Bagi pecinta wastra Nusantara, memilih batik pasti ditentukan oleh jenis yang beragam dan motifnya yang indah penuh warna. Jenis motif batik, ternyata tidak hanya ditentukan dari daerah di mana batik tersebut dibuat, melainkan juga makna dan nilai apa yang ingin disampaikan di baliknya.
Mungkin kita pernah menyaksikan batik dengan motif yang diadaptasi dari alam, seperti bunga-bungaan dan tanaman. Jenis ini disebut juga dengan batik motif flora. Beberapa jenis motif flora yang terkenal adalah buketan, pring sedapur, simbut, dan lung lungan. Lantas, bagaimana kisah motif tersebut bisa muncul dan apa makna di baliknya?
Batik Buketan

Batik motif buketan. Sumber: batikprabuseno.com
Batik buketan merupakan salah satu contoh akulturasi budaya dalam tradisi batik pesisir, terutama di Pekalongan. Namanya berasal dari kata Prancis bouquet, yang berarti rangkaian bunga. Motif ini berkembang melalui perjumpaan budaya pada masa kolonial, dengan pengaruh visual Eropa yang diolah oleh para pembatik lokal dan perajin batik Peranakan. Ciri khasnya berupa rangkaian bunga dengan detail yang kaya, kerap dipadukan dengan burung, kupu-kupu, atau unsur tumbuhan lainnya.
Pring Sedapur

Batik motif pring sedapur. Sumber: batikprabuseno.com
Pring Sedapur merupakan motif batik khas Magetan yang berkembang di Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan. Kata pring berarti bambu, sedangkan sedapur merujuk pada serumpun. Inspirasi motif ini berkaitan erat dengan lingkungan Sidomukti yang dikenal memiliki banyak tanaman bambu, terutama di Dusun Papringan. Dalam pemaknaan simbolis yang berkembang, rumpun bambu dapat menjadi gambaran kebersamaan, gotong-royong, ketahanan, dan kemampuan untuk hidup berdampingan. Sidomukti, daerah asal motif ini, memang dikenal sebagai desa penghasil bambu.
Simbut

Batik motif simbut. Sumber: batikprabuseno.com
Simbut dikenal sebagai salah satu motif batik yang dikaitkan dengan Banten dan masyarakat Badui. Ciri visualnya berupa bentuk daun yang menyerupai daun talas, dengan corak sederhana yang disusun berulang.
Nama Simbut juga dikenal dalam tradisi kain Badui yang menggunakan pasta beras ketan sebagai perintang warna. Kain tradisional tersebut didokumentasikan dalam koleksi Museum Nasional Indonesia, namun simbut yang dimaksud di sini berbeda dengan perkembangan motif talas.
Lung Lungan

Batik motif lung lungan, salah satu koleksi Museum Batik Indonesia. Sumber: artsandculture.google.com
Lung-lungan merupakan ragam hias yang menampilkan sulur, daun, dan bunga yang saling terhubung. Ragam hias ini dijumpai dalam berbagai karya seni tradisional Jawa, termasuk batik dan ornamen keraton. Bentuknya yang menjalar dan terus bercabang dapat dimaknai sebagai gambaran pertumbuhan, kesinambungan, dan harapan akan kehidupan yang subur. Pemaknaan tersebut dapat berbeda menurut desain, daerah, dan konteks penggunaannya.
Baca juga: Menggali Batik Sudagaran, Modifikasi Motif Keraton yang Mewarnai Keberagaman Budaya
Pusaka Indonesia turut melakukan upaya pelestarian batik dan mengajak masyarakat untuk mengenali makna dari setiap motifnya. Berkolaborasi dengan seorang pakar dan kurator wastra senior, Sri Sintasari Iskandar, Pusaka Indonesia secara rutin menggelar acara Talkshow Wastra dengan topik-topik menarik. Pada 14 November 2026 mendatang, Pusaka Indonesia akan kembali menggelar talkshow berjudul “Flora Bertutur: Jejak Alam dalam Wastra Nusantara”.
Tertarik mengenali lebih banyak motif batik flora dan maknanya? Pusaka Indonesia mengundang Anda untuk bergabung. Hubungi Admin untuk pendaftaran dan info lebih lengkap di 0852-5917-5500 atau kunjungi akun Instagram Pusaka Indonesia di:
Anis Syahrir
Kader Pusaka Indonesia DKI-Banten
Reaksi Anda:






