“Produk saya gampang patah.” 

“Expired date-nya hanya dua bulan.” 

“Seal aluminium-nya susah merekat.” 

“Kadang saya sendiri masih merasa malu untuk memulai.”

Beragam cerita dan persoalan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi para pelaku usaha yang mengalaminya, ini menjadi tantangan besar yang bisa menghalangi untuk melangkah maju. Di titik inilah Program Coaching Clinic Social Entrepreneur Academy (SEA) hadir untuk memberi pendampingan dan menemukan jalan keluar. 

Coaching Clinic ini merupakan salah satu program unggulan SEA, yang berjalan di tahun ini – 2026, dan saat ini menjadi program reguler bulanan. Tujuannya memberikan pendampingan secara online maupun offline untuk para pengusaha yang menjadi kader. Para mentor SEA berupaya agar tantangan apa pun yang dihadapi kader, tidak menjadi penghalang untuk maju, namun menjadi pembelajaran untuk terus bertumbuh.

Baca juga: Berdaya dan Berdikari Menjadi Wirausahawan Sosial yang Sukses

Ketika Masalah Ternyata Bukan pada Produk

Salah satu cerita datang dari Agus Nindia, yang memiliki produk jamu dengan brand Bunga Berawan. Ketika pertama kali mendaftar coaching clinic, ada rasa malu untuk menceritakan persoalan usahanya. Ada mental block dalam dirinya yang membuat usaha yang sudah lama direncanakan belum dijalankan secara maksimal. 

Beberapa kendala ia sampaikan adalah belum memiliki testimoni terhadap produk, menganggap usaha tersebut ‘keranjang kedua’, serta merasa belum memiliki jaringan pasar. Ia juga merasa kesulitan melakukan penjualan dengan cara canvassing (metode penjualan secara langsung dengan mendatangi calon konsumen) karena harus membawa anaknya yang masih kecil.

Melalui kegiatan coaching, Agus Nindia dan peserta lain diajak kembali melihat potensi produknya. Mulai dari menemukan passion, mengenali keunikan produk, menentukan target pasar, memperluas jaringan, mencari reseller, hingga mendapatkan testimoni dari konsumen.

Masukan dari mentor pun membuka cara pandang baru. Hal yang selama ini dianggap kendala ternyata masih dapat dicari jalan keluarnya. Peserta yang selama memiliki mental block menjadi lebih berani untuk mencoba. “Feedback yang diberikan membuka banyak mental block dalam diri saya, terutama tentang passion dan metode penjualan dengan sistem reseller,” tutur Agus.

Ujicoba Berulang dan Minta Feedback Pelanggan

Tantangan juga dirasakan peserta lain yang memiliki produk makanan. Beberapa menyampaikan permasalahan terkait makanan mudah remuk, masa kadaluwarsa yang relatif pendek, seal alumunium yang kurang merekat, serta penggunaan selotip yang belum rapi. Untuk kondisi ini, para mentor mendorong peserta untuk melakukan uji coba berulang hingga mendapatkan hasil yang lebih baik.

Dari proses tersebut terlihat bahwa pengembangan produk membutuhkan kemauan untuk terus mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki. Selain belajar dari mentor, para kader yang mengikuti coaching clinic juga bisa belajar dari pengalaman sesama peserta. Cerita satu peserta dapat menjadi pembelajaran bagi peserta lainnya. Masalah yang dialami seseorang bisa menjadi inspirasi bagi yang lain untuk melakukan perbaikan pada usahanya sendiri.

Hal lain yang menjadi pembelajaran dari coaching clinic adalah pentingnya feedback konsumen. Peserta didorong untuk melakukan riset sederhana melalui umpan balik konsumen. Dengan mendengarkan masukan dari konsumen, pelaku usaha dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasar, bukan hanya berdasarkan asumsi. Feedback tersebut dapat diperoleh secara langsung maupun melalui survei.

Baca juga: Workshop SEA: Meningkatkan Branding Usaha Melalui Keunikan Produk

Produk Mbah Kung yang dipasarkan di Gemah Ripah Natures Corner

Produk Mbah Kung yang dipasarkan di Gemah Ripah Natures Corner

Peluang Baru di Tengah Tantangan

Coaching Clinic juga diwarnai dengan kabar menggembirakan dari salah satu peserta. Produk Mbah Kung lolos kurasi untuk ditampilkan dalam iklan Program Close the Door, sebuah channel podcast Youtube populer besutan Deddy Corbuzier. Kesempatan ini tentunya akan menjadi sebuah peluang besar untuk semakin mengenalkan produk Mbah Kung. Apalagi, video podcast Close The Door rata-rata mampu menarik jutaan views. 

Mbah Kung, merupakan produk minuman kesehatan berbahan herbal yang diciptakan oleh Aprianti Rahma Saumi dan Edoardo Nanda Satria. Beberapa produknya yang populer adalah sari jahe merah, sari jahe emprit, dan kunyit asam. Produk-produk tersebut bisa didapatkan di Gemah Ripah Nature’s Corner. 

Keberhasilan Mbah Kung lolos kurasi, tidak lantas menghentikan proses belajar, melainkan justru menjadi momentum untuk terus melakukan evaluasi, riset pasar, dan mengembangkan produk agar semakin sesuai dengan kebutuhan pelanggan. April juga terus berusaha melakukan perbaikan dan mengajukan pendampingan khusus dengan mentor SEA untuk konsultasi. “Kami mengajukan meeting khusus dengan tim SEA, baik terkait produk terbaru kami maupun segala ganjalan yang harus diselesaikan,” tuturnya. 

Coaching Clinic SEA Batch 5 mengajarkan bahwa tantangan dalam berusaha tidak selalu menjadi penghalang. Tantangan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan menemukan cara baru. Semoga semangat para peserta Coaching Clinic SEA dapat terus berlanjut menjadi langkah nyata dalam mengembangkan usaha masing-masing dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

 

Widya Rahmadani
Kader Pusaka Indonesia

Reaksi Anda:

Loading spinner