Banjir Sumatera yang melanda kawasan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di penghujung November 2025 menunjukkan kuatnya hubungan antara deforestasi dan kerusakan ekosistem air. Peristiwa ini terasa seperti tamparan alam yang berbisik, “Hei, sadar nggak sih ada yang berubah?” Ini adalah akumulasi panjang dari cara kita memperlakukan alam selama bertahun-tahun.
Permasalahan Struktural: Deforestasi dan Pengelolaan Lahan
Hutan yang dulunya menjadi penyangga alami air dan penahan erosi kini banyak yang hilang atau rusak akibat pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, serta proyek pembangunan yang minim pertimbangan ekologis. Data global dari FAO menunjukkan bahwa meskipun laju deforestasi dunia mengalami perlambatan, angka kehilangan hutan masih sangat tinggi, yakni 10,9 juta hektar per tahun.
Sementara itu, Global Forest Watch mencatat bahwa sepanjang 2002–2024 Indonesia kehilangan sekitar 10,7 juta hektar hutan primer basah. Ini merupakan alarm keras. Pembukaan lahan masih terus berlangsung, sementara kualitas ekologis di banyak wilayah terus menurun.
Hutan yang dahulu menjadi penyangga kehidupan perlahan berubah menjadi ruang kosong yang rapuh. Ketika hutan hilang, dampaknya tidak berhenti pada sekadar “berkurangnya pohon”. Air hujan yang sebelumnya diserap perlahan kini langsung menghantam tanah, menyeret apa pun yang tak lagi diikat oleh akar. Lereng menjadi labil, air bah mengalir tanpa kendali, dan satu hujan lebat saja cukup untuk berubah menjadi bencana.
Deforestasi juga menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati. Flora dan fauna kehilangan habitatnya, bahkan sebelum kita sempat mengenal dan memahaminya. Masyarakat yang hidup di sekitar hutan pun kehilangan sumber penghidupan, mulai dari pangan hingga air bersih. Semua ini saling terhubung: ketika hutan runtuh, ekosistem ikut goyah, dan manusia pada akhirnya menerima dampaknya.
Baca juga: Metode Miyawaki: Solusi Membangun Hutan dengan Cepat di Lahan Sempit
Rusaknya Ekosistem Air
Bencana di Sumatera datang sebagai pengingat yang pelan namun menohok: ada sesuatu yang selama ini kita abaikan. Tanah yang dahulu kokoh karena terikat akar kini berdiri sendirian—kering dan rapuh. Saat hujan deras turun, tanah tak lagi memiliki kekuatan untuk bertahan; ia runtuh, menyeret apa pun yang ada di bawahnya. Sungai pun kehilangan kendali. Air yang dahulu memberi kehidupan kini justru membawa kecemasan.
Banjir dan longsor di Sumatera bukanlah “musibah musiman” yang datang lalu pergi. Ia lebih menyerupai rapor merah yang membuka mata atas kerusakan masif yang selama ini dibiarkan. Bertahun-tahun hutan dialihfungsikan, lereng digunduli, dan aliran air diubah. Ketika hujan deras turun, alam hanya menjalankan logika paling dasar: yang hilang akan menuntut keseimbangan.
Dalam hitungan jam, rumah hanyut, jalan terputus, dan sawah tertimbun lumpur. Namun kerusakan fisik hanyalah awal. Dampak banjir menjalar lebih jauh. Air bersih yang dulu mudah diakses tiba-tiba lenyap. Mata pencaharian yang bergantung pada tanah dan air terhenti seketika. Ketidakpastian pun menjadi bagian dari keseharian warga terdampak.
Baca juga: Kisah di Balik Inisiasi Pembangunan Hutan Bambu di Malang Selatan
Peran Masyarakat dan Aksi Pusaka Indonesia
Meski situasinya berat, masih ada harapan dari upaya-upaya pemulihan yang dilakukan berbagai pihak. Di Pusaka Indonesia ada gerakan yang berfokus pada pelestarian alam, pengelolaan sampah, konservasi air, dan restorasi lahan rusak melalui pendekatan yang membumi dan memberdayakan masyarakat.
Pusaka Indonesia tidak hanya menanam pohon, tetapi juga membangun kembali hubungan antara manusia, tanah, air, dan masa depan. Gerakan penanaman bambu dan beringin menjadi salah satu contoh konkret. Bambu memiliki sistem akar rapat yang efektif menahan erosi dan menyerap air, sangat sesuai untuk daerah kritis dan tepian sungai. Sementara beringin berperan sebagai penyangga alami di kawasan rawan longsor, dengan akar udara yang membantu menjaga stabilitas tanah.
Upaya rehabilitasi ini tidak hanya memulihkan fungsi ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi lokal, terutama melalui pemanfaatan bambu untuk kerajinan dan kebutuhan masyarakat setempat.
Melalui gerakan semacam ini, kita diingatkan bahwa perbaikan lingkungan bukan semata tanggung jawab pemerintah atau lembaga besar, melainkan pekerjaan bersama yang bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana dan konsisten. Deforestasi bukan sekadar isu lingkungan; ia adalah persoalan hidup manusia. Ketika hutan menyusut, bencana tidak lagi terasa jauh. Ia mengetuk pintu rumah kita sendiri.
Lewat inisiatif seperti Pusaka Indonesia dan berbagai gerakan kolektif lainnya, peluang untuk memperbaiki masih terbuka. Menanam kembali hutan berarti menanam kembali harapan, untuk air yang cukup, tanah yang stabil, dan lingkungan yang lebih aman bagi generasi mendatang.
Menjaga hutan bukan pilihan idealis. Ini kebutuhan dasar. Dan ini adalah tanggung jawab kita bersama. Sekarang… bukan nanti!
Baca juga: Pembukaan Hutan Surgawi Malang dengan Vegetasi Utama Bambu
Theo Roberto
Kader Pusaka Wilayah Yogyakarta
Sumber:
- Mongabay Indonesia – Laporan FRA Kehilangan Hutan Global
- Laporan Global Forest Resources Assessment 2025 FAO
- Global Forest Watch
Sumber foto: mongabay.co.id
Reaksi Anda:




