Banyak pengusaha pemula yang bersemangat, justru terhenti oleh hambatan psikologis berupa rasa takut, ragu, dan kebingungan dalam melangkah. Dalam Siaran Obrolan Komunitas di RRI Pro 1 Jakarta, Wening Fikriyati, wirausahawan sekaligus kader Social Entrepreneur Academy (SEA) Pusaka Indonesia, berbagi pengalaman personal serta praktik pendampingan wirausaha sosial yang selama ini ia jalani.
Mental block dalam berwirausaha secara nyata telah menghambat kemajuan bisnis secara tak kasat mata. Kurangnya modal atau strategi bisnis yang tidak tepat bukanlah faktor utama yang membuat bisnis menjadi mandek. Ada berbagai faktor psikologis yang dialami pengusaha pemula yang tampak biasa namun mengganggu pertumbuhan usaha, antara lain takut salah, trauma kegagalan di masa lalu, perfeksionisme berlebihan, rasa malu mempromosikan produk.
Baca juga: Workshop SEA: Meningkatkan Branding Usaha Melalui Keunikan Produk
Mengubah Cara Pandang terhadap Kegagalan
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam siaran ini adalah perlunya mengubah cara pandang terhadap kegagalan dan keterbatasan diri. Kegagalan tidak selalu berarti kerugian, melainkan biaya pembelajaran yang harus dibayar untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang tidak bisa didapatkan hanya dari teori.
Wening juga menekankan pentingnya growth mindset atau pola pikir bertumbuh, agar pelaku usaha mampu melihat proses jangka panjang dan tidak terjebak pada keinginan atas hasil instan. Dengan mindset ini, setiap tantangan dipandang sebagai bagian dari perjalanan yang menguatkan diri, bukan alasan untuk berhenti.
Memulai Langkah Kecil yang Realistis
Lalu, bagaimana membedakan mental block yang bersifat psikologis dengan kendala bisnis yang memang realistis? Caranya adalah berani jujur pada diri sendiri dan menggali akar masalah secara lebih dalam. Sering kali, masalah usaha yang terlihat di permukaan seperti produk tidak laku atau omzet stagnan yang ternyata berakar dari faktor internal, misalnya kurang promosi, malas belajar, atau takut bertanya pada orang yang lebih berpengalaman. Dengan mengakui kekurangan tersebut, pelaku usaha dapat mulai mencari solusi yang lebih tepat dan terukur.
Setelah jujur pada diri sendiri, seorang pengusaha juga harus mau melampaui sikap perfeksionis yang justru berkebalikan dengan sikap realistis. Kecenderungan untuk menunggu segala sesuatu sempurna seringkali justru membuat seseorang tidak kunjung memulai. Menerima diri apa adanya, mensyukuri modal yang tersedia, dan memulai dari skala kecil adalah langkah awal yang jauh lebih penting daripada menunggu kondisi ideal yang belum tentu datang.
Baca juga: Berdaya dan Berdikari Menjadi Wirausahawan Sosial yang Sukses
Peran Komunitas Pusaka Indonesia dan Mentor Social Academy Entrepreneur
Peran komunitas dan mentor mendapat perhatian khusus dalam siaran ini. Melalui pendampingan, diskusi dan ruang berbagi, seorang pengusaha pemula dapat menyadari pola pikir yang keliru, mendapatkan sudut pandang baru, serta membangun kepercayaan diri. Komunitas Pusaka Indonesia bisa menjadi ruang aman untuk belajar bersama, saling menguatkan, dan mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Bagi wirausahawan sosial, ekosistem seperti ini sangat penting karena usaha yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga pada nilai, idealisme, serta dampak sosial dan lingkungan.
Di Social Entrepreneur Academy (SEA) para mentor mengajak wirausahawan sosial untuk mengenali dan menghargai talenta yang dimiliki sebagai modal yang berharga untuk memulai sebuah bisnis. Selain itu, pola pikir yang konstruktif dan karakter yang positif juga merupakan “modal” yang harus terus dijaga dan ditingkatkan sehingga kita tidak melulu berpikir akan kekurangan modal secara finansial. Melalui kegiatan-kegiatan seperti Workshop Vitamin SEA dan SEA Coaching Clinic, nilai-nilai konstruktif terus ditanamkan pada diri kader SEA. Ketangguhan, kerendahan hati dalam belajar, ketulusan, merupakan nilai-nilai yang harus ditumbuhkan dalam diri wirausahawan sosial saat menapaki perjalanannya menjadi pengusaha yang sukses.
Di akhir siaran, Wening menyampaikan pesan reflektif bagi para pengusaha pemula agar tidak membatasi diri dengan segala keterbatasan diri. Dengan keberanian untuk memulai, kesiapan untuk belajar dari proses, serta dukungan komunitas yang tepat, setiap orang memiliki potensi untuk melangkah dan berkembang dalam berwirausaha sosial. Kolaborasi Pusaka Indonesia dengan RRI melalui Obrolan Komunitas ini diharapkan dapat menjadi penguat langkah bagi siapa pun yang sedang atau ingin memulai perjalanan usahanya.
Wisnu Aji Negara
Kader Pusaka Indonesia Wilayah DKI-Banten
Reaksi Anda:




