Pada 2024 lalu, UNESCO menetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia (Intangible Cultural Heritage). Kebaya menjadi milik dunia, khususnya Asia Tenggara, bukan menjadi milik Indonesia semata. Banyak yang bertanya-tanya, ada pula yang memprotes. Bukankah kebaya adalah pakaian tradisional khas milik Indonesia? Nyatanya, pengusulan ke UNESCO, memang bukan dilakukan oleh Indonesia sendirian, melainkan bersama empat negara tetangga lainnya: Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Inisiatif ini dimulai oleh Malaysia, lalu Indonesia menyatakan diri ikut bergabung. 

Sejumlah kajian mencatat bahwa leluhur Nusantara mulai menggunakan kebaya pada akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15, ketika jalur perdagangan mulai terbuka. Konon, gaya pakaian kebaya diperkenalkan pertama kali oleh para pedagang dari Arab, Portugis, hingga Tiongkok. Banyak yang menyatakan – atas nama keinginan mengklaim kebaya sebagai milik kita – bahwa leluhur Nusantara telah menggunakan kebaya jauh sebelum itu. Sayangnya, kita belum menemukan sebuah bukti otentik. Relief pada candi-candi kuno, yang dijadikan sebagai salah satu patokan dan bukti sejarah, pun belum memperlihatkan itu. Pada relief-relief tersebut, para perempuan digambarkan masih menggunakan kemben.

Baca juga: Pesan Kehidupan di Balik Sehelai Batik Motif Fauna

Jika menyelidiki lebih jauh, maka kita akan menemukan bahwa jalur perdagangan di abad 15 hingga 16, juga melintasi wilayah Malaysia, Thailand Selatan, Singapura, dan Brunei. Jadi, catatan sejarah yang mengatakan bahwa kebaya diperkenalkan pertama kali oleh para pedagang di era tersebut, mungkin ada benarnya. 

Seiring waktu, kebaya kemudian digunakan sebagai pakaian sehari-hari, terutama pada masa kolonialisme. Banyak dokumentasi dalam bentuk arsip, foto, serta catatan perjalanan yang membuktikan ini. Meskipun, belum jelas apakah awal masa penjajahan adalah masa awal penggunaan kebaya.

Kebaya hadir menjadi identitas para pegiat UMKM di Gemah Ripah Nature's Corner

Kebaya hadir menjadi identitas para pegiat UMKM di Gemah Ripah Nature’s Corner

Kebaya menjadi istimewa karena proses pembuatannya yang tidak mudah. Dibutuhkan kecermatan dan keterampilan khusus dalam memilih jenis kain, desain, pemotongan kain, pemilihan aksesoris, serta dalam menjahit dan menyulam. Di Indonesia, keterampilan ini umumnya diwariskan turun temurun, dari generasi ke generasi. Seiring waktu, bermunculan berbagai jenis dan model kebaya yang mewakili berbagai etnis, budaya, dan generasi. Sebutlah misalnya kebaya kutubaru, kebaya kartini, kebaya encim, kebaya janggan, kebaya bali, hingga berbagai model kebaya modern hasil inovasi para perancang busana. 

Setelahnya, hingga puluhan tahun lamanya kebaya menjadi identitas bangsa kita. Simbol seorang perempuan yang kuat, tegas, namun juga lembut. Bahkan, Presiden Sukarno pada tahun 1950-an menetapkan kebaya sebagai busana nasional, sebagai simbol pemersatu keragaman budaya. Popularitas kebaya memudar seiring perkembangan globalisasi. Dunia digital membuat informasi sangat terbuka dan menyebar dengan cepat. Generasi selanjutnya dibuat takjub oleh mode, yang memperlihatkan berbagai gaya berpakaian yang nampak modern. Pakaian tradisional dianggap kuno, dilupakan perlahan, tersimpan di lemari dan hanya dicari saat hari perayaan dan upacara-upacara tradisional. 

Perdebatannya saat ini, bukan lagi pada siapa yang sebenarnya paling berhak mengklaim kebaya. Saatnya kita memperluas cakrawala pandang. Mari kita tetap bangga menggunakan kebaya yang menjadi ciri khas bangsa kita. Biarlah kebaya kartini, kebaya nyonya, hingga kebaya encim, memperkaya jenis-jenis kebaya yang ada di Asia Tenggara lainnya. Biarlah kebaya yang menjadi ciri khas bangsa kita menjadi semakin dikenal luas, juga dicintai oleh generasi muda dan anak-anak kita. 

Baca juga: Lestarikan Wastra, Upaya Pengembalian Jati Diri Bangsa

Memang, saat ini penggunaan kebaya dalam aktivitas sehari-hari tampak mulai digalakkan. Makin banyak yang sadar bahwa penggunaan kebaya adalah salah satu cara untuk menghargai warisan leluhur. Seperti yang dilakukan oleh Bidang Seni Budaya Pusaka Indonesia lewat kegiatan pengenalan wastra yang dilakukan secara reguler. Kebaya menjadi busana yang umum digunakan dan selalu pas dipadupadankan dengan batik maupun kain wastra lainnya.

Sudah lama bangsa kita kehilangan jati diri. Pakaian tradisional dan kebaya hanya satu dari sekian banyak mozaik yang hilang dan pudar. Mari kita mencintai kebaya, tidak hanya dalam rangka hari peringatan, tapi untuk menguatkan kembali jati diri bangsa kita. Menghidupkan kembali simbol kekuatan dan keanggunan para perempuan Nusantara yang sudah ada sejak jaman dahulu.

 

Aniswati Syahrir
Kontributor Bidang Riset dan Kajian Pusaka Indonesia

Daftar Pustaka: 

  1. https://ich.unesco.org/en/RL/kebaya-knowledge-skills-traditions-and-practices-02090
  2. https://asianews.network/unesco-grants-kebaya-intangible-cultural-heritage-status-after-noms-from-spore-malaysia-indonesia-brunei-thailand/
  3. https://internasional.kompas.com/read/2023/03/13/191200670/sejarah-dan-asal-usul-kebaya-warisan-banyak-budaya-di-asia-tenggara
  4. https://kulturalindonesia.id/kebaya-simbol-sejarah-budaya-indonesia/

Reaksi Anda:

Loading spinner