Ruang pameran Museum Tekstil Jakarta, Sabtu 4 April 2026, tidak sekadar menjadi tempat koleksi kain tersimpan. Ia menjelma panggung hidup tempat pengetahuan mengalir deras, di mana generasi muda, para pengajar, serta pecinta wastra dan budaya duduk bersama menyimak kisah yang terukir di setiap helai wastra Nusantara.
Talkshow yang diselenggarakan Bidang Seni Budaya Pusaka Indonesia kali ini bertajuk “Fauna yang Bercerita: Rahasia Motif Batik di Kehidupan Kita”. Memasuki sesi ke-7, jumlah peserta justru terus bertambah hingga mencapai 162 orang, membuktikan bahwa dahaga masyarakat akan pengetahuan wastra belum pernah padam. Hadir pula para siswa dari sekolah, seperti SMKN 23, SMKN 58, SMKN 70, Sekolah Cikal, dan beberapa sekolah lainnya, termasuk sekolah dari jurusan Kriya atau Mode, seperti Lasalle College, ESMOD, dan FSRD IKJ. Acara ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai daerah secara online.
Pakar sekaligus kurator wastra, Sri Sintasari (Neneng) Iskandar, membuka wawasan peserta tentang keragaman motif batik Nusantara melalui kacamata fauna: hewan-hewan yang tidak hanya hidup di alam, tetapi juga abadi dalam lembaran kain. Dari motif ayam, kupu-kupu, gajah, naga, hingga kelabang, setiap gambar menyimpan filosofi mendalam yang berakar dari tradisi, adat, dan kearifan lokal.
Beberapa motif fauna yang diulas secara mendalam di antaranya, motif Nitik Cakar dari Mangkunegaran, yang mengajarkan semangat bekerja keras layaknya ayam mencakar tanah dan dikenakan pengantin saat siraman, sebagai pengingat bahwa pernikahan adalah awal dari sebuah tanggung jawab baru. Lalu ada motif Babon Angrem, simbol induk ayam mengeram yang melambangkan perlindungan tulus bagi jabang bayi dan biasanya dipakai dalam ritual mitoni tujuh bulanan dalam tradisi Jawa. Ada juga motif Kelabang Kencono, melambangkan pengingat bahwa tidak ada ciptaan yang sia-sia — jauh sebelum penisilin ditemukan, racun kelabang yang direndam alkohol telah menjadi obat rakyat. Selanjutnya ada Gajah Birowo dari Lampung, yang menggambarkan gajah sebagai tunggangan raja menuju alam selanjutnya, di mana birowo bermakna besar dan gagah sebagai lambang kepemimpinan yang berwibawa. Serta ada motif Naga Nusantara — berbeda dari naga Tiongkok — yang hadir tanpa kaki namun bermahkota, sebagai lambang penjaga keseimbangan alam semesta dan pengingat bagi manusia untuk hidup selaras dengan tatanan alam.
Baca juga: Motif Batik Burung Hong: Harmoni Budaya dalam Sehelai Kain

TalkShow Wastra Batik Fauna di Museum Tekstil Jakarta
Selain mengulas motif, Neneng juga mengupas cara membedakan batik tulis asli dari tekstil print bermotif batik yang kini banyak beredar dari luar negeri dengan harga lebih murah. Peserta pun diajak untuk jeli, sadar, dan bangga memakai karya tangan para pengrajin batik Nusantara. Tak hanya itu, ia juga berbagi tentang aturan pemakaian kain dan sarung dalam berbagai budaya daerah — dari cara meletakkan wiron, perbedaan arah hadap kepala sarung di pesisir Jawa versus pedalaman, hingga filosofi wiron di tengah yang melambangkan kejantanan dalam tradisi Jawa.
“Berpakaian bukan sekadar penutup tubuh,” ungkap Neneng. “Tetapi menyampaikan siapa kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kita hadir.”
Di antara peserta hadir Winston SJ dari Universitas Bina Nusantara (BiNus) dan Alexandra Noelle Muliadi dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang mengaku sesi talkshow masih terasa kurang (lama waktunya). Sementara itu, Rahayu Pratiwi, pengajar Program Studi Seni Kriya Institut Kesenian Jakarta (IKJ), hadir dengan motivasi yang berbeda. Ia ingin memelihara semangat dalam dirinya untuk terus mencintai dan melestarikan warisan budaya bangsa.
Keistimewaan talkshow kali ini terletak pada lokasinya yang berada langsung di ruang pameran Museum Tekstil. Para peserta dapat menyimak materi sambil memandang koleksi kain bersejarah yang dipajang di sekeliling mereka — sebuah pengalaman belajar yang tak tergantikan oleh ruang kelas mana pun.
Baca juga: Mengenal Batik, Ragam Hias dan Filosofinya
Tya Sumarsono selaku Ketua Pelaksana menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas antusiasme yang terus tumbuh dari sesi ke sesi. Wakil Sekretaris Jenderal Pusaka Indonesia, Nyoman Suwartha, turut menegaskan semangat yang sama. Melalui wadah Pusaka Indonesia, api untuk mengenal, mencintai, dan merawat wastra sebagai jati diri bangsa akan terus dijaga menyala.
“Berpakaian kebaya dan wastra merupakan aksi nyata semangat Trisakti, berkepribadian sesuai jati diri bangsa,” tutur Nyoman Suwartha.
Talkshow wastra Pusaka Indonesia ini terbuka untuk masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin mengenal lebih dalam kekayaan wastra Nusantara. Ikuti terus informasi kegiatan selanjutnya di website Pusaka Indonesia.
Ata Triastuti dan Ficky Yusrini
Kader Pusaka Indonesia Jawa Barat
Reaksi Anda:




