Mengajarkan anak-anak mencintai lingkungan, bercocok tanam, dan menghargai makanan, bisa dimulai dari hal yang sederhana. Tidak harus selalu dilakukan di lahan kebun yang luas, tapi bisa dimulai dari pekarangan kecil. Keterbatasan lahan seharusnya tidak menghalangi anak dan keluarga untuk mengenal proses bercocok tanam.

Pengalaman ini, dihadirkan oleh Pusaka Indonesia Wilayah Bali untuk anak-anak dari Rumah Baca AIUEO di Denpasar pada Kamis, 20 Agustus 2026 lalu. Sebanyak 16 orang anak usia 5-7 tahun, diajarkan mengamati hingga memanen tanaman yang tumbuh dalam pot. Mereka juga ikut mengolah dan mencicipi berbagai sajian makanan dan minuman herbal.

Pengelola Rumah Baca AIUEO, Novera Ira mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan memberi edukasi kepada anak-anak sejak dini, tentang dari mana makanannya berasal. “Anak-anak kan, belum mengerti makanannya dari mana. Belum tentu yang sudah besar juga mengerti. Apalagi, kegiatan seperti ini sangat jarang, bahkan belum ada,” papar Ira, yang juga merupakan Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali.

Baca juga: Kebun Surgawi: Seni Membangun Ketahanan Pangan Keluarga ala Sigma Farming

Belajar Mengolah Makanan

Anak-anak belajar mengenal tanaman kangkung bersama SFA Pusaka Indonesia

Anak-anak belajar mengenal tanaman kangkung bersama SFA Pusaka Indonesia

Tanaman kangkung yang tumbuh di Rumah Baca AIUEO menjadi media belajar langsung bagi anak-anak. Mereka diajak mengamati tanaman sekaligus belajar cara memanen dengan benar. Dari pengalaman sederhana tersebut, mereka belajar bahwa sayuran yang biasa dijumpai di meja makan, berasal dari benih yang dapat ditanam, dirawat, dan dipanen di lingkungan terdekat. 

Setelah kegiatan panen, pembelajaran berlanjut dengan pengenalan pangan olahan khas Nusantara. Di antaranya, ada perkedel tahu isi kangkung dan sayur urap. Anak-anak tidak sekadar melihat, tetapi turut dilibatkan dalam proses memasak. Dengan pendampingan para kader dan orang tua, anak-anak tampak mengikuti dengan antusias. Mereka mengambil adonan kemudian membentuknya menjadi bola-bola perkedel dengan tangan mereka sendiri.

Aktivitas sederhana tersebut membuat proses memasak menjadi pengalaman yang menyenangkan. Anak-anak dapat menyentuh bahan, mengenali teksturnya, belajar membentuk adonan, sekaligus melihat bagaimana kangkung dapat dikreasikan menjadi beberapa jenis masakan yang berbeda. Keterlibatan langsung ini membuat proses belajar perjalanan pangan menjadi lebih utuh. Tidak hanya mengetahui dari mana bahan makanan berasal, tetapi juga mengalami bagaimana bahan tersebut diolah dan disajikan.

Baca juga: Urban Farming: Menghadirkan Pangan Sehat dan Ruang Grounding di Tengah Kehidupan Perkotaan

Mencicipi Hasil Masakan dan Minuman Herbal

Momen mencicipi menjadi salah satu bagian yang paling menyenangkan. Anak-anak menikmati perkedel tahu isi kangkung dan sayur urap yang disajikan. Respons mereka pun spontan, mengatakan menyukai masakan tersebut, bahkan meminta tambah. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk edukasi. Selain diberi pemahaman bahwa sayuran kaya gizi dan baik untuk dikonsumsi, mereka juga diajak untuk menemukan sendiri jenis olahan sayuran yang mereka sukai.

Pengalaman rasa dilanjutkan dengan memperkenalkan minuman herbal. Mereka diberi kesempatan mencicipi minuman berbahan alami yang tentunya memiliki karakter rasa berbeda dari minuman yang biasa mereka konsumsi sehari-hari. Anak-anak pun sangat antusias dan menyukai minuman yang diberikan. 

Seluruh proses belajar didampingi oleh orang tua, yang biasanya merupakan ayah, ibu, atau nenek. Menurut Ira, proses belajar tidak akan berhenti sampai di sini. Program ini baru berjalan 3 bulan dan akan terus berlanjut. “Ke depan akan dibuat rutin, dan akan berkolaborasi juga dengan Kedaulatan Pangan Nusantara (KPN) dan Akademi Herbal Nusantara (AHN) Pusaka Indonesia,” jelas Ira. Tak hanya itu, para orang tua pendamping, juga akan diajak mengikuti kegiatan edukasi dan praktik meracik minuman herbal yang sehat dan kaya manfaat. 

 

Dayu Prima
Kader Pusaka Indonesia Wilayah Bali

Reaksi Anda:

Loading spinner