Sebelum mengenal beras dan gandum, nenek moyang kita sudah terlebih dulu mengkonsumsi dan membudidayakan sorgum sebagai makanan pokok yang bergizi dan berserat tinggi. Sorgum merupakan tanaman serealia yang dimanfaatkan bagian biji atau grain-nya. Masih satu famili dengan gandum, bedanya, biji sorgum  berbentuk bulatan kecil, tidak memiliki kulit. Sorgum memiliki varietas beragam. Di sini, kita bisa temui sorgum jenis beras dan ketan. Dari sisi warna, ada sorgum putih, merah, cokelat, dan hitam.

Tetapi, dengan adanya kebijakan untuk menjadikan beras/nasi sebagai sumber karbohidrat utama dan ekspansi besar-besaran, membuat sorgum kehilangan pamornya dan dilupakan.

Namun, sekarang keberadaannya mulai dilirik sebagai alternatif pengganti beras dan gandum yang mulai terbatas pasokannya. Selain itu, sorgum juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki beras maupun gandum, antara lain bisa tumbuh di tanah yang kering dan dengan perawatan yang sangat mudah. Sorgum bisa ditanam di lahan luas, maupun di lahan kecil dengan menggunakan pot, juga bisa dipanen lebih dari satu kali berbeda dengan padi yang hanya sekali panen saja dan harus tanam ulang.

Baca juga: Kenangan Sorgum dari Masa Kecil Sri Suharti dan Upaya Menghidupkan Kembali Sorgum ke Meja Makan

Selain kaya akan nutrisi, sorgum juga mempunyai potensi ekonomi yang tidak bisa dianggap remeh. Bijinya bisa diolah sebagai pangan pengganti beras ataupun gandum. Daunnya merupakan bahan baku pakan ternak. Batangnya bisa jadi sumber nira untuk bahan baku gula sorgum, sirup, bioetanol (sumber energi ramah lingkungan), pakan ternak, dan pupuk. Akarnya punya khasiat herbal. Sorgum yang diolah sebagai tepung, bisa menjadi pengganti gandum, sumber pangan bebas gluten yang aman bagi penderita yang tidak toleran gluten.

Dengan begitu banyaknya manfaat dan potensi yang dimiliki, maka Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan – Pusaka Indonesia, menginisiasi Riset Sorgum Organik di Lahan Kritis, sebagai misi untuk ketahanan pangan sekaligus juga memulihkan tanah yang sakit. Gerakan yang dimotori oleh Akademi Bumi Lestari – subbidang di bawah naungan Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan ini, memulai dengan menggarap lahan rusak bekas galian tambang di Cibulan, Jawa Barat, dan melibatkan kader-kader Pusaka Indonesia wilayah DKI Banten, Jawa Barat dan juga kader dari wilayah lain.

Penelitian yang sepenuhnya dibiayai oleh swadaya kader-kader Pusaka Indonesia ini, bertujuan untuk kegiatan riset metode budidaya sorgum yang paling efektif dan adaptif untuk lahan kritis, meningkatkan produktivitasnya, sekaligus juga sebagai model percontohan untuk pengembangan sorgum di lahan-lahan marginal lainnya yang dikembangkan oleh Pusaka Indonesia.

Baca juga: 10 Hal tentang Sorgum yang Membuatnya Naik Daun

Langkah pertama diawali dengan penanaman benih Sorgum jenis merah yang mempunyai masa panen sekitar 7 bulan, sekitar awal Agustus 2025. Kemudian dilakukan sulam tanam di pertengahan September 2025 karena ada beberapa benih yang mati. Gerakan ini juga akhirnya diikuti oleh beberapa kader Pusaka Indonesia di wilayah lainnya dengan mencoba menanam sorgum di Kebun Surgawi (KS) wilayah masing-masing dalam skala kecil. 

Upaya ini diharapkan bisa memberikan solusi atas kebutuhan akan bahan makanan yang  bergizi lengkap, dan aman untuk dikonsumsi. “Juga sebagai upaya untuk mendukung Ketahanan Pangan, melalui sistem penanaman yang selaras dengan alam sehingga bisa menghasilkan pangan sehat yang dihasilkan dari tanah yang sehat.” Demikian ungkap Ni Kadek Dwi Noviyani, Koordinator Bidang Sigma Farming Academy.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi Pusaka Indonesia melalui Facebook, Instagram, kanal Youtube Bumi Surgawi, dan Website Pusaka Indonesia

 

Ni Wayan Agustini
Kader Pusaka Indonesia Bali & Sekitarnya

Reaksi Anda:

Loading spinner