yang ia tuliskan dalam bukunya berbunyi: “Mulai jadikan literasi sebagai dasar perubahan untuk kehidupanmu.”
Menurut Bayu, literasi bukan hanya kegiatan untuk mengerti. Literasi adalah sebuah proses yang dimulai dari mengamati keadaan, memahami persoalan, kemudian mengarahkannya menjadi sesuatu yang memberikan dampak.
Karena itu, literasi juga berkaitan erat dengan kesadaran sebagai manusia sosial. Menurut Bayu, kita tidak boleh lupa menjadi diri kita sebagai manusia sosial, di mana kita punya tanggung jawab untuk menjadi manusia yang berfaedah, setidaknya bagi lingkungan terdekat. Kebermanfaatan itu, misalnya, bisa dalam bentuk kontribusi kegiatan di tingkat RT. “Sekecil-kecilnya saya, kalau soal 17 Agustus-an, saya masih diandalkan. Itu berarti saya masih dibutuhkan oleh warga,” ucapnya.
Kedekatannya dengan warga di lingkungan tempat tinggalnya membawanya pada kepedulian yang lebih besar dampaknya. Sejak masa pandemi di 2020, Bayu menggagas ‘Bekasi Menolak Lapar’ — aksi sosial membagikan makanan gratis bagi warga yang terdampak pandemi. Aksi ini bermula dari pertanyaan sederhana soal bagaimana orang-orang yang sehari-hari mencari nafkah di jalanan bisa makan ketika semua orang diminta tinggal di rumah.
Dari kisah Bayu, diskusi kemudian bergeser ke refleksi yang lebih luas: bagaimana keberanian untuk memulai dari hal kecil bisa berujung pada karya yang bisa diwariskan. Sebagai pemandu diskusi sekaligus penulis, SHD tidak hanya menggali pengalaman Bayu, tapi juga mengajak peserta melihat hubungan antara literasi, keberanian untuk berbuat, dan karya yang dapat diwariskan.
SHD mengingatkan bahwa sebagian orang memiliki lebih banyak keleluasaan: waktu, akses, kesempatan, dan berbagai kemudahan lainnya, yang jauh melebihi apa yang dimiliki Bayu. Privilese tersebut, menurut SHD, dapat dimanfaatkan untuk menciptakan legacy dalam bentuk sebuah buku. “Menulis buku adalah cara kita untuk meninggalkan satu legacy. Ciptakan buku terbaikmu,” tutur SHD.
Apa yang dilakukan Bayu menjadi salah satu contohnya. Ia tidak memulai dari sesuatu yang besar. Ia melihat anak-anak di lingkungannya yang membutuhkan buku, lalu membawa buku. Dari sana lahir taman baca, kegiatan sosial, pengalaman, dan buku-buku yang ditulisnya, yang hari ini menjadi inspirasi bagi banyak orang yang menyimak acara secara offline di Bekasi maupun para peserta online dari seluruh penjuru Indonesia.
Dari sesi ini, kita belajar tentang ‘membaca’ yang tidak sekadar membaca buku secara fisik, tapi juga ‘membaca keadaan’ dan ‘membaca kegelisahan’, lalu bertanya: apa yang bisa kita lakukan dari apa yang kita lihat?
Seperti yang dituliskan Bayu di bagian sampul bukunya, tepat di atas judul: ‘Tahapan tertinggi seseorang membaca, ketika membaca mampu menjadi literasi perjuangan.’
Bagaimana menurut Anda?
Ficky Yusrini
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Jawa Barat
Reaksi Anda:




