Wilayah yang semakin padat penduduk membuat area resapan air berkurang. Penyebabnya adalah pori-pori tanah dominan tertutupi oleh beton maupun aspal jalanan. Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat di kawasan padat penduduk, terutama area perkotaan. Selain itu, seringkali permukaan tanah juga menjadi tempat genangan air, yang mengindikasikan tidak adanya sistem drainase yang baik. Dampaknya, jika musim penghujan datang, beberapa kawasan tentu akan kembali langganan banjir.

Pada dasarnya, ada sebuah cara untuk mengatasi masalah ini. Misalnya, dengan membuat lubang biopori sederhana. Biopori adalah lubang silinder vertikal yang dibuat di dalam tanah, biasanya dengan diameter kurang lebih 10 cm dan kedalaman antara 80 hingga 100 cm. PIC Riset Air dan Tempat titip Sampah (TTS) Pusaka Indonesia Wilayah Bali, Dewa Gede Agung Ariawan, atau yang akrab disapa Degung, membagikan pengalamannya dalam mempraktikan biopori di lingkungan tempat ia tinggal dalam obrolan bersama RRI pada Beranda Astacita, pekan lalu. 

Menurut Degung, biopori merupakan  solusi tepat dalam mengatasi permasalahan tersebut secara efektif. Bahkan, sumur biopori bisa memberikan manfaat ganda. 

Baca juga: Langkah Nyata SMAN 44 Jakarta Wujudkan Sekolah Nol Sampah

Cara Pengaplikasian Biopori

Salah satu fungsi utama biopori adalah sebagai lubang resapan air hujan. Selain itu, biopori juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk pengolahan sampah rumah tangga yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai media tanam organik.

Di samping itu, kondisi tanah juga akan jauh lebih baik, karena pori-porinya terbuka. Lalu, cacing yang mendapat asupan makanan dari sampah organik yang terurai di dalam lubang biopori, akan berperan penting bagi proses penyuburan tanah. “Hal ini dapat membuat lingkungan semakin asri,” ungkap Degung.

Dibandingkan dengan sumur resapan, biopori jauh lebih praktis, terutama pada aspek ukuran dimensi maupun lokasinya. Sumur resapan tidak bisa ada di semua tempat, terutama di wilayah padat penduduk. Pembuatan sumur resapan perlu mempertimbangkan titik-titik yang lebih strategis karena ukurannya jauh lebih besar dari biopori. Inilah yang membuat biopori lebih praktis dipraktikkan oleh berbagai kalangan masyarakat sebagai solusi efektif pencegahan banjir maupun pengolahan sampah rumah tangga, agar tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di Bali sendiri, ungkap Degung, ada metode pengolahan sampah organik berbasis kearifan lokal bernama teba (bagian halaman belakang rumah), yang biasanya dijadikan tempat sampah organik diolah menjadi kompos. “Hal ini yang kemudian banyak dimodifikasi dengan lubang biopori menggunakan rapatan beton, dan sekarang lebih akrab disebut teba modern,” ungkapnya.

Satu lubang biopori, bisa menampung sampai 5 kg sampah organik dan membutuhkan waktu selama 1-2 bulan proses penguraian. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk membuat biopori lebih dari satu, agar bisa memberi ruang bagi sampah organik untuk terurai dengan sempurna. Jadi, ketika satu biopori telah terisi penuh, biopori yang lain bisa diisi sambil menunggu sampah organik di satu lubang biopori lain terurai dengan matang dan bisa dimanfaatkan sebagai kompos.

Degung juga menyarankan agar sampah organik yang dimasukan ke dalam lubang biopori dipotong kecil-kecil terlebih dahulu untuk mempercepat proses penguraian. Pembuatan Biopori pun, dianjurkan untuk  ditempatkan di lokasi yang banyak terdapat genangan air maupun tempat yang dilalui keran air hujan, agar proses drainase terjadi.

Agar manfaat biopori lebih optimal dan tahan lama, tentu diperlukan perawatan yang sesuai. Degung menyarankan agar biopori diberi rapatan beton supaya tidak amblas dan aman dilewati oleh pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor.

Baca juga: Langkah Sederhana untuk Mengurangi Timbunan Sampah di Momen Mudik Lebaran

Tantangan Dalam Mengedukasi Masyarakat

Selain banjir, problem masyarakat kita saat ini adalah seputar pengelolaan sampah rumah tangga. Menurut Degung, masyarakat masih beranggapan bahwa sampah merupakan tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. “Sampah rumah tangga tetap harus dapat dikelola secara mandiri. Jika hanya mengandalkan TPA saja, belum tentu sampah bisa terpilah dengan baik,” jelasnya.

Di samping itu, kita bisa melihat bahwa produksi sampah masyarakat makin tinggi dan bisa mengakibatkan TPA kewalahan. Pada akhirnya, sampah organik bisa saja tercampur dengan jenis sampah plastik lainnya. Untuk mencegah hal tersebut, diperlukan kesadaran masyarakat agar bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari rumah masing-masing. “Namun, membuat masyarakat mau serentak bertindak sadar memang tidak mudah. Biasanya mereka menggunakan kesibukan sebagai alasan,” tambahnya.    

Meski demikian, Degung tidak ingin menyerah. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia membuat strategi dan berusaha konsisten mengedukasi masyarakat. Ia mulai dengan menanamkan kebiasaan pada dirinya sendiri, keluarga, sambil terus melakukan pendampingan pada anak-anak sekolah. Ia berharap kesadaran masyarakat terpantik sehingga menciptakan lingkungan yang harmonis dengan alam secara berkelanjutan.

Degung juga mengingatkan masyarakat tentang tanggung jawab terhadap sampah milik sendiri. Baginya, sikap sadar merawat lingkungan akan terwariskan ke anak cucu ke depan. Ini merupakan keteladanan yang mesti disadari dan diikuti oleh semua pihak. Degung percaya bahwa gerakan yang dimulai dari diri sendiri, perlahan-lahan akan membuat masyarakat ikut menerapkannya. Basis gotong royong yang dimulai dari keteladanan yang konsisten, harus terus lestari dalam sikap sehari-hari masyarakat Indonesia. “Sampahku adalah tanggung jawabku, harus dikelola dengan bijak. Mari sama-sama menjaga Ibu Bumi tempat kita berpijak,” pungkasnya.

 

Erna Setiani
Kader Pusaka Indonesia Jawa Barat

Sumber referensi:

  1. MENGENAL TEBA MODERN, SISTEM PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK BERBASIS RUMAH TANGGA YANG MUDAH DIAPLIKASIKAN. – DLHK MAMUJU
  2. Teba Modern: Inovasi Pengelolaan Sampah Organik Menuju Zero Waste di Desa Adat Cemenggaon, Bali – Warung Sains Teknologi
  3. 5 Penyebab Berkurangnya Daerah Resapan Air dan Penjelasannya – IlmuGeografi.com

Reaksi Anda:

Loading spinner